Pemikat Hati Sang Cassanova

Pemikat Hati Sang Cassanova
I love you my lovely


__ADS_3

Siang harinya kini Raya berada di bandara untuk mengantar Adrian. Gadis itu memeluk Adrian erat.


"Aku mau ikut ... !" Raya merengek dalam pelukan Adrian.


"Jangan Sayang, aku cuma sebentar. Mungkin 3 hari lagi aku sudah ada di sini," ucap Adrian.


"Tapi aku tidak mau berpisah denganmu," ucap Raya mendongak menatap wajah tampan Adrian.


"Kita pisah cuma sebentar, jangan sedih! Setelah ini kita akan bersama selamanya." Adrian membelai rambut Raya, lalu melepaskan pelukannya setelah dapat panggilan bahwa pesawat akan segera lepas landas.


Raya memegang tangan Adrian, lalu melepasnya perlahan, tidak terasa bulir-bulir air mata gadis itu mulai berjatuhan tanpa permisi.


"Hubungi aku jika kau sudah tiba di Indonesia!" teriak Raya saat langkah Adrian mulai menjauh.


Adrian menoleh, lalu mengangguk dengan senyum lembutnya. Pria itu melangkah lagi sambil menggiring kopernya.


"Aku mencintaimu Adrian ... !" gumam Raya. Gadis itu masih berdiri di koridor bandara menyaksikan kepergian orang yang dicintainya sampai bayangan pria itu tidak terlihat lagi.


"Semoga Firasatku salah, aku tidak bisa hidup tanpamu Adrian." Raya balik badan lalu melangkah keluar dari bandara membawa sesak yang menumpuk di dadanya karena berpisah dengan orang yang ia cintai.


________


Raya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Namun, pikiran ia menghilang entah kemana, hingga ia hampir menabrak pembatas jalan jika saja ia tidak langsung menghentikan mobilnya.


"Nona, Anda tidak apa-apa, Nona?" tanya seseorang mengetok pintu mobilnya.


Raya membuka kaca pintu mobil, lalu melihat wajah orang yang menanyakan ke adaannya tadi. "Tidak apa-apa, Mas!" jawab Raya ramah.


"Peri cantik." Pria tersebut berbinar melihat wajah Raya.


"Peri cantik?" Raya bingung mendengar panggilan pria itu.


"Iya, masak kamu lupa sama aku? Aku Randy orang yang kau tolong waktu kecelakaan sepeda motor," ucap Randy tersenyum.


"Maaf, mungkin Anda salah orang," jawab Raya tersenyum kaku.


"Tidak Nona! Aku hanya ingin mengajakmu Dinner sebagai ucapan terima kasih," ucap Randy.


"Maaf, Mas! Aku tidak bisa." Raya menutup pintu mobilnya karena mengira orang tersebut adalah orang gila. Raya melajukan mobilnya kembali, dan menggeleng-gelengkan kepala.


"Peri cantik?" Raya bergumam. Sementara Randy menatap mobil Raya yang pergi menjauh.


________________

__ADS_1


Cassilas corp.


"Sayang, terima kasih! Karena kau menyempatkan dirimu untuk mengantar makanan untukku," ucap David menatap Freya di sampingnya. Wanita itu duduk di sofa ruangan David.


"Suapi aku dong!" David tersenyum menatap wajah datar istrinya. David sengaja ingin menggoda istrinya yang berwajah datar, karena David yakin kalau istrinya tersebut akan menolak. Namun, tanpa di duga oleh pria itu Freya membuka kotak makanannya, lalu menyodorkan sesendok nasi dan lauknya pada pria itu .


David tersenyum, lalu membuka mulutnya dan memegang tangan Freya yang memegang sendok tersebut.


David mengunyah makanan tersebut dengan senyum yang mengembang. Freya terus menyuapi David tanpa suara hingga makanan tersebut habis.


David merasa lelah mengajak istrinya bicara karena Freya tidak mengeluarkan suaranya jika tidak terlalu penting. "Sampai kapan kau akan bersikap dingin seperti ini?" tanya David menatap wajah cantik Freya.


"Aku tidak mau mengulang jawaban yang kamu sendiri sudah tau jawabannya," ucap Freya datar.


"Terus aku harus bagaimana, Frey? Aku juga sudah tidak ada hubungan apapun lagi dengan Livia, dia hanya masa laluku. Lagi pula dia bersuami jadi aku tidak mungkin menikahinya." David menatap Freya sendu.


Freya menoleh menatap wajah David yang memelas. "Aku hanya mencintaimu, Freya! Hanya mencintaimu." David menatap Freya, berharap wanita itu mempercayainya.


"Haruskah aku membunuhnya, untuk membuktikan padamu bahwa aku sudah tidak mencintainya lagi?" tanya David dengan sorot mata sendu.


