
Melihat serangannya gagal, kalajengking itu bergerak lagi untuk menyerang ke arah Xiaozi. Kalajengking lainnya pun mulai ikut menyerang masing-masing dari mereka.
Xiaozi tidak memberikan ampun melihat begitu banyaknya kalajengking yang datang. Dia membunuh mereka dengan ganasnya. Namun kalajengking selalu muncul kembali seakan-akan kalajengking itu tidak ada habisnya membuat mereka berempat menjadi kelelahan.
“He Xian, bisakah kamu menggunakan sihir untuk memusnahkan mereka sekaligus?” tanya Xiaozi.
He Xiam memikirkan cara untuk mengalahkan seluruh kalajengking yang datang, lalu dia mengingat sebuah jurus dari buku sihir Ratu Ular yang pernah dibacanya. Segera dia mengeluarkan jurus sihir halilintar dengan tongkat sihirnya.
Xiaozi melindungi He Xian yang sedang mengeluarkan jurus sihirnya. Segera, He Xian membuat awan hitam mengelilingi padang pasir tersebut, lalu badai petir muncul dan menyambar sekelilingnya. Petir itu menyambar para kalajengking yang muncul dan membuat mereka tidak berani bergerak lalu mundur bersembunyi kembali.
“Siapa yang berani mengusik binatang peliharaan kami?” tiba-tiba sebuah suara muncul melayang di atas gurun pasir itu.
Tampak seorang wanita berpakaian hitam muncul dengan hiasan bulu-bulu burung pada pakaiannya.
“Wuya, lama tak bertemu” teriak He Xian saat dia melihat wanita berpakaian hitam itu.
“Ah, He Xian... Senang melihatmu kembali. Aku tidak tahu kamu yang datang kemari.” wajah wanita itu berubah saat melihat He Xian berada diantara mereka.
Wanita itu lalu menggerakkan tangannya dan mengubah alam gurun pasir itu kembali normal menjadi hutan belantara di kaki bukit Kematian. Wuya segera berlari menuju He Xian dan memeluknya.
Wajah He Xian memerah saat merasakan dua gundukan lembut menyentuh dadanya, namun dia tidak bisa menghindari pelukan dari wanita itu yang secara tiba-tiba dan kemudian tersenyum padanya.
Mata Xiaozi dan teman-temannya berkedut melihat kejadian itu, dia tidak menyangka He Xian yang seorang biksu ternyata dekat dengan seorang wanita.
“Ternyata kamu sudah punya seorang wanita. Pantas saja kamu tidak mudah tergoda oleh wanita lain” sindir Xiaozi pada He Xian.
Wajah He Xian menjadi gelap mendengar kata-kata Xiaozi, dia lalu melepaskan pelukan dari wanita tersebut, “Ini tidak seperti yang kalian sangka” sahutnya.
“Benarkah? Ini pasti bukan ilusi kan” sahut Chen Yan yang juga mulai ikut menggodanya.
Mata He Xian berkedut karenanya, dia merasa malu pada teman-temannya yang berpikiran aneh tentang dirinya, “Ini gara-gara kamu Wuya” gerutunya
Wanita yang dipanggil Wuya itu lalu tersenyum pada teman-teman He Xian sambil menundukkan kepalanya, “Perkenalkan namaku Wuya. Aku pelayan dari tuan He Xian” sahutnya sambil tersenyum genit.
__ADS_1
Mendengar kata-kata Wuya malah membuat mata ketiga temannya semakin terkejut.
“Aku tidak menyangka tuan He Xian memiliki pelayan yang cantik” goda Xiaozi kembali sambil tersenyum
“Ka...Kalian. Ini tidak seperti yang kalian sangka. Tunjukan wujud aslimu Wuya” sahut He Xian kembali
He Xian tidak ingin teman-temannya menjadi salah paham lebih jauh mengenai hubungan mereka. Segera dia bertepuk tangan untuk memaksa Wuya berubah ke dalam bentuk aslinya.
CLING!
Wuya menghilang berubah menjadi seekor burung gagak hitam, “Maafkan aku tuan, tapi aku suka berubah menjadi wanita tadi” sahut burung gagak tersebut.
