Pedang Pemburu Roh

Pedang Pemburu Roh
BAB 78 | Pulau Duyung – Bertemu Duyung Mieren


__ADS_3

Saat malam tiba, mereka tiba di sebuah kota kecil di pinggir laut timur yang memiliki pelabuhan yang cukup ramai disinggahi oleh kapal-kapal layar dari berbagai belahan dunia monster.


“Berarti dunia monster ini cukup luas juga. Buktinya banyak kapal-kapal layar yang berlabuh di tempat ini” gumam Xiaozi setelah melihat banyaknya kapal layar yang berada di pelabuhan itu.


Xiaozi lalu menanyakan letak pulau Duyung pada pemilik kapal dan siapa yang bisa mengantarkan mereka ke sana. Namun sayang tidak ada satupun kapal layar itu mau mengantarkan mereka pergi ke pulau Duyung tersebut. Hal ini membuat Xiaozi menjadi heran.


“Anak muda. Mengapa kamu ingin pergi ke pulau Duyung?” tanya seorang lelaki tua yang melihat dirinya sejak awal menanyakan tentang kapal menuju ke pulau Duyung.


“Aku ingin mencari air mata duyung kek” sahut Xiaozi dengan jujur.


“Hehehe... mencari air mata duyung tidak semudah yang kamu bayangkan nak” sahut lelaki tua itu


Mendengar hal itu, Xiaozi menjadi penasaran. Dia menoleh ke arah lelaki tua itu dan menyipitkan matanya. “Kakek, apakah kamu tahu tentang air mata duyung?” tanyanya.


“Tentu saja. Aku berasal dari pulau itu” sahut lelaki tua itu kembali


Wajah Xiaozi tampak berseri mendengar lelaki itu berasal dari pulau Duyung, tentu dia memiliki pengetahuan tentang air mata duyung itu.


“Bisa kakek jelaskan padaku tentang air mata duyung itu?” tanya Xiaozi padanya.


“Air mata duyung itu benar-benar berasal dari air mata seorang putri duyung.” sahut lelaki tua itu


“Putri Duyung? Benarkah itu ada? Apakah cantik kek?” Xiaozi bertanya bertubi-tubi pada lelaki tua itu.


Mendengar Xiaozi yang penasaran, lelaki tua itu berdehem sebelum melanjutkan penjelasannya, “Ehm. Putri Duyung benar-benar ada dan sangat cantik. Namun sejak kedatangan jendral monster Junme ke pulau itu, kami jarang melihat putri Duyung lagi” lanjut lelaki tua itu


Sejak dulu putri duyung banyak ada di pulau duyung dan hidup berdampingan dengan klan manusia disana. Namun sejak kedatangan jendral monster Ermai, sedikit demi sedikit putri duyung itu menghilang dan saat ini sangat jarang bisa melihat para putri duyung di pulau itu.


Wajah Xiaozi menjadi jelek karenanya, “Bagaimana mendapatkan air mata duyung jika tidak ada putri duyungnya” gumam Xiaozi dengan wajah muram

__ADS_1


“Kakek, apakah ada putra duyung?” tanya Xiaozi tiba-tiba membuat lelaki tua itu hampir terjatuh karena terkejut.


“Hmm.. kami tidak pernah menyebut mereka putra duyung, tetapi manusia ikan” sahut lelaki tua itu lagi.


Xiaozi kembali muram memikirkan hal itu, “Jika mereka bukan duyung, bagaimana bisa menjadi air mata duyung. Aku bukan mencari air mata ikan” gumamnya dalam hati


Lelaki tua itu menyipitkan matanya pada Xiaozi, “Nak, hanya putri duyung yang bisa menghasilkan air mata duyung. Air mata duyung itu adalah cairan yang menetes dari mata putri duyung, kemudian air itu akan mengeras dan membentuk kristal. Nah kristal itulah yang disebut dengan air mata duyung” lelaki tua itu menjelaskan kembali.


“Ooh, jadi seperti itu ya” sahut Xiaozi mulai memahami tentang air mata duyung yang berupa kristal.


Namun dia berpikir keras untuk mencari keberadaan putri duyung dan kemudian membuatnya menangis.


