Pedang Pemburu Roh

Pedang Pemburu Roh
BAB 32 | Kerajaan Klan Ular – Gangguan dalam pelatihan


__ADS_3

Setelah mendengar perkataan Chen Yan, Xiaozi lalu mengeluarkan pil kultivasi tingkat 8 yang pernah di belinya di toko obat Chen Yan dan meminumnya.


Setelah itu dia melakukan meditasi untuk memurnikan pil itu di dalam tubuhnya. Dengan mengatur tehnik pernafasan dan petunjuk dari kitab kultivasi pedang langit dia menghimpun energi melalui pernafasannya dan mengumpulkan di dalam nadi spiritnya.


Kali ini dia merasakan hawa murni yang lebih halus membangkitkan energi dalam tubuhnya. Kultivasi tahap Perunggu tingkat 5 telah ditembus olehnya, kini saatnya dia mencoba untuk menembus tahap Perak dengan menggunakan pil kultivasi tingkat 8.


Xiaozi merasakan perlahan seluruh nadi spiritnya terisi penuh oleh energi yang dihasilkan dari penyerapan pil kultivasi tingkat 8. Kemudian dengan nadi spirit itu energi dalam tubuhnya disalurkan ke titik-titik energi sesuai petunjuk dalam kitab kultivasi pedang langit untuk menembus tahap Perak tingkat 1.


“Anak ini semangatnya sungguh luar biasa. Dia bisa dalam waktu singkat melakukan peningkatan kultivasi dalam tubuhnya” pikir He Xian setelah melihat keseriusan Xiaozi dalam berlatih.


Shan Mui dan Chen Yan juga tersenyum kagum melihat kesungguhan Xiaozi. Kemudian saat mereka saling menoleh dan menatap satu sama lain, mereka merasakan rasa persaingan di mata mereka, lalu Shan Mui dan Chen Yan sama-sama membuang wajah mereka ke arah berlawanan sambil mendengus.


He Xian yang memperhatikan gerak-gerik kedua wanita itu langsung bermeditasi membaca kitab pencerahannya


“Satu wanita saja sudah sulit dihadapi apalagi dua, entah nasibmu beruntung atau tidak karenanya, saudara Xiaozi” gumam He Xian dalam hatinya sambil terus merapal kitab pencerahannya.


Xiaozi yang masih melakukan latihan dengan sungguh-sungguh tidak menyadari hal itu namun dia tidak mengerti kenapa matanya tiba-tiba berkedut dengan sendirinya.


Malam hari telah tiba, besok malam adalah hari terakhir mereka di ruang tahanan ini. Hidup dan mati tidak diketahui hasilnya, Xiaozi hanya bisa berusaha untuk melawan Ratu Ular sesuai kemampuan maksimal yang bisa dia raih.


Peningkatan kultivasi Xiaozi belum juga terlihat ketika malam telah larut. He Xian sudah beristirahat untuk memulihkan tenaganya setelah menembus tahap Perunggu tingkat 4.


Berdasarkan kultivasi sihir yang dipelajarinya, dia harus mengumpulkan energi sihir untuk lebih meningkatkan kembali kekuatan kultivasinya. Untuk itu dia memerlukan tongkat sihirnya yang diambil oleh Ratu Ular.


Sementara Shan Mui yang sudah menembus tahap Perunggu tingkat 3 beristirahat terlebih dahulu karena kelelahan setelah melatihnya.


Hanya Chen Yan yang belum tertidur dan membaca buku pengobatannya sambil melihat keadaan Xiaozi.


Saat pagi hari, tampak Chen Yan sudah tertidur disebelah Xiaozi yang kemudian tanpa sadar meletakkan kepalanya di paha Xiaozi yang telah selesai berlatih.

__ADS_1


Xiaozi yang sudah menyelesaikan pelatihannya melakukan istirahat sementara sebelum melanjutkan kembali, merasa terkejut melihat wajah Chen Yan di atas pahanya.


“Sebenarnya kamu orang yang baik dan cantik, tetapi naluri bisnismu terlalu kuat. Sehingga banyak orang yang merasa ditipu saat berbelanja darimu” gumam Xiaozi dalam hatinya melihat wajah Chen Yan.


Pagi itu Xiaozi menghentikan latihannya karena gangguan Chen Yan yang tertidur di pahanya. Namun dia tidak ingin membangunkannya yang terlihat kelelahan setelah menemaninya berlatih semalaman.


He Xian yang berikutnya membuka mata terkejut melihat hal itu, lalu mendesah kembali dan merapal kitab pencerahannya.


“Wanita merupakan penghalang bagi pelatihan lelaki untuk menjadi lebih kuat. Kini aku mengerti maksudnya” gumam He Xian dalam hatinya.


