
Di sini author memang sengaja buat Aleta nya lemah ya, kalau ada yang tidak suka tidak apa-apa karena kan ini cerita sesuai dengan imajinasi author ðŸ¤
*
Tak sampai 10 menit, pintu kamar tersebut pun terbuka. Tapi, Aleta tidak tau siapa karena memang Aleta membelakangi pintu kamarnya.
"Huh, yaudah kamu boleh masak, tapi saya Yanga kan mengawasi kamu," ucap Arka.
Aleta pun membalikkan tubuhnya dan tersenyum ke Arka, "Tapi, emangnya Mas Arka gak sibuk kalau harus ngawasin Aleta?" tanya Aleta.
"Gak, saya gak mau kamu sama anak kita kenapa-napa lagian saya juga bisa menyelesaikannya sambil memeriksa pekerjaan saya," ucap Arka.
"Makasih, Mas," ucap Aleta.
"Tapi, kamu bikinnya dibantu Bi Novi karena kamu belum bisa masaknya," ucap Arka.
"Iya, Mas. Kalau gitu, ayo Mas kita ke dapur takut Bi Novi nunggunya lama," ucap Aleta dan menarik tangan Arka menuju dapur.
Sesampainya di dapur, Aleta langsung menghampiri Bi Novi. Bi Novi sendiri menatap Arka dengan takut hingga akhirnya Arka pun menganggukkan kepalanya dan barulah Bi Novi menyiapkan bahan-bahannya.
"Biar Aleta bantu, Bi," ucap Aleta.
Lagi-lagi Bi Novi melihat ke arah arka seolah bertanya apakah boleh Aleta membantunya dan Arka pun kembali menganggukkan kepalanya.
Arka pun memilih duduk di kursi yang ada di dekat dapur, Arka memilih duduk di sana tentunya agar ia dapat mengawasi Aleta karena bagaimanapun Arka tetap takut terjadi apa-apa pada Aleta dan anak yang tengah di kandung Aleta
"Non Aleta bawa bahan yang ringan aja ya," ucap Bi Novi.
"Emang bahannya ada yang berat, Bi?" tanya Aleta.
"Gak juga sih, tapi maksud Bibi. Non Aleta bawa bumbunya aja," ucap Bi Novi.
"Oh iya, Bi," ucap Aleta dan mengambil bumbu tersebut tentunya sesuai dengan apa yang dikatakan Bi Novi.
Aleta melihat Bi Novi yang memotong sayuran dan dengan cepat Aleta pun mengambil pisau, tapi langkahnya terhenti lantaran Arka yang bersuara.
"Mau ngapain?" tanya Arka.
Aleta menatap sang suami yang tengah duduk, "Mau bantuin Bi Novi potong sayuran," ucap Aleta dengan polos.
"Gak boleh," ucap Arka.
"Loh kok gitu sih, Mas. Kan kasihan Bi Novi kalau harus potong sayurannya sendiri," ucap Aleta.
"Bi Novi bisa sendiri kok, Non. Ini sayurannya udah selesai di potong semuanya lagian kan sayurannya gak banyak juga, jadi cepet," ucap Bi Novi.
Aleta langsung menatap sayuran yang di potong oleh Bi Novi dan benar saja memang sayuran tersebut sudah di potong semuanya.
Aleta mulai memasak sayur sup tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan Bi Novi, sesekali Arka juga melarang Aleta melakukan inilah itulah, tapi meskipun begitu Aleta sendiri hanya pasrah dan mengikuti apa yang dikatakan Arka karena ia juga sedikit takut untuk melawannya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, sayur sup yang sejak tadi diinginkan Aleta pun siap, Aleta langsung menaruhnya di piring yang sudah Bi Novi ambilkan.
"Non Aleta udah cicipi?" tanya Bi Novi.
"Belum, Bi. Kok Aleta tiba-tiba gak pengen sayur sup ya," ucap Aleta.
"Terus siapa yang makan sayur sup ini, Non?" tanya Bi Novi.
"Gak tau, Bi Novi gak suka sayur sup?" tanya Aleta.
"Bi Novi sih suka-suka aja, Non. Tapi, Bi Novi tadi kan udah makan dan sekarang Bi Novi masih kenyang," ucap Bi Novi.
"Hem, gimana kalau yang makan sayur sup bauran Leta Mas Arka aja," ucap Aleta.
"Kenapa harus saya? saya gak mau ya, yang pengen sayur sup kamu jadi harus ka.u yang makan," tanya Arka.
"Tapi, Aleta pengennya tadi dan sekarang Aleta gak pengen sayur sup gimana dong, Mas," ucap Aleta.
"Kalau tau gitu tadi kan gak usah bikin sayur sup," ucap Arka.
"Kan aku gak tau Mas kalau bakal kayak gini, tadi itu aku bener-bener pengen sayur sup. Kan Mas Arka belum makan, jadi Mas Arka aja ya yang makan sayur sup biar aku yang suapin nasinya," ucap Aleta.
"Saya gak mau," ucap Arka.
"Terus ini sayur sup nya gimana dong kalau Mas Arka nya gak mau?" tanya Aleta.
Aleta sangat sedih mendengar jawaban Arka dan Bu Novi yang melihat hal itupun merasa tidak enak lalu ia pun mendekati Bi Novi.
"Non Aleta gapapa?" tanya Bi Novi.
"Leta gapapa kok, Bi," ucap Aleta dan tersenyum pada Bi Novi.