“Biasanya wanita itu menangis karena salah satunya ditinggal pergi oleh lelaki” gumam Xiaozi


“Apakah aku harus berkencan dengan salah satu dari mereka lalu pergi untuk membuatnya menangis?” pikiran kotor muncul dibenak Xiaozi memikirkan cara untuk membuat putri duyung itu menangis.


“Ingat nak, orang menangis bukan hanya karena sedih. karena bergembira pun bisa jadi juga akan menangis haru” sahut lelaki tua itu


Yang jadi masalah berikutnya adalah dimana menemukan para putri duyung itu. Itu yang mengganjal pikiran Xiaozi.


“Ah, sebaiknya aku pergi dulu ke pulau itu. Siapa tahu menemukan salah satu duyung disana” gumamnya lagi


“Nak, kebetulan aku akan kembali ke pulau malam hari ini. Jika kamu mau, kamu bisa menumpang kapalku kembali kesana” kata lelaki tua itu tiba-tiba


“Benarkah kek?” tanya Xiaozi dengan wajah gembira. Satu masalah terpecahkan dan mereka bersiap untuk pergi berlayar ke pulau Duyung pada malam harinya.


Malam hari di pelabuhan tidak pernah sepi, Xiaozi dan ketiga anggotanya termasuk Raja Penyihir Kambing sudah bersiap menaiki kapal milik lelaki tua yang tertambat agak jauh dari kapal-kapal besar lainnya.


Ketika semua barang-barang kakek itu dibantu menaikkan oleh Xiaozi, mereka pun berangkat menuju pulau Duyung.

__ADS_1


Mereka pun tiba pada dini hari di pulau duyung, lelaki tua itu lalu mengajak mereka pergi ke rumah lelaki tua itu untuk beristirahat.


Pagi harinya, Xiaozi telah lebih dulu bangun dan duduk merenung di pinggir pantai.


“Apa yang kamu lakukan pagi-pagi sekali nak?” tanya lelaki tua itu melihat Xiaozi


“Aku lagi menunggu datangnya putri duyung kek” sahutnya tanpa melepas pandangannya dari arah laut.


“Hahaha... aku pikir sedang apa. Putri duyung biasanya datang di teluk ujung pulau itu” kata lelaki tua itu sambil menunjuk ke arah teluk yang cukup jauh dari rumahnya


“Ah, kenapa kakek tidak bilang dari kemarin” sahut Xiaozi


“Kan kamu tidak ada bertanya” balas lelaki tua itu sambil duduk santai menikmati matahari pagi diatas bangkunya.


Xiaozi lalu pergi ke arah teluk itu untuk melihat-lihat jika ada putri duyung yang sedang berenang di dalam air laut.


Dia berkeliling sekitar teluk itu yang penuh dengan batu karang yang terjal. Kemudian matanya melihat semacam gua yang berada di bawah tebing yang cukup tersembunyi dari pandangan.


Xiaozi lalu turun perlahan mendekati gua tersebut. Dia tidak mempedulikan pakaiannya yang basah saat mendekati gua tersebut. Kemudian saat berada didalam gua, dia mengeringkan pakaiannya dengan mengerahkan energi nya lalu berjalan memasuki gua yang sebagian terendam oleh air laut.


Xiaozi berjalan di pinggir gua menyusuri batu karang yang cukup tajam. Semakin ke dalam, Xiaozi melihat pemandangan dalam gua yang semakin meluas. Bebatuan dinding karang dan langit-langitnya sangat menakjubkan. Sinar cahaya matahari tampak memasuki tempat itu dan menimbulkan pelangi oleh embun air laut yang menerpa batu karang di dalam gua.


“Tempat yang sangat indah dan penuh hawa spiritual” gumam Xiaozi yang merasa senang menemukan tempat tersebut.


Ketika memasuki gua itu lebih ke dalam, tiba-tiba dia mendengar suara samar-samar.


“Siapa kamu?”


Xiaozi terkejut, dia tidak tahu jika ada seseorang di dalam gua tersebut. “Dari suaranya, sepertinya orang itu perempuan” pikir Xiaozi yang terus melanjutkan perjalanannya.

__ADS_1


Di ujung gua, yang sangat lebar, dia melihat seorang wanita yang sangat besar hampir 3 kali tubuh dirinya. “Hah, manusia raksasa?” Xiaozi terkejut saat melihatnya.


“Bukan. Aku bukan raksasa. Namaku Mieren. Aku seorang duyung” sahut wanita itu.


__ADS_2