Tatapan mereka bertemu, Freya mencari kebohongan dalam tatapannya. Namun, ia tidak menemukan apapun dalam tatapan pria itu selain tatapan menyedihkan. Freya tersenyum lembut. "Maafkan aku," ucap Freya dengan perasaan bersalah.


Deg


Seketika David tertegun melihat senyuman manis istrinya, karena sebelumnya ia tidak pernah melihat senyuman manis itu.


David melonggarkan pelukannya, lalu menatap mata teduh Freya. "Aku sangat bahagia saat ini karena sebelumnya aku tidak pernah melihat senyuman ini," ucap David seraya mengusap bibir Freya dengan jari jempolnya.


Freya hanya tersenyum, ia tidak tau harus mengucapkan kata apa pada suaminya tersebut.


"Kenapa diam?" tanya David yang hanya melihat wanita itu tersenyum.


"Aku harus bagaimana? Aku tidak pandai dalam hal berbicara, aku bingung harus mengucapkan kata apa padamu, yang aku tau 'Aku mencintaimu," ucap Freya dengan senyum manisnya.


"Aku juga mencintaimu lebih dari yang kau bayangkan," ucap David menatap Freya penuh cinta.


David memiringkan wajahnya begitupun dengan Freya, mereka terbuai dalam suasana, dan mereka pun memejamkan matanya. Namun, sebelum bibir itu menempel dengan sempurna suara ketukan pintu mengagetkan pasangan suami istri itu.


Mereka gelagapan. "Masuk!" teriak David, mereka membenarkan posisinya sebelum David menyuruh orang yang mengganggunya masuk.


Marko masuk lalu melangkah mendekati David dan Freya. "Maaf, tuan! 15 menit lagi ada meeting dengan klien dari Singapure." Marko berdiri di hadapan David dengan wajah menunduk.


"Okay, kau siapkan berkas-berkasnya, aku akan segera menyusul," ucap David tersenyum.

__ADS_1


"Baik, Tuan! Kalau begitu saya izin keluar dulu." Marko membungkukkan badan.


"Silakan!" jawab David.


Marko melangkah keluar dari ruangan itu, setelah bayangan Marko menghilang di balik pintu. David langsung memeluk Freya erat. "Padahal aku masih ingin manja-manjaan denganmu di sini!" David menatap Freya menggoda.


"Aku pulang dulu, nanti di rumah bisa manja-manjaan sepuasnya," ucap Freya tersenyum.


"Benarkah?" tanya David berbinar.


Freya hanya mengangguk, lalu beranjak dan melangkah pergi dari ruangan tersebut. Sementara David tidak berhenti mengembangkan senyum karena rasa bahagianya mendapatkan lampu hijau.


_____________


Raya melihat fotonya bersama Adrian saat mereka Dinner bersama. Raya tersenyum sambil mengusap foto tersebut.



"Kau baru saja pergi, tapi aku sudah merasa kesepian kayak gini, bagaimana jika apa yang kubayangkan terjadi, aku tidak akan bisa melanjutkan hidupku tanpamu, My lovely!" gumam Raya.


Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu menggelegar dari kamar Raya. "Masuk!" ucap Raya meletakkan fotonya bersama Adrian di atas nakas, lalu duduk menatap Dinda yang berjalan ke arahnya.


"Makan siang dulu sayang, dari tadi mommy menunggumu, Adrian pasti kembali. Percayalah! Lupakan firasat burukmu itu," ucap Dinda.


Dinda tahu alasan kesedihan putrinya karena Raya tidak pernah menyembunyikan apapun dari orang tuanya jika menurutnya penting.


Raya hanya mengangguk. "Ya udah ayo!" Dinda mengulurkan tangannya pada gadis itu, Raya pun beranjak menerima uluran tangan Dinda.


Sesampainya di ruang makan, Raya hanya duduk menatap makanan yang telah Dinda sajikan tanpa berniat ingin mengambilnya. "Apa perlu mommy suapi?" tanya Dinda.


"Nggak perlu Mom, Raya bisa makan sendiri," jawab gadis itu.


"Ya sudah, makan! Jangan cuma dilihat saja!" perintah Dinda.


Raya mengangguk, lalu melahap makanannya dengan Dinda yang tersenyum melihat putrinya yang kini sudah dewasa.


...💋💋💋💋💋💋...


...TBC...


Assalamualaikum Readersku sayang 🥰


Jangan lupa dukungannya untuk Othor 😂

__ADS_1


Thank you ❤️


Okay karena permintaan Kalian Happy Ending berarti Othor nggak jadi misahin cerita Raya dan Freya tetap di karya Othor yang ini nanggung soalnya 😂


__ADS_2