Melihat perubahan wujud wanita itu menjadi burung gagak, mata ketiga teman He Xian terbelalak. Sambil mengusap matanya Xiaozi melihat ke arah Wuya, “Aku tidak tahu seleramu cukup aneh tuan He Xian. Aku tidak menyangka kamu menyukai seekor burung gagak” kata Xiaozi dengan santainya
“Sialan kau!” He Xian menjadi kesal oleh godaan Xiaozi, dia segera memutar tongkat sihirnya mengejar Xiaozi untuk memukulnya
“Apa kamu ingin aku mengubahmu menjadi kadal?” teriak He Xian yang kesal
“UUeeeekkk....” Xiaozi tiba-tiba mengingat kembali peristiwa kadal yang telah lama dilupakan olehnya.
“A..Aku menyerah!” sahut Xiaozi tiba-tiba setelah dia merasa isi perutnya tersedot mau keluar.
Shan Mui dan Chen Yan tertawa melihat tingkah kedua lelaki dalam tim mereka itu. Demikian juga Wuya yang ikut merasa geli melihat tingkah kedua lelaki itu.
“Baiklah. Mari kita pergi menemui Guru” kata Wuya selanjutnya yang kemudian berubah kembali menjadi wujud wanita cantik tadi.
Mereka pun berempat berjalan mengikuti Wuya menuju ke atas Bukit Kematian untuk bertemu dengan Guru Liu Ba. Di sebuah puing bangunan yang berada di puncak bukit, tampak seorang lelaki duduk disana berambut hitam panjang dengan pakaiannya yang serba hitam.
Lelaki itu tengah asik membaca sebuah buku sambil duduk bersandar pada dinding puing bangunan itu.
“Wuya, Siapa yang telah memasuki hutan belantara kita” tanya lelaki itu tanpa melihat ke arah mereka yang datang karena asik membaca bukunya.
“Guru!” teriak He Xian saat melihat gurunya disana.
__ADS_1
Mendengar teriakan He Xian, lelaki tua itu yang ternyata guru He Xian, Liu Ba sang penyihir hitam menghentikan membaca bukunya dan menoleh ke arah datangnya suara itu.
“Hmm.. rupanya kamu yang datang He Xian. Kemana saja kamu selama ini, anak nakal” kata Gurunya.
“Anak nakal?” mata ketiga temannya tertegun dan melihat ke arah He Xian yang disebut nakal oleh Gurunya.
He Xian tersenyum kecut dengan wajah merah saat gurunya mengatakan dirinya nakal. “Hehehe... maaf Guru, aku sedang bermain-main ke tempat klan ular untuk mencari tanaman obat rumput dewa” sahutnya
“Sudah aku katakan, tempat itu sangat berbahaya. Kamu tidak ditangkap oleh adik seperguruanku yang gila itu kan?” tanya Guru Liu Ba
“Anu.. sebenarnya aku ditangkap olehnya dan hendak dikonsumsi untuk meningkatkan ilmu sihirnya” sahut He Xian menundukkan wajahnya
Mata Guru Liu Ba menyipit melihat ke arah He Xian yang mengatakan hal sebenarnya, “Mengapa kamu bisa selamat?” tanyanya kembali
“Itu karena bantuan teman-temanku ini” sahut He Xian sejujurnya.
Liu Ba melihat ke arah Xiaozi dan teman-temannya, dia menyipitkan matanya saat melihat ke arah Xiaozi, “Mengapa auramu tampak berbeda dari yang lain” tanya Guru Liu Ba pada Xiaozi
“Mungkin karena aku bukan berasal dari dunia ini tuan” sahut Xiaozi sambil tersenyum
“Aku tahu kamu bukan berasal dari dunia ini, tetapi auramu tampak berbeda dari yang lain” lanjut Guru Liu Ba.
He Xian segera mendekati gurunya dan berbisik, “Guru, dia memiliki Pedang Pusaka Pemburu Roh”
Mendengar hal itu, Guru Liu Ba berdiri dan berjalan ke arah Xiaozi, “Perlihatkan padaku pedang itu” katanya
Xiaozi segera mengeluarkan Pedang Pemburu Roh dari cincin penyimpanannya dan menyerahkannya pada Guru Liu Ba.
Guru Liu Ba mengambil pedang tersebut dan menelitinya, “Benar. Pedang ini telah tersegel selama ribuan tahun” gumamnya
“Tuan, apakah tuan bisa membuka segelnya?” tanya Xiaozi pada Guru Liu Ba.
“Aku bisa membukanya, namun itu tidak lah mudah. Aku memerlukan beberapa bahan sihir untuk membuka segel ini” sahut Guru Liu Ba kembali
__ADS_1