
Tujuan Xiaozi memang menuju gunung Wushan, sesuai petunjuk yang diberikan oleh kakek Tuo, gurunya di kelas pemula pemburu monster. Dia diminta untuk menemui kakak seperguruannya di atas gunung Wushan.
Xiaozi pun menyetujui mengikuti lelaki setengah baya tersebut bersama teman-temannya menaiki gunung Wushan.
“Xiaozi, apa sebenarnya tujuanmu ingin ke gunung Wushan?” bisik Shan Mui disamping Xiaozi. Wajah Xiaozi terlihat sedikit tegang, “Aku disuruh oleh kakek Tuo, Guru kelas pemula untuk menemui kakak seperguruannya di gunung Wu Shan.” sahut Xiaozi
“Sepertinya lelaki setengah baya ini murid dari kakak seperguruan kakek Tuo atau adik seperguruan mereka” gumam Xiaozi dalam hatinya karena menebak dari perawakannya yang masih setengah baya jauh lebih muda dari kakek Tuo.
Setibanya di puncak gunung Wushan, lelaki tua itu lalu mempersilahkan mereka untuk duduk di ruang tamu yang sederhana dan menuangkan minuman sendiri yang ada di atas meja. “Kalian tunggu aku disini. Ada hal penting yang harus aku lakukan terlebih dahulu” kata lelaki setengah baya tersebut sambil pergi ke belakang rumahnya.
“Xiaozi, kamu kenal dengan lelaki itu?” tanya He Xian menatapnya.
“Tidak” sahut Xiaozi santai
Kali ini Chen Yan mendekati Xiaozi dan melihat wajahnya, “Kamu tidak kenal dengannya tapi mau mengikutinya. Apa kamu tidak curiga padanya?” tanya Chen Yan
Xiaozi menggelengkan kepalanya, “Jika dia bermaksud jahat. Untuk apa dia melindungi kita tadi. Benarkan?” sahut Xiaozi dengan wajah tenang.
Jawaban Xiaozi cukup masuk akal, Chen Yan tidak melanjutkan pertanyaannya, dia berkeliling melihat ruang tamu rumah itu dan memperhatikan barang-barang milik lelaki setengah baya itu.
Shan Mui duduk di sebelah Xiaozi sambil matanya juga melihat sekeliling ruangan itu. Sementara Xiaozi dan He Xian duduk sambil mengistirahatkan mata mereka karena waktu memang sudah menunjukkan larut malam.
“Kemana lelaki itu? Kenapa belum kembali juga?” gumam Chen Yan yang memberanikan diri memeriksa ke belakang rumah tersebut.
Matanya berkedut melihat lelaki setengah baya itu tengah asik tertidur di atas bale di belakang rumahnya tanpa mempedulikan mereka di ruang tamu. Wajah Chen Yan menjadi kesal, lalu dia kembali bertemu teman-temannya.
“Cih, lelaki itu dengan tenangnya tidur di bale belakang rumahnya. Sementara kita menunggunya disini” kata Chen Yan.
Hanya Shan Mui yang bangun dan hendak pergi dari tempat itu bersama Chen Yan, sementara Xiaozi dan He Xian sudah mendengkur di bangkunya.
“Bisa-bisanya kedua anak ini begitu tenang tertidur di rumah orang tak dikenal seperti ini” pikir Shan Mui melihat kedua lelaki dalam tim mereka.
“Apa yang akan kita lakukan nona Shan?” tanya Chen Yan.
“Kita berjaga saja bergantian, aku tidak percaya dengan orang asing” sahut Shan Mui.
__ADS_1
Chen Yan menyetujuinya, “Kalau begitu, kamu yang berjaga terlebih dulu. Aku istirahat dulu ya” sahutnya.
Mata Shan Mui berkedut, tadinya dia yang ingin beristirahat terlebih dahulu, namun Chen Yan mendahuluinya, “Aah...” Shan Mui hanya bisa menghela nafasnya sambil duduk berjaga-jaga sendiri.
Akhirnya diapun juga tertidur sambil duduk seperti yang lainnya karena sangat kelelahan.
Keesokan harinya, Shan Mui masih tertidur bersama Chen Yan sedangkan Xiaozi dan He Xian sudah bangun dan sedang menikmati teh di depan rumah lelaki setengah baya tersebut.
“Tetua, dimanakah aku bisa bertemu dengan kakak seperguruan kakek Tuo?” tanya Xiaozi pada lelaki setengah baya itu. Dalam bayangan Xiaozi, tidak ada orang lain lagi di tempat itu menandakan bahwa kakak seperguruan kakek Tuo tentu telah meninggal.
“Apakah kakek Tuo itu maksudmu Tuo Li?” tanya lelaki setengah baya itu
“Benar tetua mengenalnya?” sahut Xiaozi merasa gembira karena dia tidak salah tempat.
