Pedang Pemburu Roh

Pedang Pemburu Roh
BAB 84 | Gunung Naga – Membebaskan para tawanan


__ADS_3

Gunung Naga tampak sepi di depan mereka, namun di dalam gunung penuh dengan para tawanan yang dipekerjakan paksa sebagai pekerja tambang oleh para monster pasukan jendral Yime.


Tampak Shan Mui, Chen Yan dan He Xian bekerja berat di penambangan tersebut, mereka hanya dapat istirahat sedikit setiap harinya. Tubuh mereka terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Namun kekuatan mereka telah meningkat beberapa tahap, tetapi mereka menyembunyikannya dari para penjaga pasukan monster.


Xiaozi dan teman-temannya segera mencari tempat untuk bisa menyusup ke dalam tambang para monster itu. Tampak di depan sebuah gua terdapat dua orang monster yang sedang berjaga.


“Tuan, biarkan aku yang menggoda mereka,” kata Xie Lin.


Xiaozi mengganggukkan kepala membiarkan Xie Lin berjalan dengan gemulai mendekati para penjaga tersebut. Kedua penjaga itu terkejut saat melihat kedatangan dari Xie Lin. Mereka mencium bau monster darinya. “Siapa kamu?” tanya salah satu dari penjaga itu.


“Aku Xie Lin. Bawahan dari Jendral Junme,” sahutnya


“Xie Lin? Apakah kamu wanita penggoda yang terkenal itu?” tanya seorang penjaga lainnya sambil mendekati Xie Lin.


Mata kedua monster itu bercahaya melihat tubuh Xie Lin yang indah dan tampak menggoda. Mereka berdua menelan ludah mereka saat Xie Lin mendekati mereka dan mencium bau harum dari tubuhnya.


Mereka berdua terbuai oleh godaan tersebut, namun mereka tidak menduga Xie Lin justru menikam mereka dengan dua pisau di tangannya dan membunuh mereka tanpa berkedip.


Xie Lin lalu memberikan tanda aman paka Xiaozi dan teman-teman mereka untuk masuk ke dalam gua tersebut. Di dalam gua mereka berjalan dengan berhati-hati agar tidak menimbulkan kegaduhan.


Tak jauh dari mulut gua mereka mendengar suara riuh penambangan ketika gunung Naga itu dibelah dengan menggunakan palu dan besi tajam untuk memecahkan batu dan mencongkelnya dari dinding perut gunung naga.


Xiaozi dan teman-temannya melihat sekeliling mereka. Tampak para tawanan dipaksa bekerja keras dan dijaga oleh para pasukan monster disekitar mereka. Xiaozi mencari teman-temannya diantara mereka. Namun dia tidak menemukannya ditengah banyaknya para pekerja seperti itu.


“Apa yang harus kita lakukan tuan?” tanya Wuya disamping Xiaozi.


“Karena sudah sampai ditempat ini, satu-satunya cara adalah dengan menyerang mereka,” sahut Xiaozi sambil melihat sekeliling yang cukup banyak penjaganya.


“Bagus!” Qiongqi tampak bersemangat mendengar rencana penyerangan


“Baik, sasaran kita adalah membunuh semua para penjaga. Gunakan kecepatan dan juga serangan sekaligus dengan sihir atau hal lainnya,” bisik Xiaozi.

__ADS_1


“Lingjian, bunuh semua penjaga monster!” teriak Xiaozi memerintahkan Pedang Pemburu Roh untuk membunuh semua penjaga monster yang menjaga para tawanan.


Segera Pedang Pemburu Roh mendengung dan melesat dengan kecepatan kilat menusuk semua penjaga monster di tempat penambangan.


Seluruh penjaga tidak mengetahui apa yang menyerang teman-teman mereka karena kecepatan Pedang Pemburu Roh yang sangat cepat sudah menembus tubuh para penjaga itu.


Saat penjaga lain melihat ke arah datangnya suara, mereka tidak bisa melanjutkan berteriak karena leher mereka telah di tebas langsung oleh Xiaozi dan teman-temannya.


Xiaozi dan teman-temannya membuat keributan dengan membunuh semua penjaga dan membebaskan para tawanan tersebut.


Segera suasana di tambang menjadi riuh ketika Xiaozi dan teman-temannya berhasil membunuh para penjaga dan melepaskan rantai yang mengikat mereka.


