
Wajah Shan Mui menjadi merah mendengar bisikan Xiaozi di telinganya kemudian dia terkejut saat Xiaozi mencium telinganya itu. Dia merasa geli yang membuat jantungnya berdetak semakin kencang.
“Hah...” Shan Mui menutup matanya menikmati sensasi dari tehnik tingkat tinggi yang diberikan oleh Xiaozi padanya.
“Namaku bukan Xiaozi jika tidak bisa membuatmu bertekuk lutut padaku” gumam Xiaozi yang kini sudah merasa tertantang oleh kata-kata Shan Mui yang selama ini selalu ditahannya.
Setelah telinga, leher Shan Mui kini menjadi sasaran berikutnya dari tehnik yang dipelajari oleh Xiaozi di dunia asalnya. Hal itu membuat tubuh Shan Mui menggeliat ingin melepaskan diri dari pelukan Xiaozi, namun Xiaozi tidak membiarkannya lepas.
“Ah... hah... “ Shan Mui yang menutup matanya tidak bisa menahan diri. Tubuhnya gemetar nafasnya terengah-engah oleh tindakan Xiaozi.
Bibir Shan Mui yang mungil tipis terbuka sedikit membuat mata Xiaozi semakin bergairah untuk **********. Xiaozi mencium bibir Shan Mui dengan lembut membuat Shan Mui membuka matanya melihat wajah Xiaozi dengan tatapan nanar.
Suara Shan Mui terdengar lirih saat jemari Xiaozi ikut bermain bergerilya di sekujur tubuhnya yang semakin membuatnya bergetar mengikuti gerakan tangan Xiaozi yang menyentuh bagian-bagian sensitif miliknya.
“Ah.. kamu... hah... apa yang kamu lakukan padaku... Xiaozi” suara lirih Shan Mui terdengar seperti cambukan di telinga Xiaozi untuk lebih meningkatkan lagi tempo gerakannya.
“AH...” Shan Mui sedikit terpekik, matanya melotot saat jemari Xiaozi menyentuh sesuatu yang tidak disangka olehnya. Tubuhnya bergetar serasa lemas oleh sentuhan itu, namun dia tidak menghentikan irama gerakan tubuhnya mengikuti gerakan jemari Xiaozi padanya.
“Xiaozi... AH...” Suaranya kembali terpekik saat Xiaozi kembali memberikan tekanan lembut pada tempat itu. Suaranya tidak bisa dia teruskan karena sudah ditutupi oleh bibir Xiaozi yang menciuminya.
Shan Mui hanya bisa menutup matanya, pikirannya setiap saat menerima kejutan yang membuat tubuhnya semakin bergetar hebat. Xiaozi lalu mengeluarkan keahliannya dengan merebahkan Shan Mui di rerumputan yang lembut di balik reruntuhan puing-puing itu.
Tidak butuh lama bagi Xiaozi membuat seluruh benang di tubuh Shan Mui terlepas, seperti sebuah sulap yang langsung melepaskannya salam sekejap. Dan tidak butuh lama juga baginya melepaskan kain di tubuhnya sendiri.
Shan Mui tidak sanggup untuk membuka matanya, dia hanya pasrah dengan menerima perlakukan dari Xiaozi padanya, “Ah.. hah.. Aku telah membangunkan macan tidur” gumamnya dalam hati
__ADS_1
“AH..” Shan Mui terpekik saat tubuhnya ditindih oleh Xiaozi dengan kuat. Dia tidak bisa melakukan perlawanan karena tenaganya terasa habis oleh getaran yang sebelumnya menghabiskan sebagian besar energinya.
Xiaozi menatap wajah Shan Mui yang merah dan matanya yang mulai sayu melihat dirinya namun dia tidak menghentikan gerakannya. Perlahan dia bergerak seperti mendayung, hingga gerakan lumba-lumba yang timbul tenggelam di permukaan air.
Hingga suatu saat Shan Mui merasakan tubuhnya yang panas bergetar hebat, dia sudah tidak tahan lagi sehingga jemarinya mencengkeram kuat lengan Xiaozi. Kepalanya terangkat ke belakang, matanya tertutup dengan wajah yang mengernyit.
“Hahaha... kamu sudah kalah. Ini baru 1 – 0, babak kedua tidak akan lebih mudah dari sebelumnya.” gumam Xiaozi dengan seringainya yang membuat Shan Mui bergidik namun tidak bisa menolaknya.
