
Setelah melakukan permintaan terakhir dari Kakek Tua Ular dan memberikan penghormatan terakhir padanya. Tim Pemburu Monster Xiaozi pun melanjutkan perjalanannya menuju Kota Lempung di kaki Gunung Wushan untuk memburu monster Arwah Serigala.
Menjelang sore, mereka tiba di kota Lempung. Tampak penduduk kota Lempung yang ramai di siang hari segera berbenah untuk masuk ke dalam rumah masing-masing saat malam tiba.
Xiaozi dan teman-temannya berjalan menyusuri kota yang sudah mulai lengang di malam harinya.
“Suasana malam hari tampak mencekam. Kemana kita sekarang?” tanya Chen Yan yang cemas melihat situasi kota yang sudah sepi di jalanan.
“Semua penduduk telah bersembunyi di dalam rumah mereka masing-masing” sahut He Xian saat melihat sekitarnya.
Mereka berempat berjalan dengan waspada di dalam kota Lempung, namun tidak melihat satupun tempat yang masih buka untuk mereka sekedar mampir beristirahat.
“Ah, tempat ini seperti kuburan. Tidak ada kehidupan satu pun tampak di malam harinya” gumam Chen Yan
“Kita lurus aja menuju ke arah gunung Wushan” kata Xiaozi yang merasa tidak suka dengan situasi kota seperti itu.
Di dunia asal Xiaozi, kehidupan malam di kota Murbai itu penuh dengan hingar bingar para pedagang yang berjualan, wanita hiburan yang menanti pelanggan dan para pengunjung yang senantiasa berdatangan dari berbagai kota lain.
Namun di dunia monster ini, bahkan di kota Pelangi pun kehidupan malamnya tidak terlalu meriah. Hanya beberapa toko dan warung yang masih buka di malam harinya.
Bagi Xiaozi yang terbiasa hidup bersenang-senang di kota asalnya, hidup di dunia monster ini seperti hukuman baginya. Bekal dari ibunya di dalam cincin penyimpanan semakin menipis, jika dia tidak segera mencari uang sendiri maka dia akan hidup seperti gelandangan di jalanan.
Menjadi pemburu monster adalah lahan basah yang paling cepat menghasilkan uang di dunia ini. Jadi mau tak mau dia pun harus mengikuti trend pekerjaan ini meskipun dirinya tidak suka mempertaruhkan nyawa demi uang.
Ketika tiba di ujung kota Lempung, mereka melihat hutan di lereng sebuah gunung yang sangat lebat.
“Hmm, apakah itu gunung Wushan?" Xiaozi bertanya pada Shan Mui
“Benar. Itulah Gunung Wushan.” sahut Shan Mui
Setelah mengkonfirmasi gunung tersebut, Xiaozi pun hendak melanjutkan perjalanannya menaiki gunung tersebut.
Tiba-tiba dia melihat beberapa pasang mata berwarna merah mengintip dari rimbunnya semak dan pepohonan di hutan tersebut. Xiaozi kemudian meminta teman-temannya untuk waspada terhadap bahaya yang mungkin akan mereka temui.
__ADS_1
Mereka juga melihat beberapa sosok berkelebat dari arah hutan menuju kota Lempung dengan kecepatan tinggi. Namun ada sekitar 10 pasang mata yang tetap mengawasi Xiaozi dan teman-temannya.
“Apakah mereka monster arwah serigala itu?” gumam Shan Mui yang tidak jelas melihat mereka
Xiaozi segera mengeluarkan pedang Pemburu Roh, demikian juga He Xian mempersiapkan tongkat sihir miliknya untuk melindungi tim mereka dari serangan. Shan Mui dan Chen Yan yang membalik badan juga mempersiapkan pedang dan senjata rahasia masing-masing dengan waspada terhadap serangan dari belakang mereka.
“Siapa kalian? Keluarlah” teriak Xiaozi pada sosok yang mengintai di depan mereka.
GRRR...GGRRR...GGRRRR!
Seringai sepuluh serigala berwarna hitam sebesar dua kali tubuh manusia keluar dari balik semak dan pepohonan di hutan tersebut. Kemudian sosok yang berkelebat ke tengah kota juga tampak telah kembali mengelilingi Xiaozi dan teman-temannya.
Tampak kini puluhan serigala hitam besar telah mengelilingi mereka dengan wajah yang beringas. Mata mereka yang berwarna merah menatap Xiaozi dan teman-teman dengan sangar serta mulut yang menyeringai meneteskan air lur dan mengeluarkan suara geraman yang membuat bulu kuduk bergidik.
Di kejauhan Xiaozi juga melihat dua ekor serigala tengah menyeret dua sosok seperti manusia yang membuat dirinya terkejut.
