Pedang Pemburu Roh

Pedang Pemburu Roh
BAB 17 | Jurus Pedang Awan Api


__ADS_3

Toko obat itu terlihat cukup lengkap, Xiaozi lalu menanyakan tentang pil obat kultivasi pada lelaki penjaga toko tersebut.


“Ada tuan, kami memiliki pil kultivasi level bumi tingkat 7 hingga 9” sahut lelaki tersebut.


“Apakah ada pil kultivasi level dewa?" tanya Xiaozi pada lelaki tersebut.


Lelaki itu terkejut mendengar pertanyaan Xiaozi yang menanyakan tentang pil kultivasi level dewa.


“Anak muda, pil kultivasi level dewa tidak sembarang dijual di toko obat seperti kami. Jika kamu menginginkannya, kamu harus ke kota Beringin di sebelah barat kota Pelangi ini” sahut lelaki tersebut


“Kota Beringin?” Xiaozi mengulanginya


“Benar. Apa rumah pelelangan disana. Kamu mungkin bisa mendapatkan pil obat level dewa disana dengan harga penawaran di lelang tersebut” sahut lelaki itu


“Pelelangan? Ah, kalau begitu aku beli pil kultivasi level bumi ini saja. Berikan aku yang tingkat 7 hingga 9” kata Xiaozi pada lelaki tersebut


Xiaozi tidak ingin pergi ke pelelangan, karena harga di pelelangan biasanya sangat tinggi. Dia harus menghemat emas yang disimpan oleh ibunya dalam cincin ini sebelum bisa menghasilkan uang sendiri dari perburuan monster.


Setelah mendapatkan pil kultivasi tersebut, Xiaozi lalu kembali ke penginapannya. Dia kemudian membuka lagi beberapa halaman kitab tersebut hingga Tahap Perak tingkat 1.


Pada halaman tehnik kultivasi tahap perunggu, juga terdapat jurus pedang di dalamnya, yaitu jurus Pedang Awan Api.


“Aku harus bertahap mempelajari Tehnik Kultivasi Pedang Langit ini. Aku harus melewati tahap Perunggu tingkat 2 dulu sebelum mempelajari jurus Pedang Awan Api.” gumam Xiaozi


Xiaozi seperti ketagihan belajar kultivasi di dunia ini. Dia yang sebelumnya malas berlatih di dunia asalnya, kini benar-benar menjadi ketagihan untuk terus meningkatkan kultivasinya.


Dengan bantuan Pil Kultivasi Bumi tingkat 7, Xiaozi dengan mudah meningkatkan kultivasinya menembus tingkat 2 tahap perunggu namun tidak terlihat kelelahan seperti sebelumnya.


“Sepertinya kekuatanku ini sudah lebih dari cukup untuk melawan pangeran Shang” gumam Xiaozi merasakan kekuatannya yang telah meningkat pesat.


“Kini saatnya untuk berlatih jurus Pedang Awan Api” pikirnya kemudian mengeluarkan pedang Lingjian.


Lalu Xiaozi melatih jurus Pedang Awan Api dari petunjuk di halaman kitab Kultivasi Pedang Langit yang dipinjamnya dengan menggunakan pedang Lingjian miliknya.


Gerakan Xiaozi di awal masih kaku meskipun telah mengulanginya beberapa kali. Namun hingga larut malam dia juga masih belum bisa menguasainya.


Akhirnya Xiaozi memutuskan untuk beristirahat dan melanjutkan pelatihan jurus Pedang Awan Api esok hari.

__ADS_1


Hari ketiga di kelas pemburu monster pemula, keenam murid kakek Tuo termasuk Xiaozi kini memperlihatkan kekuatan kultivasi masing-masing secara bergantian


Murid yang bertubuh kekar itu lalu memamerkan kekuatannya yang telah menembus tahap besi tingkat 4 pada murid di kelas tersebut. Keempat murid lainnya mengaguminya. Sementara keempat murid lainnya hanya bisa menembus tahap besi tingkat 2 dan tingkat 3.


“Ayo Xiaozi, aku ingin melihat sudah sampai mana kekuatanmu hari ini?” kata murid kekar itu mengejek Xiaozi


“Kamu paling hanya mampu naik hingga tahap besi tingkat 3” gumam murid kekar itu meremehkan Xiaozi.


“Bagus. akhirnya kalian semua sudah benar-benar belajar meningkatkan kekuatan kultivasi kalian” kata kakek Tuo


Ketika tiba giliran Xiaozi, dia meningkatkan kekuatannya secara perlahan. Saat mata semua murid melihat dia telah meningkat ke tahap besi tingkat 4, semua mata tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


Dan kekuatan Xiaozi masih terus meningkat menembus tingkat 5 dan semua orang terdiam melihat kemampuan Xiaozi. Kekuatan Xiaozi masih belum maksimal, dia kemudian terus mengisi tubuhnya dengan energi.


Saat kekuatan Xiaozi menembus tahap perunggu, semua mata sontak terkejut karena hal itu.


