Pedang Pemburu Roh

Pedang Pemburu Roh
BAB 24 | Chen Yan dan Pedang Pemburu Roh


__ADS_3

Melihat serangan Orka yang membabi buta, Xiaozi menggunakan kesempatan ini untuk menguji jurus Pedang Awan Api miliknya. Kemudian dia bergerak sesuai petunjuk jurus Pedang Awan Api dalam kitab Kultivasi Pedang Langit.


SET!.... SET!....SETTT!


Kelebat pedang mengurung gerakan Orka dari segala sisi. Gerakan Orka tiba-tiba terhenti merasakan tubuhnya yang perih seketika dan meraung kesakitan.


RRROOAAAARRR!


Itu adalah raungan terakhir dari Orka. Seketika tubuhnya telah terpotong-potong oleh sayatan pedang Pemburu Roh ditangan Xiaozi.


“Anakku!” teriak wanita tua itu ketika monster Orka yang dianggap seperti anaknya sendiri telah terkapar tanpa nyawa dengan tubuh terpotong mengenaskan.


Mata wanita tua itu menjadi merah setelah melihat kematian anak monsternya. Dia meraung dan menyerang ke arah Xiaozi dengan ganas dan membabi buta.


Xiaozi tidak berniat membuang waktu lagi, dia dengan cepat menggunakan pedang ditangannya mengeluarkan jurus Pedang Awan Api lagi dan mengurung gerakan wanita tua tersebut.


SET!... SET!


Dua sayatan menyilang ditubuh wanita tua itu memunculkan warna merah di tubuhnya yang tiba-tiba terhenti lalu menyemburkan darah dari kedua sayatan tersebut.


Mata wanita tua itu terbelalak tidak percaya dirinya mati ditangan Xiaozi, mulutnya menyemburkan darah yang mengalir dari tenggorokannya lalu menghembuskan nafas terakhirnya.


Mata Chen Yan terkejut tidak menyangka Xiaozi mampu mengalahkan mereka berdua. Berbeda dengan Shan Mui yang sejak awal penasaran dengan kekuatan Xiaozi, kini merasa yakin bahwa dia tidak salah pilih mengajaknya bergabung dalam tim pemburu monster mereka.


“Bagus. mari kita kirim kepala mereka ke perburuan monster menggunakan token ini. Apakah ada hadiah bagus untuk kedua monster ini?” kata Shan Mui sambil mengambil token pemburu lalu mengaktifkannya dan mengirimkan kepala Orka dan wanita tua itu ke tempat perburuan monster melalui token tersebut.


TING!


Token Pemburu menerima pengiriman hadiah dan terlihat jumlah total 120 emas diterima oleh mereka.


Shan Mui tersenyum puas melihat bahwa keputusannya tidak salah memilih masuk melalui hutan ini menuju kota Lempung untuk mendapatkan hadiah tambahan dalam perjalanan mereka.


“Ayo kita lanjutkan perjalanan menuju kota Lempung” kata Shan Mui bersemangat setelah melihat angka hadiah tersebut.


Chen Yan dan Xiaozi pun bersemangat setelah mengetahui hadiah tadi cukup besar dari kedua monster tersebut.


Di dalam hutan mereka beristirahat sejenak dan membuka perbekalan untuk makan. Tiba-tiba muncul harimau yang sangat besar mendatangi mereka. Mata Xiaozi terkejut mengingat saat dirinya dulu dikejar oleh harimau di dunia asalnya.

__ADS_1


Namun beda dulu dan sekarang, kini Xiaozi hanya dengan menebaskan dua kali pedangnya ke arah harimau tersebut, lalu harimau itupun terbelah menjadi empat potongan.


“Pedangmu sangat tajam Xiaozi” kata Chen Yan yang kagum pada pedang tersebut.


“Bolehkah aku meminjamnya?” tanya Chen Yan


Xiaozi tidak bisa menjawab pertanyaan itu, dia menoleh pada pedangnya Lingjian.


“Aku terserah padanya. Apakah dia mau kamu pinjam” sahutnya


Chen Yan lalu berjalan hendak mengambil pedang Pemburu Roh Xiaozi. Pedang itu bergetar saat tangan Chen Yan menyentuhnya.


“Tuan, aku merasa memiliki hubungan dengannya” kata pedang Lingjian pada Xiaozi


Xiaozi menyipitkan matanya mendengar hal itu, dia lalu melihat ke arah Chen Yan yang sudah memegang pedang Pemburu Roh ditangannya. Pedang itu tampak bergetar merasakan darah di tubuh Chen Yan seperti memiliki ikatan dengan dirinya di masa lalu.