“Mereka menangkap dua manusia?” gumam Xiaozi
“Jumlah mereka ratusan. Dan di kejauhan aku seperti mendengar suara pertempuran. Apakah ada orang selain kita yang memburu mereka?” kata He Xian
He Xian menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Shan Mui, berarti mereka memiliki banyak orang yang bertujuan sama membunuh monster arwah serigala ini.
“Ingat, monster arwah serigala ini termasuk monster emas dengan harga 100 emas per kepala. Jadi jangan anggap remeh mereka” kata Shan Mui kembali.
Mendengar harga 100 emas, Xiaozi dan yang lainnya segera bersemangat untuk membunuh para serigala itu.
Seekor serigala yang terlihat paling besar di depan meraung memberikan isyarat pada kawanannya untuk menyerang Xiaozi dan teman-temannya. Begitu mendengar aba-aba pemimpinnya, kawanan serigala itu langsung menyerang dengan beringas ke arah Xiaozi dan teman-temannya.
Xiaozi pun tidak mau kalah, dia segera mengerahkan jurus Pedang Awan Apinya dan menyerang dengan ganas pada kawanan serigala tersebut. Anehnya, saat pedangnya berhasil membunuh salah satu dari mereka, tubuh mereka pun lenyap menjadi asap hitam dan menghilang.
“Apakah ini sihir?” gumam Xiaozi
“Tidak. Mereka adalah arwah. Perhatikan seranganmu jangan sampai lengah” sahut He Xian yang bertarung di sebelahnya
__ADS_1
He Xian tampak mengeluarkan sihirnya untuk menyerang secara bersamaan kearah kawanan serigala tersebut. Sama seperti Xiaozi, ketika He Xian berhasil membunuh serigala itu dengan sihirnya, mereka pun berubah menjadi asap hitam dan lenyap.
Shan Mui dan Chen Yan juga mengalami hal yang sama, kawanan serigala itu satu persatu lenyap dan jumlah mereka mulai berkurang. Hanya tinggal pemimpinnya seorang yang masih berdiri menyeringai ke arah mereka.
“Sial, emasku jadi hilang” gerutu Chen Yan melihat tidak bisa menangkap salah satu monster serigala itu.
“Tubuh mereka terlihat nyata dan serangan mereka pun terasa saat menyambar ke arah tubuh kita. Dan ketika bersentuhan dengan senjata pun terasa nyata. Namun ketika mereka mati, tubuh mereka lenyap” gumam Xiaozi
“Tuan, mereka itu memang arwah serigala. Kemungkinan pimpinannya itu yang menciptakan ilusi arwah tersebut. Dia pasti sangat kuat” sahut Pedang Pemburu Roh
Mendengar kata-kata Pedang Pemburu Roh, Xiaozi segera pergi menyerang ke arah pimpinan serigala hitam tersebut.
Melihat Xiaozi menyerang ke arahnya, pemimpin serigala itu pun bergerak menyambut serangannya. Gerakan serigala itu cukup lincah menghindari serangan pedang dari Xiaozi.
Sesekali tampak tubuh pemimpin serigala itu melompat sambil mencakar, lalu kepalanya juga menyerang bermaksud menggigit tubuh Xiaozi dengan ganasnya.
Kelincahan pemimpin serigala ini berbeda jauh dengan Ratu Ular yang meskipun cepat namun tubuhnya masih menggeliat lambat. Sedangkan pemimpin serigala ini setelah serangannya tidak mampu menyentuh Xiaozi segera berbalik dan menyerang kembali.
Sebuah cakaran dari pemimpin serigala hampir saja mengenai lengan kiri Xiaozi, untung pedang Pemburu Roh segera menghadang serangan tersebut. Dan membuat cakar serigala itu terpental oleh kekuatan pedang Pemburu Roh.
Mata Serigala itu tampak semakin ganas setelah beradu cakar dengan pedang Pemburu Roh. Dia merasakan sebuah kekuatan yang ingin menyerap tubuhnya.
“Hehehe... kamu bisa merasakan rasa laparku ya” kata Pedang Pemburu Roh.
“Siapa kamu?” tanya pemimpin serigala itu pada Pedang Pemburu Roh.
Xiaozi tidak mendengar kata-kata tersebut, Pedang Pemburu Roh mengirimkan suara telepati dan bercakap-cakap dengan pemimpin serigala tersebut.
“Aku pedang Pemburu Roh bernama Lingjian. Dan aku menyukai aura mu. Aku akan melahapnya” kata Pedang Pemburu Roh sambil berdengung.
“Jangan bermimpi kamu bisa mengalahkanku. Tuanku tidak akan tinggal diam melihatku kalah” sahut serigala hitam itu
“Tuan? Kamu hanya suruhan?” Pedang Pemburu Roh tidak percaya.
__ADS_1
Pemimpin serigala itu tidak menyahut pertanyaan Pedang Pemburu Roh, dia kembali menyerang Xiaozi dengan lebih ganas