“Bagus! kamu berhasil menembus tahap Perunggu tingkat 1” kata kakek Tuo


Kelima murid pemula lainnya ternganga melihat Xiaozi telah menembus tahap Perunggu. Mereka tadinya ingin mempermalukan Xiaozi dengan memamerkan tingkat kultivasi mereka, namun tidak disangka Xiaozi telah jauh meninggalkan kekuatan mereka.


Perbedaan kekuatan antara tahap besi dan tahap perunggu cukup jauh. Mata murid yang kekar itu berkedut melihat kekuatan dari Xiaozi.


“Xiaozi, apakah sudah sampai batas maksimal kekuatanmu?” tanya kakek Tuo padanya.


“Belum kek. Aku semalam sudah menembus tahap perunggu tingkat 2, kek” sahut Xiaozi


Mata kakek Tuo terbelalak mendengarnya, dia tidak menyangka dalam dua hari Xiaozi telah menembus tahap perunggu bahkan tingkat 2.


“Anak ini sebenarnya sangat berbakat, tapi kenapa sifatnya penakut dan tidak begitu peduli?” gumam kakek Tuo dalam hatinya


“Bagaimana dengan jurusmu?” lanjut kakek Tuo bertanya padanya.


Xiaozi lalu mengambil bilah pedang di dalam kelas pemburu monster pemula lalu mulai mengayunkannya untuk memperlihatkan jurus Pedang Awan Api yang dipelajarinya semalam.


Kakek Tuo menyipitkan matanya melihat gerakan Xiaozi yang hafal gerakan jurus tersebut namun masih terlihat sangat kaku. Kelima murid pemula lainnya tertawa geli melihat gerakannya. Namun Xiaozi tetap tidak mempedulikan mereka.


“Oh, gerakanmu sudah benar. Namun kamu belum menjiwainya” kata kakek Tuo menilai dari gerakan Xiaozi

__ADS_1


“Menjiwai?” Xiaozi mengulangi kata-kata kakek Tuo


Wajahnya berpikir keras, dahinya mengkerut memikirkan apa yang dimaksud menjiwai oleh kakek Tuo itu.


“Benar. Untuk berlatih jurus senjata, kamu harus menjiwainya. Karena kamu telah memilih pedang, kamu harus menjiwai pedang tersebut.” lanjut kakek Tuo


“Bagaimana caranya kakek? Mohon petunjuk darimu” sahut Xiaozi bersemangat untuk mempelajarinya


“Kamu harus menyatu dengan senjatamu. Gerakanmu harus selaras antara jiwa dan tubuhmu” kata kakek Tuo itu kembali


Kata-kata kakek Tuo memang terdengar mudah, namun prakteknya sulit untuk melakukan hal itu. Xiaozi termenung memikirkan bagaimana cara menyelaraskan jiwa dan tubuhnya dengan pedang.


“Menjiwai. Selaras antara jiwa dan tubuh” pikir Xiaozi


Melihat Xiaozi yang tertegun memikirkan perkataannya, kakek Tuo lalu mengambil sebilah pedang dan berdiri di depan Xiaozi.


“Lihatlah baik-baik” kata kakek Tuo padanya.


Kakek Tuo lalu mengeluarkan jurus pedang dan memainkannya dengan indah. Gerakannya kadang keras kadang lembut, namun gerakan tubuhnya seiring dan selaras dengan gerakan pedang yang dilakukannya.


Kemudian dari gerakan yang lambat, kakek itu mulai mempercepat gerakannya tetapi tidak kaku dan tiba-tiba tubuhnya menghilang hanya kelihatan kelebat gerakan pedang yang menari dengan indah.


BRAKKK!


Tiba-tiba tubuh kakek tua itu terhempas jatuh menabrak meja dan kursi di dalam kelas pemula tersebut.


“Ehm, aku terlalu bersemangat. Aku jadi lupa kita berada di dalam kelas” sahutnya mencoba berdiri dengan tegap.


Kelima murid pemula di dalam kelas itu menganga melihat kejadian itu, mereka tidak menyangka keahlian kakek itu dalam memainkan jurus pedang sangat hebat. Mereka menjadi sangat kagum padanya.


“Kakek, kalau sudah tua jangan terlalu memaksakan dirimu” sahut Xiaozi dingin pada kakek Tuo.


Kelima murid pemula yang mendengar kata-kata Xiaozi menjadi geram karena dia mengolok-olok kakek Tuo di depan mereka.


“Ah kamu benar, aku memang sudah tua. Apakah kamu memahami yang aku perlihatkan tadi?” kata kakek Tuo itu padanya sambil tercengir


“Iya. Aku melihatnya sedikit. Karena kamu sudah tua, gerakan itu menjadi sangat lambat. Di masa mudamu pasti tidak tertandingi” kata Xiaozi dingin namun pikirannya masih mengingat petunjuk yang diberikan kakek Tuo padanya.

__ADS_1


“Hahaha... kamu memang jeli dan berbakat” kakek Tuo itu tertawa senang


__ADS_2