Berbeda dengan He Xian yang bangun dengan santai, Shan Mui yang terbangun langsung dengan mata melotot melihat Chen Yan yang tertidur dalam pangkuan Xiaozi. Dia mengepalkan tangannya melihat hal itu.


“Dasar Ular, kamu mencuri kesempatan saat aku tertidur dan menggoda Xiaozi” gumamnya dalam hati


Dengan kesal, Shan Mui lalu membangunkan Xiaozi dengan suara keras


Mendengar teriakan Shan Mui, Xiaozi merasa teringat pada ayahnya. Kata-kata Shan Mui itu mengingatkan pada ayahnya yang marah padanya karena selalu malas berlatih dan memilih bersenang-senang dengan para wanita di dunianya.


Chen Yan juga terbangun mendengar teriakan itu, dia pun merasa terkejut melihat wajahnya berada dipangkuan Xiaozi, dan melihat Xiaozi tersenyum padanya.


“Apa yang telah kamu lakukan?” teriak Chen Yan kemudian sambil menutup dadanya.


Kepala Xiaozi terasa dihantam oleh palu yang sangat besar mendengar teriakan Chen Yan yang menuduhnya.


“Ah, kamu sendiri yang tiba-tiba tertidur dalam pangkuanku. Kenapa aku yang dicurigai?” sahut Xiaozi tidak menerimanya.


Wajah Chen Yan menjadi merah, meskipun dia menyukai Xiaozi. Tapi terbangun seperti itu di depan mata semua orang sangatlah memalukan. Apalagi dia membayangkan apa yang dilakukan oleh Xiaozi saat dirinya tertidur.


“Kamu terlalu banyak membayangkan hal yang aneh-aneh nona Chen” sahut Xiaozi kesal

__ADS_1


Setelah menenangkan dirinya, Chen Yan lalu bergidik melihat wajah Shan Mui yang menatap dirinya. Kemudian dia tersenyum geli melihatnya, dalam hatinya merasa senang membuat temannya itu kepanasan.


“Maaf, aku tidak sengaja mendahuluimu. Tapi aku tidak menyesalinya” bisik Chen Yan di telinga Shan Mui


Wajah Shan Mui menjadi gelap mendengar kata-kata Chen Yan yang menggoda dirinya. Dia hanya bisa menahan kekesalan terhadap Chen Yan di dalam dirinya, tapi melampiaskannya pada Xiaozi.


“Xiaozi, jika kamu tidak serius berlatih dan hanya seperti itu. Kamu mati ditangan Ratu Ularpun aku tidak peduli” katanya ketus.


Xiaozi menghela nafasnya mendengar kata-kata Shan Mui, “Ah, kenapa aku yang jadi disalahkan.” gumamnya sambil meneruskan pelatihannya.


Pagi itu makanan datang lebih banyak lagi dari kemarin, para penjaga tersenyum melihat para tahanan itu terlihat segar dan siap untuk dikorbankan.


“Hehehe... Sssshh... Malam ini kalian akan mati. Besok aku bisa beristirahat dengan tenang. Ssshh...” gumam penjaga ular tersebut


Melihat datangnya makanan, Xiaozi mulai menyantapnya dengan lahap dan beristirahat setelah kekenyangan.


“Xiaozi, waktu tinggal sedikit. Bagaimana pelatihanmu?” tanya He Xian padanya.


“Semalam aku sudah hampir menerobos, namun tiba-tiba aku sedikit kelelahan” sahut Xiaozi tanpa memberitahu He Xian bahwa dirinya terganggu oleh tidur Chen Yan di pangkuannya.


Shan Mui yang sedang menikmati makan tertegun, “Kelelahan? memangnya apa yang kamu lakukan semalam?” gumamnya masih kesal


Chen Yan yang melihat perubahan wajah Shan Mui merasa senang, sebagai teman dekatnya sejak kecil dia paham betul sifat Shan Mui. Lalu dia bangun dari duduknya dan mendekati Xiaozi.


“Xiaozi, makanlah buah ini untuk memberimu lebih banyak tenaga” kata Chen Yan sambil berusaha menyuapi Xiaozi


Xiaozi bukan anak kemarin sore yang tidak mengetahui maksud Chen Yan yang ingin memanasi Shan Mui. Dia kemudian berpura-pura tidak mendengarnya lalu melanjutkan pelatihannya dengan bermeditasi.


“Baiklah jika kamu tidak mau memakannya sekarang, aku akan menyisakannya untukmu” lanjut Chen Yan yang merasa godaannya tidak mempan saat itu.

__ADS_1


__ADS_2