“Tentu saja kenal. Dia adik seperguruanku yang kurang berbakat, namun berhati baik” sahut lelaki setengah baya itu sambil tersenyum
Mata Xiaozi berkedut mendengarnya, “A...Adik seperguruan?” Xiaozi masih tidak percaya.
“Aku tidak percaya, mengapa adik seperguruan lebih tua dari Tetua?” protes Xiaozi
Xiaozi mengkerutkan keningnya menandakan otaknya masih memproses mengenai hal itu.
“Namaku Luo Shan, aku dan Tuo Li adalah murid dari seorang petarung yang sangat kuat pada masanya. Perguruan kami terletak di Gunung Kunlun di sebelah utara kota Pelangi.” kata tetua bernama Luo Shan itu.
“Bagaimana kabar adik seperguruanku?” tanya Luo Shan pada Xiaozi
“Dia baik-baik saja. Temperamennya mudah marah. Dan kultivasinya masih di Perak tingkat 1” sahut Xiaozi
“Hahaha... dia benar-benar tidak berubah. Bahkan kultivasinya juga masih seperti itu sejak 20 tahun yang lalu. Benar-benar terlalu malas berlatih” kata Luo Shan sambil tertawa.
Kemudian Luo Shan menghentikan tawanya, “Ngomong-ngomong apakah kamu juga disuruh untuk belajar padaku?” kata Luo Shan secara langsung pada Xiaozi.
Wajah Xiaozi terlihat bangga karena dirinya mendapat rekomendasi dari kakek Tuo untuk melanjutkan pelajarannya pada kakak seperguruannya Luo Shan.
“Benar tetua, kakek Tuo menyarankanku untuk melanjutkan belajar padamu” sahut Xiaozi bangga.
__ADS_1
“Baiklah. Seperti yang sudah-sudah. Adik seperguruanku itu selalu menyarankan murid-muridnya untuk melanjutkan belajar padaku. Dan biaya untuk pelajaran dariku adalah sebesar 500 keping emas. Apakah kamu ingin melanjutkannya?” tanya Luo Shan sambil menyesap teh nya.
Mendengar perkataan tetua Luo Shan, mata Xiaozi tak berhenti berkedut, “Aku pikir cuma diriku yang disarankan untuk belajar disini. Rupanya kakek Tuo itu berbisnis dengan tetua Luo Shan ini” gumam Xiaozi dalam hatinya.
“Bagaimana? Jika tidak ingin belajar, silahkan kembali ke kota Lempung” lanjut tetua Luo Shan kembali.
“Tetapi tetua Luo Shan ini berkemampuan tinggi, dia dengan satu tangan bisa menghentikan jurus dari orang itu tadi malam” gumam Xiaozi masih memikirkan hal ini.
Wajah tetua Luo Shan kesal perkataannya tidak dijawab oleh Xiaozi yang justru masih tertegun memikirkan sesuatu.
“Jika kamu tidak punya uang, bilang saja. Kamu bisa kembali ke kota Lempung setelah menghabiskan teh itu” lanjutnya sambil menghela nafas
“Aku punya uang 500 keping emas tetua, hanya saja aku memikirkan apakah layak pelajaran yang aku dapatkan dengan uang sebanyak itu? sahut Xiaozi
Wajah tetua Luo Shan berbinar mendengar Xiaozi memiliki uang sejumlah itu. Dia lalu memberikan 2 buah buku pada Xiaozi dan menyuruhnya untuk membaca buku tersebut.
“Tehnik Kultivasi Perisai Dewa” dan “Jurus Telapak Halilintar”
“Kedua tehnik itu sangat luar biasa, aku rasa sangat layak untuk dipelajari dengan bimbingan langsung dariku” sahut tetua Luo Shan sambil tersenyum.
Xiaozi sangat tertarik dengan tehnik Kultivasi Perisai Dewa, namun dia tidak tahu apakah selaras dengan tehnik Kultivasi Pedang Langit yang dipelajarinya.
“Tetua, aku telah mempelajari tehnik Kultivasi Pedang Langit. Apakah bisa mempelajari tehnik kultivasi Perisai Dewa juga?” tanya Xiaozi padanya.
Luo Shan tertegun mendengar pertanyaan Xiaozi, “Jadi kamu yang berjodoh dengan kitab kosong itu?”
“Benar tetua” sahut Xiaozi
“Perlihatkan padaku pedang itu” kata Luo Shan yang kini bersungguh-sungguh.
Xiaozi tidak mengerti dengan maksud tetua Luo Shan, tetapi dia tetap mengeluarkan Pedang Pemburu Roh itu dan memperlihatkannya pada Luo Shan.
“Hmm.. jadi Pedang ini masih tersegel” gumam Luo Shan setelah melihat Pedang Pemburu Roh dan memeriksanya.
“Baiklah. Jika demikian aku akan memberikan padamu kitab lain yang sebelumnya tidak pernah aku berikan pada murid lain” lanjut Luo Shan.
__ADS_1