Pedang Pemburu Roh

Pedang Pemburu Roh
BAB 82 | Pulau Duyung – Membebaskan para duyung


__ADS_3

Pikiran Xie Ling menjadi kacau dia tidak percaya hal itu. Tubuhnya bergetar karena kemarahan pada dirinya yang pergi meninggalkan teman-temannya.


“Nona Xie Ling, tim pemburu monsterku telah membunuh seluruh pasukan jendral monster Junme. Jika kamu bagian dari mereka, jangan berpikir untuk melawan” sahut Xiaozi


Mendengar perkataan Xiaozi, wajah Xie Ling berubah menjadi putus asa. Dia tidak menyangka kekuatan Xiaozi sebesar itu. Dia hanya menghela nafasnya, “Baiklah, aku berjanji untuk mendengarkan perkataanmu. Lepaskan aku!” pintanya


“Baik. Tapi kamu harus tahu, aku sudah memberimu satu kesempatan ini. Jadi jangan sia-siakan” sahut Xiaozi sambil melepaskan ikatan dan totokan pada tubuh Xie Ling.


Plak!


Setelah ikatan dan totokannya lepas, Xie Ling segera menampar wajah Xiaozi dengan kesal. “Itu karena membiarkanku terikat tanpa busana di tempat ini dan menjadi tontonan orang-orang” sahutnya kesal setengah mati. Sebagai orang yang memiliki julukan wanita penggoda, harga dirinya menjadi tercemar oleh kejadian ini.


Xiaozi hanya tersenyum melihat wajah Xie Ling yang kesal padanya, “Baik. Mari ikut denganku” ajaknya


Xie Ling lalu pergi mengikuti Xiaozi untuk bertemu dengan teman-temannya di markas jendral monster Junme. Wajah Xie Ling tampak gelap saat melihat kediaman jendral Junme telah terbakar oleh mereka.


“Tuan, kami sengaja membakar tempat ini untuk memancing jendral Junme datang” kata Qiongqi yang mendekati mereka.


“Siapa nona ini tuan?” tanya Wuya yang juga mendekat dan menyipitkan matanya pada Xie Ling.


“Perkenalkan ini Xie Ling, mantan komandan pasukan jendral Junme” sahut Xiaozi pada mereka semua


Xie Ling terkejut, dia tidak menduga Xiaozi telah mengetahui tentang dirinya. Pantas saja dia tidak terpengaruh oleh godaannya kemarin.


“Tuan, apakah dia bia dipercaya?” tanya Wuya kembali dengan wajah waspada


Xiaozi memandang ke arah Xie Ling, “Aku sudah mengalahkannya sekali. Jika dia berani melawanku lagi. Aku bisa membunuhnya dengan mudah” sahut Xiaozi dengan tatapan tajam pada Xie Ling


Jantung Xie Ling berdegup melihat tatapan Xiaozi, dia merasa ketakutan karenanya. “A-Aku tidak akan berani” sahutnya


“Nona Xie, katakan dimana jendral Junme mengurung para duyung dan teman-temannya” tanya Xiaozi kemudian


Xie Ling menatap pada Xiaozi, dia baru menyadari tujuannya untuk membiarkan dirinya tetap hidup. Dia pun merenungkan hal itu, pilihan hanya ada dua baginya, bekerja sama atau mati.


“Baiklah, aku akan mengantar kalian kesana. Tempat itu hanya aku dan jendral Junme yang tahu. Kalian beruntung aku bisa mengantar kalian ke tempat itu” sahut Xie Ling

__ADS_1


Xie Ling lalu mengantar Xiaozi dan teman-temannya menuju ke sisi timur pulau yang di penuhi oleh karang-karang terjal dan tidak ada orang lain yang berada di tempat itu.


“Tempat ini tidak pernah didatangi oleh penduduk pulau disini karena mereka takut dengan adanya monster laut disini” kata Xie Ling.


Mata Xiaozi melihat ke sekeliling tempat itu yang memang dipenuhi oleh karang-karang yang terjal dan juga deburan ombak yang sangat tinggi. Xie Ling lalu mengantar mereka ke sebuah gua tersembunyi di balik semak belukar yang tidak tampak secara kasat mata.


“Siapa itu?” teriak dua penjaga monster yang menjaga tempat itu


“Aku” sahut Xie Ling yang kemudian mendekati kedua penjaga tersebut.


“Ah, komandan Xie” maafkan kami kata dua penjaga itu sambil memberi hormat


BUGH... BUGH...


Xie Ling menjatuhkan kedua penjaga itu hingga pingsan. Xie Ling lalu memanggil Xiaozi dan yang lainnya untuk masuk ke dalam gua tersebut.


Tampak setelah turun memasuki gua tersembunyi itu, tempat di dalamnya sangat luas. Xiaozi melihat sekelilingnya “Siapa itu?” tiba-tiba beberapa penjaga datang menemui mereka namun Qiongqi dan Wuya sudah bergerak terlebih dahulu membungkam mereka semua.


Di sudut gua tersebut, tampak jendral monster Junme tengah bermeditasi sementara di sekitarnya terlihat beberapa putri duyung dan para manusia ikan yang dikurung olehnya.


Mata Xiaozi berkedut melihat Putri Mieren terbaring disamping Jendral monster Junme dalam keadaan tak sadarkan diri.


Jendral Junme terkejut melihat datangnya Xiaozi bersama teman-temannya. Matanya juga merah melihat Xie Ling berada diantara mereka.


