
Bau harum tercium saat wanita itu mendekati Xiaozi yang membuat darahnya mendesir dan jantungnya berdegup kencang.
“Wanita ini begitu menggoda” gumam Xiaozi dengan mata tak berkedip
“Tuan, aku Xie Ling. Siapa namamu?” tanyanya pada Xiaozi
“Aku Xiaozi” sahut Xiaozi singkat
Xie Ling mengelilingi Xiaozi sambil tangannya meraba lengan Xiaozi yang memiliki otot yang padat.
“Aku ingin bertanya sesuatu pada tuan, maukah tuan membantuku?” tanya Xie Ling
“Apa yang bisa kubantu?” tanya Xiaozi dengan wajah merah saat wajah Xie Ling mendekatinya.
Bibir Xie Ling tampak ranum dan mungil membuat wajah Xiaozi semakin merah karenanya. Tatapan mata Xie Ling yang sayu membuat Xiaozi tak berdaya melihatnya.
“Ikutlah denganku tuan, aku butuh bantuan darimu” bisiknya ditelinga Xiaozi
Seperti terkena oleh sihir, Xiaozi pun mengikuti Xie Ling menuju ke penginapan dan masuk ke dalam kamar yang telah disiapkan oleh Xie Ling sebelumnya.
“Tuan, bisakah kamu membantuku? Aku merasa punggungku sakit sekali.” pintanya dengan wajah memelas sambil memperlihatkan punggungnya yang putih mulus.
“Baiklah. Aku akan membantumu” sahut Xiaozi yang kemudian mendekati tubuh Xie Ling.
Melihat Xiaozi bersedia membantunya, Xie Ling segera melepas pakaiannya dan membuat mata Xiaozi terbelalak melihat keindahan yang disuguhkan di depannya.
Xie Ling tanpa mengenakan sehelai benangpun segera berbaring di atas ranjangnya dan berbalik memperlihatkan punggungnya.
“Tuan, tolong pijat punggungku ini. Aku merasa sakit sekali” pintanya memelas kembali
Seperti dicucuk hidungnya, Xiaozi pun berjalan mendekati ranjang dan duduk disamping ranjang tersebut. Lalu perlahan dia memijat punggung Xie Ling dengan kedua tangannya.
“Ah... pelan sedikit tuan. Aku merasa kesakitan” pekiknya manja
“Maaf, aku yang salah terlalu keras memijatnya” sahut Xiaozi yang kemudian memijat punggung Xie Ling dengan perlahan.
“Hah... Ah...” Xie Lin melenguh merasakan kenyamanan saat punggungnya disentuh dan dipijat oleh Xiaozi.
Kemudian setelah beberapa menit dia membalikkan badannya memperlihatkan dadanya yang menjulang cukup besar dan membuat darah Xiaozi semakin berdesir kencang.
__ADS_1
“Ah, aku tidak kuat menahannya” gumam Xiaozi.
Xie Ling bangkit dari tidurnya lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Xiaozi, “Tuan tidak perlu menahannya” Xie Ling lalu mencium bibir Xiaozi dan menarik tubuhnya.
Tidak butuh lama bagi Xiaozi melepas seluruh pakaiannya, mereka tampak bergulat di atas ranjang itu. Serangan satu demi satu dilancarkan oleh Xie Ling namun Xiaozi dapat menahannya dengan memperlambat tempo serangan dirinya.
Tubuh Xiaozi dibalikkan oleh Xie Ling yang berusaha mengambil alih serangan balik terhadap Xiaozi. Xie Ling berusaha mempercepat tempo permainannya untuk bisa segera mencapai puncak dengan waktu sesingkat-singkatnya.
“Ah...A-Aku sudah mau sampai” teriak Xie Ling sambil memejamkan matanya
Xie Ling ingin mencapai puncak malam ini berkali-kali sebelum dia melakukan ritual terakhirnya.
Xiaozi yang tidak melayani serangan liar dari Xie Ling hanya menikmati dengan tenang pertarungan itu. Meskipun Xie Ling berada diatas angin, namun serangannya dikalahkan oleh ketenangan Xiaozi.
Mata Xie Ling terbelalak melihat Xiaozi yang masih tenang menikmati gerakannya. Dia sudah berkali-kali mencapai puncak namun Xiaozi belum juga mengakhirinya.
“Ugh, i-ini sudah yang ke tujuh. Dia sangat tangguh” geram Xie Ling mulai cemas
Xie Ling yang sudah tidak sabaran segera menurunkan tubuhnya ke bagian bawah untuk menyambar langsung dan bermaksud membuat Xiaozi kewalahan. Namun apa yang dilakukannya tidak membuahkan hasil.
Tampak stamina Xie Ling yang semakin terkuras, sementara Xiaozi menikmati semua permainan yang dilakukan oleh Xie Ling padanya. Sudah kesekian kalinya tubuh Xie Ling mengejang, stamina tubuhnya semakin berkurang namun Xiaozi belum juga menampakkan hasil mencapai puncak.
