Pedang Pemburu Roh

Pedang Pemburu Roh
BAB 23 | Wanita tua dan monster Orka


__ADS_3

Setelah mempersiapkan segala perlengkapan untuk berburu, mereka pun bertiga pergi menuju kota Lempung yang jaraknya sekitar 7 hari berjalan kaki ke arah timur kota Pelangi.


Di tengah perjalanan menuju kota Lempung mereka melewati sebuah hutan yang cukup lebat dinamakan Hutan Pinus Purba. Konon di dalam hutan itu terdapat monster yang sangat mengerikan yang telah menyerang setiap orang yang melewatinya.


Orang biasanya mengambil jalan memutar yang agak jauh untuk menghindari hutan tersebut sehingga membutuhkan waktu 10 hari untuk berjalan kaki menuju kota Lempung, namun lebih aman.


“Kamu yakin kita tidak masalah melewati hutan ini?” tanya Chen Yan


“Aku sangat yakin” sahut Shan Mui


Chen Yan menghela nafasnya percaya penuh dengan Shan Mui.


Xiaozi yang tidak mengetahui tentang hutan itu hanya mengikuti mereka memasuki hutan lebat tersebut.


“Memangnya kenapa dengan hutan ini?” tanya Xiaozi saat mereka sudah berada di dalam hutan.


“Tenang saja, tidak ada masalah” sahut Shan Mui tenang.


Ketika wajah Shan Mui yang tenang, Xiaozi pun menjadi ikut tenang.


Berbeda dengan Chen Yan yang mengetahui tentang cerita mengerikan dari hutan ini, wajahnya terlihat ketakutan dan melihat kesekelilingnya.


Meskipun di luar hutan, cuaca masih cerah karena siang, namun saat memasuki hutan yang lebat, suasana berubah menjadi gelap dan remang-remang.


Sekitar 300 langkah di depan mereka tampak seorang wanita tua sedang duduk di bawah pohon pinus dengan tongkatnya.


Wanita tua itu tampak menyeringai ketika melihat mereka bertiga datang memasuki hutan tersebut.


Shan Mui menyipitkan matanya ketika melihat wanita tua itu.


“Hihihi... kalian sungguh memiliki nyali berani masuk kedalam hutan ini. Apa kalian tidak takut di bunuh oleh monster di dalam hutan ini?” tanya wanita tua itu sambil terkekeh


Meskipun menyeramkan, Xiaozi memberanikan dirinya berjalan mendekati wanita itu untuk melihat lebih jelas.


“Maaf nenek, apakah jalan ini benar menuju kota Lempung?” tanya nya dengan polos sambil menunjuk ke arah kanan


Wanita tua itu tampak tersenyum aneh mendengar pertanyaan Xiaozi yang tidak terlihat takut padanya.


“Tidak. Jalan itu menuju ke kematian” sahut wanita tua itu.


“Kalau begitu, apakah jalan ini?” tanya Xiaozi yang kemudian menunjuk ke arah kiri

__ADS_1


“Tidak itu juga jalan menuju ke kematian” sahut wanita tua itu lagi terlihat bingung.


Xiaozi lalu melihat ke depan di belakang wanita tua itu dan menunjuk ke arah sana.


“Berarti jalannya ke arah depan ya nek” sahut Xiaozi dengan wajah mengerti.


Wanita tua itu kesal melihat tampang Xiaozi yang terlihat seakan-akan membodohinya.


“Tidak, semua jalan ini menuju ke kematian” sahutnya.


Wajah Xiaozi terlihat kebingungan mendengar jawaban dari wanita tua tersebut dan berbalik ke arah Shan Mui.


“Nona Shan, sepertinya kita tersesat” sahut Xiaozi dengan santainya


Wajah Chen Yan yang sudah pucat sejak awal melihat wanita tua itu menjadi kesal juga melihat wajah Xiaozi yang benar-benar tampak konyol tak memahami situasi itu.


Shan Mui hanya tersenyum melihatnya.


“Tidak. Arah kita sudah benar Xiaozi. Kita tinggal pergi ke arah kanan untuk menuju kota Lempung” sahut Shan Mui


“Lalu kenapa nenek ini mengatakan semua jalan itu menuju ke kematian?” tanya Xiaozi


“Karena ini!” teriak nenek tua itu sambil menyerang ke arah Xiaozi secara tiba-tiba


“Nenek, mengapa kamu menyerangku?” tanya Xiaozi


“Hihihi... aku adalah penguasa hutan ini. Kalian berani sekali memasuki wilayahku ini” sahut nenek tua itu sambil bersiul memanggil sesuatu.


