
Sementara di kota Paris yang di kenal sebagai kota cinta (The City of love) Freya duduk di kursi taman seorang diri.
Di temani temaram cahaya rembulan, ia memandangi langit cerah yang bertabur bintang. Angin malam yang membelai halus kulit gadis itu membuat Freya merasa dingin hingga ia memutuskan untuk pulang.
Freya melangkah menuju mansion, ia memikirkan permintaan Raya bahwa ia harus menjauhi David karena rasa cinta Raya pada pria itu. Ia tidak tahu, bagaimana caranya untuk membujuk Anton dan Dinda supaya membatalkan perjodohan tersebut. Namun, sebelum sampai di mansion, Freya menghentikan langkahnya.
Drt ... drt ... drt ...
Dering ponsel Freya bergetar. Gadis itu melihat siapa yang menghubungi ia malam-malam, setelah melihat nama yang tertera di ponsel, Freya mengabaikan panggilan tersebut lalu hendak melangkahkan kakinya kembali. Namun, suara bariton dari arah belakang membuat Freya terkejut. "Kenapa kau tidak pernah mengangkat panggilan teleponku?" tanya orang tersebut.
Freya memutuskan untuk menjauh dan mengabaikan suara yang tidak asing lagi baginya. Namun, pria itu memegang pergelangan tangan Freya hingga langkah Freya terhenti, dan tindakan pria itu membuat Freya marah dan langsung membalikkan badan.
"Apa maumu?" tanya Freya dengan emosi yang membuncah.
"Aku mau kamu,"
"Cih, aku bukan pelakor. Jangan harap aku mau jadi yang kedua," sentak Freya.
"Aku tidak mencintainya, yang ku cintai hanya kamu Freya, hanya kamu," ucap pria tersebut.
__ADS_1
"Cinta ataupun tidak, kau sudah menjadi milik orang lain, aku juga sudah dijodohkan dan mungkin sebentar lagi akan menikah, jadi jangan harap kau bisa kembali padaku lagi, sekalipun kau ingin bercerai dengan istrimu," ucap Freya seraya menghempaskan tangan Pria itu.
"Tapi, Frey!"
"Cukup, Van! Aku tidak mau mendengarkan apapun darimu lagi." Freya menunjuk Evan dan menatapnya tajam.
Gadis itu melangkah menuju mansion tanpa menoleh pada mantan kekasihnya tersebut, sedangkan Evan hanya menatap kepergian Freya tanpa bisa mencegahnya.
"Dengan cara apalagi, agar aku bisa memilikimu Frey," gumam Evan dengan tatapan sendu.
Freya yang sudah tidak bisa menahan emosinya kini langsung menutup pintu kamar setelah sampai di mansion, gadis itu melorotkan badannya di balik pintu seraya menangis terisak sambil memegang dadanya.
"Kenapa masih sesakit ini, rasanya aku tidak sanggup kehilangan dia, tetapi aku sadar bahwa dia ditakdirkan untuk orang lain, bukan aku." Freya masih menangis terisak-isak dibalik pintu.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Ke esokan harinya, David dan keluarga Cassilas sudah turun dari pesawat, David langsung ke apartemen milik keluarganya di negara itu, sedangkan Anton dan Dinda juga Raya langsung pulang ke mansion nya.
Di dalam mobil, Dinda tidur di pangkuan Anton. Sepasang suami istri itu duduk di kursi belakang, sedangkan Raya tidur di kursi depan dengan sang sopir. Lelaki itupun membelai rambut Dinda dengan lembut, membuat Raya yang tak sengaja melihat pemandangan itu dari kaca yang menggantung di mobil merasa risih.
__ADS_1
"Dad, Mom! Kalian bisa nggak keromantisan kalian itu dikondisikan, membuat orang iri aja," ucap Raya sewot.
"Memangnya mommy ngapain? Perasaan mommy tidur aja dari tadi," ucap Dinda pura-pura bodoh.
"Mommy kebiasaan sok manja, dan Daddy!" Raya menghentikan ucapannya sejenak. "Ngapain Daddy membelai-belai rambut mommy?" tanya Raya.
Anton tersenyum mendengar pertanyaan putrinya. "Memang apa salahnya Daddy membelai rambut mommy?" tanya Anton mengembalikan pertanyaan.
"Tau ah, Daddy dan Mommy menyebalkan," ucap Raya, sedangkan Anton dan Dinda tersenyum melihat putrinya yang cemberut.
...💋💋💋💋💋...
Assalamualaikum Readersku Sayang 🥰
Miss you 😍😘
Jangan lupa tinggalkan jejak untuk Othor
Like, komen dan Vote seikhlasnya 🥰
__ADS_1
Terima kasih 😍