“Kenapa?” tanya Xiaozi pada pedangnya dalam hati


“Aku rasa leluhur wanita ini pernah menjadi tuanku dulu” sahut pedang tersebut pada Xiaozi


“Bagaimana kamu mengetahuinya?” tanya Xiaozi kembali


Percakapan antara Xiaozi dengan pedangnya juga bisa dilakukan dalam hati Xiaozi yang terhubung diantara mereka karena darah Xiaozi pernah mengaliri tubuh pedang tersebut.


“Chen Yan. Apakah leluhurmu dulu ada seorang yang ahli pedang?” tanya Xiaozi padanya


Chen Yang menghela nafasnya sambil melihat ke arah pedang Pemburu Roh itu, dia sendiri merasakan seakan-akan pernah mengenali pedang tersebut.


Kemudian Chen Yan meletakkan lagi pedang tersebut pada tempat didekat Xiaozi lalu dia duduk disebelah Xiaozi.


“Aku pernah mendengar leluhurku yang bernama Chen Wang adalah seorang pemburu monster terkenal pada jamannya. Dia seorang ahli pedang” sahut Chen Yan mengenang cerita dari keluarganya.


Pedang Pemburu Roh bergetar merasa pernah mendengar nama Chen Wang itu pernah menjadi tuan sebelumnya.


“Aku dengar pedang leluhurku juga bernama Pedang Pemburu Roh. Mungkin ini adalah pedang yang sama yang digunakan oleh leluhurku saat itu” sahutnya lirih


“Aku rasa kemungkinan itu benar, Pedang Pemburu Roh ku ini merasakan kedekatan dengan dirimu karena darah leluhur yang mengalir padamu juga berada dalam tubuh pedang ini” sahut Xiaozi

__ADS_1


“Benarkah?” sahut Chen Yan mendekatkan wajahnya ke arah Xiaozi yang menyebabkan bau tubuhnya yang harum memabukkan pikiran Xiaozi.


Mata Shan Mui berkedut melihat hal itu lalu wajahnya berubah menjadi kesal.


“Ehem... aku rasa kita sudah cukup lama beristirahat di tempat ini. Mari kita lanjutkan perjalanan kita” ajaknya dengan nada dingin.


“Ayolah” ajak Chen Yan yang tampak bersemangat.


Lalu Chen Yan berjalan di dekat Xiaozi sambil sesekali melirik ke arahnya dan tersenyum


Xiaozi bukannya tidak peka dengan perasaan wanita. Dia mengetahui Chen Yan sepertinya juga menyukainya. Namun mata Shan Mui yang meliriknya menusuk tajam ke hatinya. Membuat kepalanya terasa pusing karenanya.


“Jika seperti ini terus. Aku tidak akan terbunuh oleh monster lain, melainkan akan dibunuh oleh dua monster betina disampingku ini” gumam Xiaozi dalam hatinya.


Xiaozi memikirkan hal ini. Dia harus memutuskan untuk tidak mempedulikan kedua wanita ini sama sekali, atau memiliki keduanya.


Tiba-tiba darah menetes dihidungnya tanpa disadarinya.


“Kamu pasti membayangkan hal aneh-aneh lagi” kata Chen Yan melihat hidung Xiaozi yang meneteskan darah.


Wajah Xiaozi menjadi merah mendengar kata-ata Chen Yan. Dia kemudian mempercepat langkahnya mendahului mereka berdua.


“Xiaozi!” panggil Shan Mui melihat dirinya pergi mendahului mereka.


“XIAOZI! Kamu salah jalan!” teriak Shan Mui kesal melihat Xiaozi tidak mendengarkan panggilannya.


Xiaozi menghentikan langkahnya mendengar teriakan Shan Mui, dia lalu berbalik kini menunggu mereka berdua melewati jalan berbelok ke arah lainnya. Kemudian mengikuti mereka dari belakang dengan jarak agak jauh.


Chen Yan tersenyum geli melihat tindakan Xiaozi sementara Shan Mui menumpuk kesal dalam hatinya melihat hal itu.


Tiba-tiba turun hujan di dalam hutan itu. Meskipun hutannya sangat lebat dan tebal, namun air hujan tetap menembus jatuh ke tanah dan membasahi pakaian mereka.


Kemudian mereka melihat sebuah gua dan pergi berlindung di dalam gua tersebut.


Di dalam gua, Xiaozi yang berdiri agak jauh dari kedua wanita itu dengan cuek membuka pakaiannya yang basah dan menaruh di atas bebatuan untuk mengeringkannya.


Dari kejauhan Shan Mui dan Chen Yan melihat tubuh Xiaozi yang perkasa saat dirinya tanpa mengenakan bajunya. Wajah mereka pun menjadi merah ketika Xiaozi melirik ke arah mereka berdua yang kemudian memalingkan wajah mereka.

__ADS_1


Tiba-tiba Xiaozi merasakan ada hawa membunuh dari dalam gua tersebut. Dia lalu mengeluarkan pedangnya bersiap untuk menghadapi sesuatu dari dalam gua tersebut.


__ADS_2