
Kara memulai hari dengan menyiapkan kopi untuk dirinya. Ya... ini hari Jumat, Kara berencana mengundang Kevin ke rumah dan membuat pancake sesuai janjinya.
Mike melihat perubahan pada wajah Kara yang ceria akhir akhir ini, "Seperti nya sedang ada yang jatuh cinta di sini?" Mike berdiri di depan meja kerja Kara.
"Hmmmmm...Tuan pembuat gosip, tolong menjauh lah dariku!" balas Kara sambil mengacungkan pena di dada Mike.
"Benar kan tebakanku, kamu dengan pria kemarin itu?" kejar Mike.
"Aku masih dalam tahap pengenalan, jadi masih menunggu kelanjutan berikut nya. Aku tak mau terburu-buru dalam menjalin hubungan. Ingin menikmati saja dulu, untuk saat ini." jawab Kara sambil menatap layar monitor di depannya. "Seperti nya pria itu merupakan profesor terkenal," Mike menyodorkan tabloid dengan cover Kevin saat menjadi pembicara di gedung putih. Kara segera meraih tabloid tersebut, lalu membaca dengan seksama. Selama ini, dia tidak pernah mengulik profesi dan kegiatan Kevin. Ada rasa bangga terselip di hatinya saat membaca berita dan biodata Kevin.
"Aku sudah bilang, kami masih tahap pengenalan. Jadi, lihat saja nanti perkembangan nya."
"Jangan kau lepaskan ya! Dia terlihat termasuk pria setia," tegas Mike, Kara melongok heran pada Mike. " Bagaimana kamu tau itu?"
"Tidak ada satupun berita dan foto dia dengan perempuan, kecuali ini," Mike menunjukkan berita tentang pernikahan Cindy, di mana ada gambar Kara di samping Kevin. "Astaga Kara, kalian memang benar benar jodoh rupanya," lanjut Mike.
"Sudahlah Mike, lanjut kan pekerjaan kita. Minggu ini aku akan menulis artikel kuliner, semoga tulisanku mendapat respon positif dari pembaca," Kara melanjutkan pekerjaannya, tanpa menghiraukan Mike lagi. Akhirnya Mike menuju mejanya, dan melanjutkan pekerjaannya kembali, Kara melirik sambil tersenyum.
****
Hari itu Kara pulang lebih cepat dari biasanya, ia mampir ke supermarket untuk membeli bahan makanan, lalu segera berjalan menuju apartemennya. Di kejauhan Kevin menatap Kara yang sedang sibuk membawa belanjaan. Sebenarnya Kevin sudah tidak sabar ingin menemui Kara, berniat untuk menjemputnya, namu Kara melarang dengan alasan ingin menyiapkan makan malam, dan akhirnya Kevin hanya mengawasi Kara dari kejauhan menunggu hingga mendekati jam makan malam untuk datang langsung ke apartemen Kara.
Kara berjalan dengan cepat masuk ke apartemen, menyiapkan semua bahan, dia akan membuat meatloaf, mac and cheese, jagung rebus, salad, dan untuk dessert nya ia akan membuat pancake dengan siraman sirup maple. Kara memasukkan jagung ke dalam panci untuk di rebus. Mengaduk daging giling dengan bawang, remah roti, telur, susu, dan sedikit mustard, kemudian memanggang campuran tersebut menjadi meatloaf.
Sambil menunggu jagung dan meatloaf matang, Kara mengiris aneka sayur untuk salad. Mencampur bahan bahan pancake, kemudian mengaduk dengan lincahnya. Kara merasa bahagia saat memasak seperti ini. Tiba tiba, pintu kamarnya diketuk.
Kara berhenti sejenak untuk membuka pintu.
"Kevin? Ini belum jam makan dan aku belum bersiap siap!" ucap Kara sambil menggaruk kepalanya.
"Apakah aku boleh membantumu? Aku sudah sangat kelaparan!" Kevin membuat mimik wajah yang menyedihkan, membuat Kara tersenyum melihatnya.
"Masuklah!"
Kevin meletakkan mantelnya di gantungan, lalu menuju ke dapur mengikuti Kara.
__ADS_1
"Jadi, apa yang dapat aku bantu?" tanyanya.
"kamu cukup duduk manis di situ, menunggu aku selesai memasak. Bercerita lah apapun saat aku memasak, aku akan sangat senang mendengarnya," jawab Kara sambil tangannya dengan lincah memotong stroberi untuk smoothies toping pancake.
Kevin terpukau saat melihat aksi Kara di dapur, Kara terlihat sangat seksi menurutnya. Rambutnya agak digelung, memakai celemek, terlihat sedikit peluh di dahinya. Membuat Kevin terpesona memandangi wajah Kara. Kara balas menatap Kevin, saat merasa bahwa Kevin menatapnya,
"Ada yang salah denganku?" tanya Kara. Kevin tersenyum "Kamu sangat cantik!" ucapnya.