Babak kedua di mulai lagi namun kali ini tempo permainan diturunkan oleh Xiaozi, membuat wajah Shan Mui sedikit kecewa karenanya. namun di detik-detik akhir, Xiaozi melakukan serangan balik dengan mempercepat tempo tiki-taka dan hampir membuat gol kembali untuk Shan Mui. Namun Xiaozi menghentikan gerakannya dan memandang wajah Shan Mui dengan senyumannya.
Shan Mui merasa kesal dengan tindakan Xiaozi yang menurutnya mempermainkan dirinya disaat mau mencetak skor tiba-tiba dihentikan olehnya. Shan Mui kemudian melakukan gerakan sendiri, kini dia mendorong tubuh Xiaozi dan berada diatasnya.
Tubuh Shan Mui kini yang berada diatas Xiaozi, dia ingin mengendalikan permainan itu dan membiarkan dirinya untuk mencetak hattrik berkali-kali.
“Ah... aku sudah tidak kuat lagi.” bisik Xiaozi sambil memejamkan matanya.
Suara Xiaozi membuat Shan Mui semakin ganas dan mempercepat tempo permainannya. Dan akhirnya...
GOOLLLL!!
Kedudukan berubah menjadi 4 -1 di akhir pertandingan. Tubuh Shan Mui pun lemas dan terkulai lembut dalam pelukan Xiaozi.
Xiaozi memeluk tubuh Shan Mui dan membelai rambutnya, dia mencium kening Shan Mui. Wajah Shan Mui memperlihatkan kepuasan yang tiada taranya malam itu. Dia pun terlelap dengan nyaman diatas tubuh Xiaozi.
Dia tidak menyangka membangunkan macan tidur akan membuatnya merasa puas meskipun menghabiskan seluruh tenaganya, dia tidak menyesalinya. Kenapa tidak dari dulu saja, kalimat itu terpartri di dalam benaknya.
__ADS_1
Pagi harinya, cahaya matahari menyinari wajah mereka berdua yang terlelap diatas rumput itu dengan ditutupi oleh pakaian mereka. Kemudian Shan Mui terbangun dan mengenakan pakaiannya kembali, kemudian dia terlihat sedikit malu saat melirik ke tubuh Xiaozi yang masih belum berpakaian.
“Kenapa kamu malu? Semalam kamu sudah menguasai semua permainan” goda Xiaozi
Wajah Shan Mui menjadi merah, jarinya melayang mencubit lengan Xiaozi dan membuat mata Xiaozi berkedut kesakitan oleh cubitan Shan Mui.
“Awas, jangan cerita macam-macam tentang ini pada siapapun” bisik Shan Mui di telinga Xiaozi.
Xiaozi tampak santai saja mengenakan pakaiannya terlihat seperti tidak terjadi apa-apa. “Baiklah, anggap seperti tidak terjadi apa-apa kan diantara kita” sahut Xiaozi
Cubitan kembali melayang ke lengan Xiaozi membuat matanya hampir melompat oleh rasa sakitnya. Dia tidak menduga untuk seorang kultivator tahap Berlian tidak bisa menahan sakit sebuah cubitan dari wanita tahap Perak. Sungguh suatu yang aneh pikirnya.
“Dasar lelaki. Sehabis melakukannya seakan-akan tidak pernah terjadi” gerutu Shan Mui kesal mendengarnya.
Xiaozi pun memeluk lembut tubuh Shan Mui dan mencium pipi kanannya. “Tenang saja, kamu adalah milikku. Aku tidak akan melupakannya.” bisik Xiaozi di telinga Shan Mui yang membuat hatinya berbunga-bunga.
“Aku telah menjadi milik Xiaozi selamanya” batinnya dengan hati berbunga-bunga
Shan Mui merebahkan kepalanya di dada Xiaozi dan memejamkan matanya berharap waktu berhenti sesaat agar dia bisa lebih lama menikmati suasana ini.
“Kalian rupanya berada disini” tiba-tiba sebuah suara datang membuyarkan suasana mesra itu.
Tampak Wuya dengan mata melotot melihat ke arah mereka berdua yang sedang berpelukan. Dalam hati mereka merasa beruntung karena mereka telah mengenakan seluruh pakaian mereka. Namun mereka tidak mengetahui bahwa mereka tidak bisa menyembunyikan apa yang terjadi dari mata seekor burung gagak yang telah melihat kejadian itu di malam harinya.
Wuya hanya tersenyum melihat mereka berdua yang kelabakan karena ditegur olehnya.
__ADS_1