Pedang Pemburu Roh

Pedang Pemburu Roh
BAB 79 | Pulau Duyung – Persiapan menyerang


__ADS_3

Mata Xiaozi tidak berkedip melihat ke arah putri duyung yang besar itu, dia baru tahu seekor putri duyung ternyata sebesar itu.


“Kamu putri duyung?” teriak Xiaozi ingin meyakinkan telinganya tidak salah mendengarkan


“Iya. Kamu tidak percaya?” putri duyung itu menyipitkan matanya.


“Aku percaya” sahut Xiaozi saat dia melihat tubuh bagian bawah putri duyung itu yang memiliki ekor ikan, sedangkan dari pinggang ke atas bertubuh wanita yang cukup cantik.


******!


Darah menyembur dari kedua hidung Xiaozi saat dia melihat dua tonjolan yang sejak tadi ditutupi oleh rambut putri duyung itu tersibak karena angin bertiup sesaat.


“Ah, apa kamu terluka?” putri duyung itu tampak khawatir pada Xiaozi lalu mendekatinya.


DEGH!


Wajah Xiaozi tepat berbenturan dengan dua tonjolan itu, membuatnya sesak nafas. “I-Ini...I-ni ter-lalu sesak” Xiaozi merasakan tonjolan lembut menyentuh wajah dan tubuhnya karena ukuran putri duyung itu yang besar.


“Maaf” putri duyung itu tanpa sadar ingin memeriksa tubuh Xiaozi namun malah menghimpitnya.


Xiaozi terduduk dengan darah masih mengalir dari kedua hidungnya. Putri duyung itu tampak panik lalu mengangkat bagian bawahnya dari air. Begitu bagian bawah itu keluar dari air, segera berubah menjadi kaki manusia yang putih dan panjang tanpa busana mendekati Xiaozi.


UGHH...


Kepala Xiaozi terpental kebelakang dan memuncratkan darah ke atas dari hidungnya dan pingsan. Putri duyung itu merasa sedih melihat hal itu. Tubuhnya yang besar segera mengangkat tubuh Xiaozi dan memangkunya.


Wajahnya tampak sedih tidak tahu harus berbuat apa, dia hanya menunggu agar Xiaozi tersadar kembali.


Beberapa saat kemudian, Xiaozi mulai membuka matanya, dia merasa bermimpi ketemu dengan seekor putri duyung yang cantik tanpa busana. Dia pun tersenyum mengingat mimpinya itu.


“Oh, kamu sudah sadar?” tiba-tiba putri duyung senang melihat Xiaozi telah membuka matanya.


Xiaozi memutar matanya melihat sekeliling tempat itu, dia merasa dirinya tertidur di tempat yang lembut lalu meraba tempat tidurnya.


“Ah...” putri duyung itu merasa geli tubuhnya diraba oleh Xiaozi dan wajahnya memerah.


Xiaozi terkejut, dia menyadari bahwa dirinya tidak sedang bermimpi. Dia membalik tubuhnya dan melihat dirinya tertidur dipangkuan putri duyung besar itu.


“Ini bukan mimpi” pikirnya


Xiaozi langsung melompat ke belakang dan melihat putri duyung itu dengan jelas, tubuhnya bergetar melihat penampilan yang tampak di depannya ini. Dia merasa tubuhnya panas dan nafasnya terengah-engah serta jantungnya berdegup kencang.


“No-nona, tolong. Bisakah kamu mengenakan sesuatu? A-aku tidak bisa melihatmu dalam keadaan seperti ini” kata Xiaozi gugup

__ADS_1


Meskipun putri duyung tidak mengerti, namun dia menciptakan pakaian dari rumput laut menutupi tubuhnya dan membuat Xiaozi menarik nafas lega karenanya.


“Apakah kamu suka seperti ini?” tanya putri duyung itu.


Mata Xiaozi berkedut mendengarnya, “Sebenarnya sebagai lelaki aku lebih suka kondisi tadi, tetapi aku tidak ingin kehabisan darah di tempat ini. Aku takut tidak bisa menahan diri lagi” gumamnya dalam hati


Setelah menenangkan dirinya, Xiaozi mulai melihat putri duyung itu dalam-dalam, dia  merasa beruntung telah bertemu dengan salah satu dari mereka.


“Mengapa putri ada disini?” tanya Xiaozi pada nona Mieren putri duyung itu.


“Aku dikurung disini dan tidak bisa keluar dari tempat ini” sahutnya sambil menundukkan kepalanya


“Hah... apa? Siapa yang mengurungmu disini?” tanya Xiaozi tidak percaya.


Putri Duyung terdiam sesaat, “Jendral monster Junme menawan teman-temanku. Dan mengurungku di tempat ini.” sahutnya pelan


“Jendral monster Junme?” Xiaozi tertegun mendengarnya.


“Benar, Jendral monster Junme membutuhkan kekuatanku” sahutnya pelan.


Meskipun baru mengenal Xiaozi, namun putri Mieren merasa nyaman untuk bercerita dengannya. Dia tidak merasakan Xiaozi ingin memanfaatkan dirinya, lalu dia menceritakan kejadian saat jendral monster Junme datang ke pulau ini dan menangkap teman-teman dari putri duyung Mieren.


Kemudian dia menjadi marah dan menyerang pasukan monster jendral monster Junme dengan kekuatannya. Itulah membuat jendral monster Junme menginginkan kekuatannya itu dan mengurungnya di sini dengan mengancam akan membunuh teman-temannya jika dia tidak menuruti perintah dari jendral Junme.


