
Xiaozi menyerang ganas ke arah Chen Yan karena dia dengan sengaja menyasar bagian bawah tubuhnya menggunakan senjata rahasia. Chen Yan melarikan diri dari serangan Xiaozi yang mengejarnya.
Wajah Shan Mui menjadi gelap melihat kelakuan mereka berdua, dia sangat kesal menyaksikan Xiaozi melupakan dirinya dan mengejar Chen Yan yang melarikan diri.
Dengan bersungut-sungut dia kembali ke kediaman Guru Liu Ba untuk menyiapkan makanan bersama Wuya.
Sekitar 2 jam kemudian, He Xian tampak keluar dari ruang pelatihan khusus setelah berhasil meningkatkan kultivasinya satu tingkat menjadi tahap perunggu tingkat 5 akhir. Dia tampak lebih bersemangat dengan keberhasilannya.
Tampak juga Xiaozi datang berjalan berdua dengan Chen Yan yang terlihat berjalan dengan sedikit aneh. Mata Shan Mui berkedut melihat cara berjalan Chen Yan, pikirannya membayangkan hal aneh telah terjadi pada mereka berdua.
Namun Xiaozi berjalan seperti biasa, namun senyum di bibirnya tampak seperti senyum kemenangan sambil sesekali melirik ke arah Chen Yan yang menundukkan wajahnya yang merah.
“Mari kita makan bersama-sama” ajak Guru Liu Ba setelah melihat semuanya datang.
Shan Mui mengambil tempat duduk di depan Xiaozi dan menatapnya dengan tatapan marah seakan ingin melahap dirinya. Melihat tatapan itu, Xiaozi merasa merinding namun dia tidak berani melihatnya lebih lama.
Chen Yan makan sambil menundukkan kepala menyembunyikan wajahnya yang merah, dia terlihat kelelahan karena sejak tadi melarikan diri hingga dirinya tertangkap oleh Xiaozi.
He Xian dan Guru Liu Ba tidak terlalu mempedulikan hal itu, namun Wuya tersenyum geli melihat pada ketiga Xiaozi, Shan Mui dan Chen Yan. Tiba-tiba dia melotot melihat ke arah wajah Chen Yan.
“Nona Chen, kenapa banyak sekali tanda berwarna merah membekas di sekitar wajah dan leher nona? Apakah nona sakit?” tanya Wuya menyipitkan matanya.
Mata Shan Mui dan Chen Yan berkedut mendengar hal itu. Shan Mui segera memalingkan wajahnya meneliti wajah dan leher Chen Yan. Melihat dirinya dilihat oleh orang-orang, Chen Yan merasa malu lalu menyembunyikannya tanda-tanda itu.
Berbeda dengan Xiaozi, dia dengan tenang melahap makanannya. Dia tersenyum mengingat apa yang telah dilakukannya pada Chen Yan saat dia berhasil menangkapnya.
“Seharusnya sekarang kamu tidak akan berani lagi menggodaku” gumamnya dalam hati sambil tersenyum
__ADS_1
Melihat situasi ini membuat nafsu makan Shan Mui menjadi hilang, dia lalu menghentikan makannya dan pergi meninggalkan meja makan ke arah reruntuhan puing dengan hati kesal.
Wuya sepertinya mengerti sesuatu melihat keadaan itu. Berbeda dengan He Xian dan Guru Liu Ba yang tidak terlalu peduli dengan masalah mereka.
“Xiaozi, pergilah temui nona Shan. Dia melupakan buah kesukaannya ini. Bawakanlah untuknya” kata Wuya menyadari hal itu.
“Kenapa harus aku?” Xiaozi tidak peka dengan situasi itu. Dia sendiri sedang menikmati makannya, kenapa dia harus pergi membawakan buah pada Shan Mui.
Wuya melototkan matanya melihat ke arah Xiaozi, membuat hati Xiaozi bergidik memandangnya, “Oke...Oke, aku akan pergi” sahut Xiaozi sambil membawa beberapa buah untuk Shan Mui dan dirinya sendiri.
Shan Mui tampak duduk murung di sebuah batu di sudut reruntuhan puing di Bukit Kematian. Dia melihat kosong ke arah hutan sekitar Bukit Kematian yang mulai tampak gelap.
Xiaozi datang membawakan beberapa buah kesukaannya dan duduk di sebelahnya. Menyadari kedatangan Xiaozi, Shan Mui memalingkan wajahnya berusaha menahan kekesalannya.