"Ah, semua lelaki pandai merayu," Kara melanjutkan mengaduk adonan pancake, tetapi dalam hatinya tersipu malu, berharap lelaki di depannya tidak menyadari itu. "Jujur, aku tak pandai merayu. Aku mengatakan yang sejujurnya. Kamu sangat cantik," Kevin masih menatap Kara yang sibuk mengaduk adonan.
Hati Kara berdebar, tidak pernah dia merasakan hal seperti ini, bahkan dengan Josh rasanya tidak sekencang ini. Tatapan tajam Kevin bagai mengaduk aduk perasaannya. Kara berusaha tetap fokus membuat pancake, sambil menata meatloaf yang telah matang.
"Aduh!" Kara menggigit jarinya yang terkena loyang. Kevin segera mendekati dan memegang tangan Kara memeriksa jarinya. Mereka saling beradu pandang, namun aroma gosong dari pancake, membuat Kara tersadar, dan buru buru melepaskan genggaman Kevin.
Kara mengatur nafasnya, berusaha fokus membuat pancake.
Kevin menyadari jika Kara salah tingkah karenanya, dia merasa senang, Kara terlihat sangat menggemaskan. Ingin rasanya Kevin memeluk dan menciumi perempuan itu, namun dia sadar, itu mungkin akan terlalu cepat bagi Kara.
"Aku akan membantu menata di meja," Kevin membantu membawakan nampan meatloaf dan mangkok salad. Aroma harum mac and cheese sangat menggoda, Kevin menyendok dan memakannya. Kara tertawa melihat ulah Kevin.
"Baiklah kita makan dulu, pancake nya untuk dessert nanti saja tinggal kuplating,"
"Silahkan!" Kara mengambilkan potongan meatloaf ke piring Kevin, lalu menaruh mac and cheese, dipinggir piring ditaruh jagung dan salad.
"Hmmmmm... serasa makan di restoran, terasa sangat mewah!" puji Kevin.
"Terimakasih, ini kedua kali kamu memuji masakanku seperti di restoran."
Kevin tersenyum mengangguk dan terus memasukkan makanan ke mulutnya.
"Aku sangat suka mac and cheese, dulu ibuku selalu membuatnya, dan akulah yang selalu menghabiskan paling banyak," sambil menyendok di mangkok Mac and cheese dan menaruh ke piring.
"Ya, ibumu sangat cantik, Brian pernah menunjukkan foto keluarga kalian."
"Brian, sudah bercerita apa saja tentangku?" tanya Kevin
__ADS_1
"Tidak banyak, dia bilang kamu kutu buku, sangat dingin terhadap perempuan. Meski banyak yang menyukai, tapi kamu terlalu cuek. Benarkah?" Kara balik bertanya.
"Mereka hanya ingin memanfaatkan kepintaranku saja untuk mendapatkan nilai yang bagus, jelas aku tidak tertarik pada mereka."
"Lalu pernahkah kamu memiliki seseorang yang spesial?" tanya Kara.
"Pernah," Kevin menghela nafasnya sejenak menatap Kara.
"Lalu?" Kara penasaran.
"Sudahlah dia hanya masa lalu, aku tidak melupakannya, namun sudah tidak ada perasaan lebih lagi padanya."
Kara menatap Kevin penuh simpati.
"Lalu hubungan mu dengan Josh dan Kenny bagaimana?" tanya Kara dengan hati hati.
"Kami baik baik saja," jawab Kevin cepat.
"Kenny bilang dia kesulitan menghubungimu. Josh dan aku pernah ke rumah mencarimu, saat itu kamu masih kuliah S2. Nenek yang banyak bercerita tentangmu. Dia sangat bangga padamu."
Kevin berdiri hendak membereskan piringnya, namun Kara menahannya.
"Biar aku saja!"
"Tidak, aku akan bantu mencuci piring, kamu siapkan saja dessert yang aku nantikan!" Kara tertawa, ia baru ingat pancake nya belum disusun di piring.
Kara menata pancake, diberi smoothies buah berry, diatasnya dihias potongan stroberi, lalu disiram sirup maple. Kevin melihat aksi Kara tanpa berkedip, Kara tersenyum melirik ke arah Kevin.
"Cobalah!" Kara menyodorkan piring pancake ke arah Kevin yang masih mencuci piring.
Kevin mengering tangannya, lalu memotong pancake, dan memakannya. Kevin langsung mengambil piring pancake dari tangan Kara, tak butuh waktu lama ia menghabiskan satu porsi pancake.
"Sangat lezat, tak heran jika banyak yang bilang kedai mu terkenal dengan pancake nya," puji Kevin.
Kevin mencuci piring, Kara membereskan meja makan, lalu membantu mengeringkan piring yang selesai di cuci Kevin.
__ADS_1
"Tunggu sebentar!" kata Kata tiba tiba, ia lalu membersihkan busa sabun yang menempel di pipi Kevin dengan tissue.
Kevin menatap wajah Kara, memegang tangan Kara yang masih di pipinya. Lalu Kevin mencium bibir Kara dengan lembut dan Kara membalas ciuman itu. Mereka menghabiskan malam itu bersama.