“Ada apa ribut-ribut di ujung lorong ini?” gumam Shan Mui saat mendengar kepanikan di ujung lorong lainnya.


Para penjaga di lorong itupun terkejut mendengar teriakan di lorong lain. Mereka segera berkumpul untuk pergi menyelidiki ke tempat keributan tersebut.


Namun ketika mereka keluar dari lorong itu, sebuah pedang telah masuk dan menusuk mereka.


“Pedang Pemburu Roh? Xiaozi?” Shan Mui berteriak ketika melihat Pedang Pemburu Roh telah datang dan memutus rantai mereka bertiga. Shan Mui, Chen Yan dan He Xian segera berlari menuju ke lorong tempat Xiaozi berada.


“Xiaozi!,” teriak Chen Yan yang juga gembira melihatnya.


Mendengar teriakan dari Chen Yan, membuat Xiaozi memalingkan wajahnya ke arah suara tersebut. Hatinya merasa senang melihat Chen Yan, Shan Mui dan He Xian yang tampak sehat meskipun agak kurus dari sebelumnya.


Mereka pun bertiga berlari mendekati Xiaozi. Chen Yan segera memeluk Xiaozi dan membuat mata Shan Mui berkedut lalu wajahnya memerah kesal.


Kemudian Chen Yan dengan berani mencium bibir Xiaozi dan wajahnya berubah merah. Mata Xiaozi terbelalak tidak percaya dengan kejadian yang tiba-tiba itu. He Xian menggelengkan kepalanya sambil memejamkan matanya.


Wajah Shan Mui menjadi gelap melihat hal itu, dia merasa kesal karena kecolongan lebih dulu oleh Chen Yan.


“Hihihi... “ Xie Ling justru tertawa melihat hal itu

__ADS_1


“Kenapa kamu tertawa?” tanya Qiongqi pada Xie Ling.


“Aku merasa memiliki calon murid baru” sahut Xie Ling pada Qiongqi.


Mata Xiaozi masih terbelalak mendengar kata-kata Xie Ling, Xiaozi berusaha menarik dirinya namun Chen Yan memeluknya lebih erat seakan-akan tidak ingin melepaskannya.


“Aku merindukanmu” bisiknya pelan


“Ah, aku merasa akan segera mati” gumam Xiaozi dalam hatinya


Benar saja, kaki Xiaozi kesakitan diinjak oleh seseorang yang sedang marah dan lengannya dicubit keras hampir membuat kulitnya terkelupas.


Xiaozi berteriak tanpa suara merasakan sakit yang luar biasa pada kaki dan lengannya, “Tolong aku!” pintanya dalam hati melihat sekelilingnya.


He Xian berjalan ke tempat lain sambil berpura-pura tidak memperhatikannya. Qiongqi dan Wuya berpura-pura berjalan ke lorong lain memeriksa para tawanan.


Xie Ling dan Raja Penyihir telah hilang dari tempat mereka semula. Kini hanya dirinya, Chen Yan dan Shan Mui yang berada disana. Lebih aneh lagi, para tawanan lain juga sudah berlarian keluar dari gua tambang itu.


“Astaga, kenapa semua bisa menghilang secepat itu? Atau apakah tadi waktu berhenti?” pikir Xiaozi.


“Ehm... “ Shan Mui berdehem menghentikan Chen Yan dari memeluk Xiaozi.


“Eh, maaf Shan Mui. Aku terlalu terbawa perasaan jadi lupa ada dirimu dibelakangku” kata Chen Yan sambil tersenyum padanya.


“Ayo kita pergi dari tempat ini!” ajak Shan Mui dengan hati kesal


Dia berjalan mendahului mereka dengan wajah bersungut-sungut saking kesalnya. “Baru saja bertemu sudah membuat hatiku kesal,” gumamnya dalam hati


Teman-teman mereka telah menunggu semua di luar gua. Hanya Shan Mui, Chen Yan dan Xiaozi yang terakhir keluar dari gua tersebut.


“Aku rasa kita sudah membuat para pasukan monster datang ketempat ini,” kata Xie Ling selanjutnya

__ADS_1


“Bersiaplah!” kata Xiaozi pada teman-temannya.


Xiaozi dan teman-temannya segera bersiap untuk melawan pasukan monster Jendral Yime yang datang ke gua penambangan itu setelah mendengar ada keributan di gua tersebut.


__ADS_2