“Ada perlu apa kamu datang kemari?” tanya Shan Mui dingin
“Aku membawakan buah kesukaanmu, tadi kamu lebih cepat menyudahi makanmu” sahut Xiaozi sambil menaruh buah itu di sebelah Shan Mui
Xiaozi tidak mengerti kenapa Shan Mui terlihat marah padanya dia tidak merasa melakukan kesalahan apapun. Kemudian dia duduk di sebelah Xiaozi dan melihat ke arahnya. “Kamu kenapa?” tanya Xiaozi tidak mengerti
Shan Mui menoleh ke arah Xiaozi dan memandangnya dengan kesal. Dia geram karena Xiaozi tidak mempedulikan perasaannya melakukan tindakan hari ini mengejar Chen Yan.
“Apa yang kamu lakukan dengan Chen Yan?” tanya Shan Mui kesal dengan tatapan tajam.
“Ng...Anu, aku hanya memberinya pelajaran agar tidak menggodaku lagi di masa depan” sahut Xiaozi sambil melihat ke arah lain bersembunyi dari tatapan mata Shan Mui.
“Tanda apa yang membekas warna merah di wajah dan leher Chen Yan? Apa yang telah kalian lakukan?” selidik Shan Mui yang membayangkan hal aneh. Jantungnya berdegub kencang menunggu jawaban dari Xiaozi, dia berusaha mendengarnya dan menahan air matanya agar tidak menetes keluar.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan dari Shan Mui, Xiaozi pun tersenyum, “Ah, apakah kamu membayangkan hal-hal aneh lagi?” goda Xiaozi
Wajah Shan Mui menjadi gelap karena pikirannya tertangkap basah oleh Xiaozi. Dengan kesal dia memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menyembunyikan perubahan wajahnya. “Jangan sembarangan menebak” sahutnya dingin.
“Kamu cemburu?” kata Xiaozi secara langsung seakan-akan menghantam harga diri Shan Mui.
“Siapa yang cemburu?” sahut Shan Mui dengan nada tinggi.
Xiaozi tersenyum geli melihat wajah Shan Mui yang kini menjadi merah, jika dia menggoda lagi wajah itu akan menjadi hangus karena kekesalannya.
“Baiklah nona Shan, aku tidak melakukan hal-hal aneh dengan nona Chen. Aku hanya mengoleskan beberapa bubuk panas di sekitar wajah dan lehernya setelah menangkapnya” sahut Xiaozi dengan jujur.
Shan Mui menoleh ke arah Xiaozi dengan wajah tidak percaya, “Mengapa kamu melakukan itu?”
“Karena dia menyerang ini” sahut Xiaozi sambil menunjuk ke arah bagian bawah perutnya.
“Ah sial”, mata Shan Mui tanpa sadar menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Xiaozi dan membuat dirinya merasa matanya ternodai setelah melihat ke arah itu.
“Benda ini sangat penting untukku. Jika ini terluka, bagaimana aku menghadapi masa depan. Apalagi jika sampai terpotong, bagaimana mau menyambungnya” ujar Xiaozi geram mengingat hal itu.
Wajah Shan Mui menjadi merah, dalam hatinya merasa kesal namun juga geli mendengar jawaban dari Xiaozi. Dia tidak tahu apakah harus marah atau tertawa melihat wajah Xiaozi yang serius seperti itu.
“Cih, untuk satu itu aku setuju dengan Chen Yan. Toh benda itu tidak berguna” sahut Shan Mui dingin yang didengar seperti tantangan di telinga Xiaozi dan membuat matanya berkedut dan wajahnya memerah.
Kali ini dia merasa harga dirinya sebagai lelaki dipertaruhkan oleh kata-kata yang didengarnya dua kali hari ini. Jiwa dan karakternya sebagai lelaki tampan dan perkasa di dunia asalnya seakan-akan dipertaruhkan di dunia ini.
Dia lalu menarik tubuh Shan Mui dalam dekapannya. Wajah Shan Mui berada sangat dekat dengan wajah Xiaozi hingga dia bisa merasakan hawa nafas dari Shan Mui di wajahnya.
__ADS_1
Kedua tangan Shan Mui menahan tubuhnya di dada Xiaozi, wajahnya berubah merah, dia menggigit bibirnya sendiri menahan gejolak di hatinya. Jantungnya berdebar sangat kencang. ”A... Apa yang mau kamu lakukan?” Shan Mui gugup melihat mata Xiaozi seperti mau melahap tubuhnya.
“Aku akan menunjukkan kegunaan benda itu padamu” bisik Xiaozi di telinga Shan Mui membuat jantungnya seakan-akan mau melompat keluar.