"Kalau gitu sayur sup nya biar Bibi makan aja ya, Non," ucap Bu Novi.
"Gak usah, Bi. Ini biar Aleta aja yang makan," ucap Aleta.
"Tapikan Non Aleta tadi bilangnya gak pengen," ucap Bi Novi.
"Biar Aleta masukin kulkas aja, Bi. Terus nanti kalau mau makan tinggal Leta angetin," ucap Aleta.
"Jangan Non, makanan kayak gitu gak baik baut Non Aleta apalagi Non Aleta juga lagi hamil," ucap Bi Novi.
"Gapapa kok, Bi. Mungkin besok juga habis," ucap Aleta.
"Jangan, Non. biar Bibi aja yang makan ya," ucap Bi Novi.
"Gak usah Bi, kan itu masakannya Leta, jadi biarin Leta yang makan itu. Leta gapapa kok makan itu besok," ucap Aleta.
Akhirnya setelah obrolan beberapa menit, Aleta pun pergi dari dapur begitupun dengan Bi Novi, Aleta langsung berjalan menuju kamarnya dan Arka.
__ADS_1
"Ternyata benar, sampai kapanpun Mas Arka gak bakal nerima aku walaupun aku saat ini hamil anaknya. Harusnya aku gak boleh berpikir jauh mengenai hubunganku sama Mas Arka karena sampai kapanpun Mas Arka gak akan nerima aku sebagai istrinya, Mas Arka hanya nganggep aku tamu di sini bahkan lebih rendah dari itu dan aku juga gak boleh kayak tadi dimana aku memposisikan diri sebagai istrinya yang bisa melakukan apapun di rumah ini, aku harus sadar diri dan aku harus ingat siapa aku di sini dan bagaimana nasibku nanti setelah aku melahirkan," gumam Aleta dan tanpa terasa air matanya pun menetes.
Aleta langsung menghapus air matanya dan menenangkan dirinya sejenak sebelum ia masuk ke dalam kamar tersebut.
Aleta pun langsung masuk dan mendapati Arka yang berada di sofa dengan laptop yang ada di atas meja.
Aleta masuk dan langsung merebahkan tubuhnya di kasur, Aleta meras ada yang menatapnya dan Aleta pun membalikkan tubuhnya lalu ditatapnya mata elang sang suami yang ternyata saat ini tengah menatap tajam ke arahnya.
'Ini Mas Arka kenapa lihatin aku? apa aku gak boleh tidur di sini?' tanya Aleta dalam hati.
Aleta berusaha untuk memejamkan matanya kembali, tapi lagi-lagi ia tidak bisa karena merasa terus di awasi hingga akhirnya ia pun membuka matanya dan melihat Arka yang ternyata masih menatap tajam padanya.
"Ma-Mas Arka kenapa lihatin aku gitu banget?" tanya Aleta yang akhirnya Bernai membuat suara.
"Tidak apa-apa, saya hanya ingin lihat," ucap Arka.
Aleta pun kembali memejamkan matanya hingga akhirnya ia pun tertidur.
Saya tengah nyenyak tidurnya tiba-tiba saja Aleta terbangun karena ingin buang air kecil, saat membuka matanya, Aleta dapat melihat Arka yang tidur di sofa dengan bantal yang tadinya ada di kasur.
"Kenapa Mas Arka malah tidur di sana? apa karena ada aku ya di kasur jadinya Mas Arka gak mau tidur di sini? tapi harusnya aku yang tidur di kasur dan bukannya Mas Arka, aku jadi gak enak sama Mas Arka," tanya Aleta pada dirinya sendiri.
Aleta terlebih dahulu melakukan ritualnya di kamar mandi dan setelah itu, ia pun membangunkan Arka.
"Mas bangun," ucap Aleta dan menggoyangkan lengan Arka.
Akhirnya Arka bangun dan menatap satu pada Aleta, "Mas Arka tidur di kasur aja, nanti kalau Mas Arka di sini sakit loh," ucap Aleta.
Selang beberapa detik Arka pun mengambil bantalnya lalu ia berdiri dan langsung menuju kasur bahkan Arka langsung tertidur, Aleta sendiri langsung menyelimuti Arka dan setelah itu ia menuju sofa tempat Arka tidur tadi.
"Harusnya aku yang tidur di sini dan bukannya Mas Arka," gumam Aleta lalu merebahkan tubuhnya di sofa dan ia pun memulai memejamkan matanya tanpa adanya banyak ataupun selimut.
Pagi harinya Arka dan Aleta masih tertidur dengan Arka yang tidur di kasur dan Aleta yang tidur di sofa.
Saya mereka tengah tertidur tiba-tiba saja pintu kamar tersebut terbuka dan menampilkan sosok Mama Febby.
Ya, Mama Febby akhirnya membangunkan Arka dan Aleta karena ia sudah menunggu kurang lebih satu jam di meja makan dan ia tidak menemukan Arka dan Aleta di sana hingga akhirnya Mama Febby pun ke kamar Arka dan Aleta untuk membangunkan mereka.
Namun, betapa terkejutnya Mama Febby saya melihat bagaimana Arka dan Aleta tidur lebih tepatnya Aleta yang tidur di sofa karena Mama tau jiak Aleta merasa tidak nyaman tidur di sana.
Mama Febby dengan marah langsung menghampiri Arka dan dengan tega Mama Febby menyiram wajah Arka dengan air yang ada di gelas tepat di meja sebelah kasur.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1