“Xie Ling, apa kamu juga bermaksud mengkhianatiku?” teriak Jendral Junme. Mendengar teriakan itu, Xie Ling tidak tahu harus menjawab apa dia menjadi gugup dan gemetar karenanya.


Jendral Junme yang marah langsung menyerang ke arah Xie Ling yang berkhianat padanya. Namun Xiaozi segera menahan serangannya dengan kekuatannya. Sementara Qiongqi dan Wuya menjaga Xie Ling untuk melindungi dan sekaligus mengawasinya.


“Aku lawanmu jendral” kata Xiaozi pada jendral Junme


“Cih, bocah kecil sepertimu. Aku akan membunuhmu dalam satu jurus” kata jendral Junme dengan wajah gelap.


Jendral Junme segera mengeluarkan senjata tombak miliknya. Tombak itu memiliki mata 3 yang disebut juga dengan trident. Xiaozi juga langsung mengeluarkan Pedang Pemburu Roh miliknya.


Mereka bersiap untuk mengerahkan seluruh kekuatan puncak untuk pertarungan itu. Jendral Junme mengerahkan kekuatan tahap Berlian tingkat 1 nya yang baru saja dikuasainya. Sementara Xiaozi mengerahkan kekuatan tahap Berlian tingkat 2 nya.

__ADS_1


Mata Jendral Junme terkejut merasakan kekuatan Xiaozi yang ternyata berada di atas dirinya.


“Sial, bocah ini lebih kuat dari dugaanku” gumamnya dalam hati kesal


Xiaozi juga tidak ingin berlama-lama, dia merasa cemas dengan keadaan Putri Mieren yang tak sadarkan diri itu. Segera Xiaozi menyerang Jendral Junme dengan jurus Niat Pedang nya, namun permainan tombak Jendral Junme tidaklah lemah.


Jurus tombak trident jendral Junme sangat ganas, serangannya seperti ombak laut yang datang silih berganti. Namun hal itu tidak membuat Xiaozi takut. Dia semakin bersemangat untuk membalas serangan dari jendral Junme.


Sudah lebihd ari sepuluh jurus berlalu, pertarungan masih tetap berlanjut. Wajah Xie Ling tegang menyaksikan pertarungan itu. Dia berharap Xiaozi memenangkan pertarungan itu, karena jika tidak, nasibnya akan lebih buruk karena berani mengkhianati jendral Junme.


Puluhan jurus telah berlalu, akhirnya Xiaozi mengeluarkan jurus puncak Jalan Pedang untuk mengakhiri pertarungan ini.


Jendral Junme juga demikian, dia mengeluarkan jurus puncak Tombak Langitnya untuk menahan dan menyerang Xiaozi meskipun dia tahu kekuatan kultivasinya kalah dari Xiaozi tetapi pengalaman tempurnya lebih tinggi darinya.


Xiaozi mengangkat Pedang Pemburu Roh dan menunjuk ke arah jendral Junme, sedangkan jendral Junme mengangkat tombaknya tegak lurus ke atas kemudian memutarnya. Pusaran angin tercipta dari putaran tombak itu dan bersuara mengerikan.


“Jurus Pusaran Tombak Langit sungguh mengerikan” gumam Xie Ling yang mengetahui jurus tersebut.


Namun Xiaozi tampak tenang, dia menenangkan dirinya dan mengatur nafas untuk mengeluarkan jalan Pedang dan menyerang dengan efektif pada lawannya.


Kemudian tampak Jendral Junme melompat dan menyerang ke arah Xiaozi, demikian juga Xiaozi juga melompat ke depan menyerang jendral Junme


BUMM!


Ledakan terdengar, Xiaozi berdiri memunggungi jendral Junme yang berdiri dengan mata terbelalak. Jendral Junme tidak menyangka dia dikalahkan oleh anak kecil Xiaozi. Dari mulut jendral Junme tersembur darah segar, kemudian garis merah tampak di tubuhnya dan menyemburkan darah dari sekujur tubuhnya itu.


Xiaozi berjalan tanpa mempedulikan kondisi jendral Junme menuju Putri Mieren untuk memeriksa keadaannya. Setelah melihat dia hanya pingsan karena kelelahan, Xiaozi lalu mengeluarkan obat pemulihan untuk mengobati kelelahan dan mengembalikan stamina tubuh putri Mieren.


Tubuh Jendral Junme ambruk tak bernyawa saat Xiaozi memberikan obat pada Putri Mieren. Teman-teman Xiaozi segera membebaskan teman-teman Putri Mieren dan melihat mereka dengan senang kembali ke tengah lautan.


Putri Mieren yang sadar sangat senang meliaht Xiaozi dan juga teman-temannya yang telah bebas. Dia dengan suka cita melompat ke lautan untuk bergabung bersama teman-temannya.


“Terima kasih Xiaozi” teriak Putri Mieren dengan hati senang bermain bersama teman-teman mereka lagi.


Xiaozi sangat senang akhirnya bisa melepaskan mereka semua untuk kembali ke lautan. “Tuan, lalu bagaimana dengan apa yang kita cari?” tanya Wuya mengingatkan Xiaozi

__ADS_1


“Ah, aku lupa untuk meminta air mata duyung padanya” Xiaozi tampak muram karenanya.


Karena sudah tidak ada lagi hal lainnya, mereka lalu kembali dari gua tersebut untuk menuju ke desa tempat mereka tinggal sebelumnya


__ADS_2