“Putri, aku akan membantumu membebaskan teman-temanmu” lanjut Xiaozi sambil mengepalkan kedua tangannya.


“Benarkah?” Putri Duyung itu tampak senang mendengar hal itu. Meskipun dia tahu mungkin saja itu hanya harapan untuk menghibur dirinya namun dia merasa senang mendengar ada yang peduli pada dirinya.


Xiaozi lalu berdiri, “Putri tunggulah aku kembali disini. Aku akan segera membebaskan teman-temanmu kembali” sahut Xiaozi sambil berjalan keluar dari gua tersebut


Putri Mieren melihat kepergian Xiaozi berharap dirinya akan kembali kemari meskipun dia tidak bisa membebaskan teman-temannya. “Kamu harus kembali ya” teriak putri Mieren menggema di gua itu hingga ke telinga Xiaozi


Xiaozi tersenyum mendengar hal itu. “Aku pasti kembali putri” gumamnya dalam hati.


Sementara itu, di markas jendral monster Junme, tampak Jendral Junme tengah bermeditasi untuk meningkatkan kultivasinya. Dia lalu menghentikan kultivasinya setelah dua hari berlalu.


“Akhirnya aku bisa menembus tahap Berlian dengan menggunakan kekuatan putri duyung itu. Aku kini menjadi jendral peringkat 3 dengan kekuatanku. Sebentar lagi aku akan menjadi jendral peringkat 1. Hahaha... “ tawanya senang


Kemudian dia keluar dari ruang latihannya dan menuju ke aula utama markas monster nya.


“Selamat jendral, kamu telah menerobos tahap Berlian” sapa beberapa komandan pasukannya yang melihat jendral Junme berhasil meningkatkan kekuatannya.


Tampak seorang lelaki tua berpakaian hijau bernama Lu Xu sang penyihir hijau, lalu Raja Buaya dan Elang Perak memberi hormat padanya.

__ADS_1


“Dimana Xie Ling?” tanya jendral Junme ketika melihat bawahannya yang wanita tidak berada disana.


“Seperti biasa jendral, nona Xie Ling pergi mencari mangsa hari ini” sahut Raja Buaya


“Hahaha... “tawa Elang Perak mendengar kata-kata Raja Buaya.


Jendral Junme mengetahui kesukaan dari bawahannya Xie Ling. Hampir setiap tiga hari sekali dia pergi ke kota atau desa untuk menemukan lelaki untuk meningkatkan kekuatannya.


Xie Ling adalah wanita yang berumuran sekitar 30an tahun dan dijuluki wanita penggoda oleh teman-teman monsternya, karena ilmu anehnya dia menggoda para lelaki dan menyerap jiwa mereka untuk meningkatkan kekuatannya.


Hari ini Xie Ling tengah pergi ke desa tempat Xiaozi dan teman-temannya berada. Xiaozi tampak tengah bercerita tentang pertemuannya dengan seekor putri duyung pada teman-temannya.


“Kamu benar-benar beruntung nak bisa bertemu dengan putri duyung” sahut lelaki tua itu.


“Tetapi untuk mendapatkan air matanya tentu akan sulit” lanjut lelaki tua itu kembali.


Xiaozi menganggukan kepalanya, namun dia tidak memikirkan tentang air mata duyung itu. Dia hanya memikirkan cara untuk membantu membebaskan teman-teman putri duyung Mieren itu.


“Kakek, apakah kamu tahu dimana markas jendral monster Junme?” tanya Xiaozi padanya.


Lelaki tua itu terkejut mendengarnya, “Nak, sebaiknya kamu jangan berurusan dengan jendral monster itu. Mereka sangat kuat, kalian bisa mengorbankan nyawa untuk pergi kesana” kata lelaki tua tersebut.


“Kakek, aku telah berjanji dengan putri duyung itu. Sebagai lelaki aku harus memenuhi janjiku. Tolong tunjukkan arah menuju ke markas mereka” pinta Xiaozi


‘Ah...” Lelaki tua itu mendesah mendengarkan alasan dari Xiaozi, dia merasa anak-anak ini tentu mencari mati untuk melawan jendral monster Junme. Namun meskipun dia tidak memberitahunya, dia yakin anak-anak ini pasti akan mencari tahu sendiri nantinya.


“Baiklah, markas jendral monster Junme berada di bukit Shuda di sebelah timur desa ini” sahut lelaki tua tersebut.


“Terima kasih kakek.” sahut Xiaozi


“Raja Penyihir Kambing, bagaimana kondisi pasukan jendral monster Junme?” tanya Xiaozi pada Raja Penyihir Kambing.


“Tuan, jendral Junme memiliki Penyihir Hijau untuk melakukan serangan sihir. Sementara komandan lainnya berada di tahap Emas” sahut Raja Penyihir Kambing.


“Apakah kamu bisa melawan Penyihir Hijau?” tanya Xiaozi terus terang.


Wajah Raja Penyihir Kambing tertegun, “Kekuatan kami seimbang, aku akan mencoba menahannya” sahutnya


Xiaozi mengatur strategi untuk melawan pasukan jendral monster Junme bersama teman-temannya. Setelah itu dia pun pergi melihat situasi di sekitar pedesaan tempat tinggal lelaki tua tersebut.


“Hai lelaki tampan!” sapa seorang wanita saat Xiaozi tengah berkeliling desa itu.


Xiaozi menoleh ke arah wanita tersebut yang menghampirinya dengan gerakan yang anggun. “Ada apa nona?” tanyanya dengan wajah tanpa ekspresi

__ADS_1


__ADS_2