Tubuh Xie Ling merasa lemas, dia belum juga mendapatkan apa yang diinginkannya dari Xiaozi.
Melihat lawannya mulai kewalahan, tidak membuat Xiaozi berpuas diri. Kali ini dia bermaksud mengambil alih pertarungan. Tubuh Xie Ling dibalik dan ditindih olehnya. Kemudian Xiaozi mempercepat gerakannya dan membuat tubuh Xie Ling menggigil gemetar kembali.
“Ugh!” Xie Ling untuk kesekian kalinya merasa staminanya terkuras. Tubuhnya tak berhenti bergetar.
Xiaozi tidak memberikan kesempatan bagi Xie Ling untuk mengambil nafas, dia lalu memacu kembali gerakannya semakin cepat dan lebih cepat lagi.
“Akh.. A..Aku tidak kuat lagi” pekik Xie Ling.
Baru kali ini dia merasa kewalahan melayani permainan lawan yang begitu kuat dan tangguh. Kesadarannya mulai menurun dan pandangannya mulai kabur. Xie Ling akhirnya pingsan tak sadarkan diri setelah permainan ke sekian kalinya dia mencapai puncak.
“Hmm... dasar wanita penggoda. Kamu pikir begitu mudahnya untuk mengalahkan ku di arena kandang milikku ini” gumam Xiaozi merasa puas menaklukkan Xie Ling yang tak sadarkan diri.
Setelah mengenakan pakaiannya, Xiaozi lalu mengikat tubuh Xie Ling dan menotok jalan darahnya agar tidak bisa pergi dari tempat itu selama tiga hari. Dia pun pergi meninggalkan tempat itu dengan wajah puas mempermainkan wanita itu.
Xiaozi tidak peduli apa yang akan dialami oleh Xie Ling dalam tiga hari itu nanti, namun setidaknya dia tidak akan mengganggu dirinya lagi.
__ADS_1
Keesokan harinya, Xiaozi berangkat menuju bukit Shuda, markas dari jendral monster Junme. Tidak ada benteng yang menjaga kediaman jendral monster Junme, namun para penjaga banyak yang berkeliling di halaman kediaman itu.
“Jendral Junme, keluarlah. Aku datang untuk menantangmu” teriak Xiaozi dengan lantang.
Segera para penjaga yang mendengar teriakan itu berlari mendekati Xiaozi dengan senjata yang telah mereka siapkan. “Siapa kamu berani datang menantang jendral?” teriak salah satu penjaga.
“Lingjian, hajar mereka!” perintah Xiaozi pada Pedang Pemburu Rohnya.
Pedang Pemburu Roh meraung di udara lalu menyambar para pasukan monster yang terkejut tidak menyangka pedang lawan menerjang dengan kecepatan tinggi ke arah mereka.
Pekikan kematian menggema dari mereka, seluruh mata para monster terbelalak tidak menyangka serangan itu. Qiongqi dan Wuya juga tidak berdiam diri, demikian juga Raja Penyihir Kambing juga menunjukkan kesetiaannya dengan membantu menyerang para monster itu.
“Siapa yang berani berbuat onar di wilayah jendral Junme” teriak Raja Buaya dan Elang Perak yang datang setelah mendengar teriakan menyayat hati dari pasukan mereka.
“Suruh jendral kalian keluar melawanku. Atau aku akan membasmi kalian semuanya” sahut Xiaozi meremehkan mereka.
“Kamu terlalu sombong!” teriak Raja Buaya yang segera melompat untuk menyerang Xiaozi
GRROOAARR...
“Aku lawanmu” Qiongqi segera menghadang Raja Buaya mendekati Xiaozi.
Elang Perak yang melihat Raja Buaya tidak berhasil mendekati Xiaozi, segera terbang untuk menyerang Xiaozi dari atas, namun serangannya juga dipatahkan oleh Wuya.
“Aku lawanmu” kata Wuya pada Elang Perak.
Mata kedua komandan itu menjadi merah melihat mereka gagal menyerang ke arah Xiaozi yang sombong itu.
“Qiongqi, Wuya, jangan buang waktu terlalu lama dengan mereka yang lemah” teriak Xiaozi memanasi lawannya.
“Baik tuan” sahut Qiongqi
Wajah Raja Buaya dan Elang Perak menjadi gelap mendengar teriakan Xiaozi itu, mereka segera mengerahkan kekuatan tahap Emas dan menyerang ke arah Qiongqi dan Wuya.
Qiongqi dan Wuya mengikuti perintah Xiaozi, mereka juga tidak bermain-main dan langsung mengeluarkan jurus terkuat mereka untuk melawan kedua komandan pasukan jendral Junme itu.
“Raja Penyihir Kambing, aku serahkan para monster ini padamu. Aku akan masuk ke dalam rumah itu.” perintah Xiaozi pada Raja Penyihir Kambing
“Baik tuan. Ini hal yang mudah. Aku akan menyusulmu sebentar lagi” sahutnya
__ADS_1