Tampak tanah di hutan itu bergetar ketika terdengar suara langkah kaki yang datang mendekat.


DUMMM!


Tanah tetap bergetar, Xiaozi dan yang lainnya merasakan tubuhnya goyang karena getaran tersebut.


Kemudian tampak sosok tinggi besar berbulu berwarna hitam dengan wajah mengerikan keluar dari balik pohon di hutan tersebut.


“Anakku ini akan membunuh kalian. Dia sangat menyukai daging manusia” teriak nenek itu.


“Orka, bunuh mereka semua!” perintah nenek tua itu pada sosok tinggi besar berbulu tersebut


Sosok yang dipanggil Orka itu lalu menyerang ke arah Xiaozi yang berada lebih dekat dengannya.

__ADS_1


Xiaozi menghindari serangan ganas darinya dengan berkelit kesana kemari. Mata wanita tua itu menjadi kesal melihat anaknya Orka tidak berhasil menyentuh Xiaozi sedikitpun.


“Orka, jangan bermain-main. Cepat selesaikan mereka. Aku sudah lapar” teriak nenek tua itu dengan kesal


Mendengar perintah wanita tua itu, Orka pun menjadi bertambah garang menyerang ke arah Xiaozi.


“Apa kita tidak menolongnya?” tanya Chen Yan pada Shen Muai sambil menggigil ketakutan.


“Kita lihat kemampuan Xiaozi” sahut Shan Mui santai namun tetap waspada dan bersiap.


Pertempuran antara Xiaozi dengan Orka termasuk tidak seimbang, Orka menyerang dengan membabi buta tanpa jurus, hanya mengandalkan insting dan kekuatannya, sedangkan Xiaozi hanya menghindar dan sesekali mendorong dan menahan serangan dari Orka.


Wanita tua itu tampak kesal melihat pertarungan mereka yang memakan waktu lama.


“Hei anak muda, apakah kamu tidak bisa membalas serangan? Kamu hanya bermain kucing-kucingan menari kesana kemari” teriak wanita tua itu memancing Xiaozi


Xiaozi kemudian melompat kebelakang mundur ke arah teman-temannya. Orka juga menghentikan serangannya sementara untuk mengambil nafas.


“Xiaozi, apa yang terjadi? Kenapa kamu tidak membalas menyerang?” tanya Shan Mui


“Maaf, aku tidak mengerti jurus tangan kosong” sahut Xiaozi polos


Mata Shan Mui dan Chen Yan berubah menatap kosong mendengar jawaban Xiaozi. Wanita tua itu yang juga mendengar jawaban Xiaozi dan hampir terjatuh karena terkejut.


Orka tidak mengerti maksud mereka semua. Dia hanya meraung menaikkan semangat tempurnya lagi.


RROOAARRR!


“Gunakan pedangmu jika tidak mengetahui jurus tangan kosong” teriak Chen Yan


“Benar tuan, aku dari tadi menunggumu menggunakanku” sahut Pedang Pemburu Roh menimpalinya


Xiaozi kemudian mengeluarkan pedang Pemburu Roh miliknya lalu mengayunkannya ke depan menghadang serangan Orka. Mata Orka mendelik ketika merasakan energi yang tajam hampir menyayat kulitnya


Wanita tua itu pun geram dengan mata terbelalak melihat pedang pusaka di tangan Xiaozi yang sangat kuat auranya.


“Sialan. Mengapa anak ini memiliki senjata pusaka dengan aura sekuat itu” wanita tua itu menjadi kesal karenanya.


Orka terlihat ragu untuk melakukan serangan saat melihat pedang di tangan Xiaozi dan merasakan aura kematian berasal dari pedang tersebut.


Naluri Orka mengatakan untuk menghindari pedang tersebut. Dia tampak bingung mengambil keputusan.

__ADS_1


“Kenapa kamu diam Orka, apakah kamu takut? Bunuh mereka atau aku akan menghukummu” teriak wanita tua itu melihat Orka yang ragu-ragu.


Mendengar kata hukuman, Orka lalu menjadi garang dan menyerang ke arah Xiaozi tanpa kenal takut. Dia tidak peduli dengan aura kematian yang terpancar dari pedang Pemburu Roh dan melabrak ke arah Xiaozi dengan menggunakan kepalan tinjunya.


__ADS_2