
Ke esokan harinya.
Raya keluar kamar dengan senyum yang mengembang, ia berputar-putar di depan kamarnya sambil bernyanyi ria membuat Anton dan Dinda merasa heran karena tidak biasanya Raya seperti orang gila.
Gadis itu duduk di meja makan bersebelahan dengan kursi Dinda, Raya melamun sambil senyam-senyum nggak jelas hingga membuat Dinda memegang kepala putrinya. "Kamu masih waras 'kan?" tanya Dinda seraya menatap putrinya dengan mengerutkan kening.
"Apasih Mom?" Raya menepis tangan Dinda sambil memanyunkan bibirnya.
"Kau sangat aneh pagi ini, kayak orang kesurupan aja," ucap Anton seraya menggeleng-gelengkan kepala. Lalu memakan sarapannya.
"Kamu ada mata kuliah nggak hari ini?" tanya Anton menatap putrinya datar.
"Nggak, kenapa emang Dad?" tanya Raya balik sambil mengerutkan kening.
"Kamu ikut daddy ke rumah sakit, bantu daddy di sana," ucap Anton menatap Raya penuh harap.
"Freya 'kan magang di rumah sakit, ngapain Daddy masih ngajak Raya? Freya lebih pintar mengurus semuanya," ucap Raya santai sambil mengolesi roti dengan selai.
"Kau jangan cuma mengandalkan Freya, kau harus mandiri juga karena kita tidak mungkin berada di sisimu seterusnya." Anton menatap putrinya intens.
"Aku ada janji hari ini, lain kali aja Dad!" ucap Raya. Gadis itu mengambil satu lembar roti dan langsung lari seperti biasanya saat Anton menyuruhnya belajar tentang ilmu kedokteran.
"Dasar Adin versi remaja!" gumam Anton. Namun, masih dapat didengar oleh Dinda dengan jelas hingga membuat wanita paruh baya itu melotot.
"Apa Kanda bilang?" sentak Dinda dengan bola mata yang hampir keluar semua.
"Apa?" tanya Anton balik dan pura-pura bodoh.
Dinda beranjak ingin menjewer telinga suaminya. Namun, Anton mengikuti cara putrinya, ia juga mengambil selembar roti lalu melambaikan tangan pada istrinya tersebut dan keluar dari mansion untuk berangkat kerja.
"Dasar menyebalkan! Dokter sesat sialan, bilangnya Adin versi remaja, padahal Raya itu foto copyan dirinya, sama-sama menyebalkan dan menyesatkan!" gerutu Dinda.
Sementara Anton tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal istrinya, pria itu masuk ke dalam mobil, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
___________
"Honey ... !" teriak Livia dari ambang pintu, wanita itu lari dan duduk di meja makan seraya mangambil kursi di dekat David.
"Aku sudah selesai sarapan! Jadi aku mau Berangkat Duluan," ucap Freya. Wanita itu beranjak. Namun, David menahan istrinya tersebut.
__ADS_1
"Biar aku antar," ucap David tersenyum.
"Terserah!" jawab Freya datar.
"David, aku mau sarapan! Tunggu aku!" teriak Livia sambil menarik kemeja David.
"Kalau kamu mau sarapan ya sarapan aja, ngapain narik-narik aku," ucap David sinis. Lalu menghempaskan tangan Freya dari kemeja yang dipakainya dengan kasar.
"David ... " teriak Livia. Namun yang dipanggil seakan enggan untuk menoleh. Ia langsung lari untuk mengejar Freya.
Livia yang ditinggal sendiri kini juga menyusul pasutri itu dan langsung mengejar mereka karena takut ketinggalan.
David mengitari mobilnya, membukakan pintu untuk istrinya tersebut. Namun, dengan tidak tahu malunya Livia masuk terlebih dahulu di samping kursi kemudi untuk menyela Freya.
Freya yang malas berdebat, akhirnya ia pergi mengambil mobil mewahnya hadiah dari pernikahan dari Anton. Seketika Livia melebarkan mulutnya setelah melihat mobil mewah itu.
David pun hanya tersenyum, lalu tanpa banyak bicara ia langsung duduk di samping kursi kemudi yang akan dikendarai Freya.
"Frey, Maaf ... !" ucap David memohon seraya menatap Freya dari samping.
"Kau minta maaf demi dia? Besar banget cintamu padanya hingga kesalahannya pun kau tanggung." Freya memutar bola matanya malas.
David mendesah. "Bukan begitu Frey, kau sensitif banget sama aku," ucap David sendu.
"Aku tidak main-main dengan ucapanku, jika sampai satu bulan kau tidak bisa membuktikan ucapanmu, maka tidak ada kesempatan kedua kali dalam hidupku! Aku akan membentengi hatiku sebelum aku yakin dengan cintamu," ucap Freya dingin.
"Iya sayang, iya!" ucap David seraya menyandarkan kepalanya di bahu Freya.
Wanita itu hanya Diam dan fokus menatap jalanan tanpa memedulikan David yang bermanja-manja pada dirinya.
___________________
Raya kini berada di parkiran, menunggu seseorang, ia pergi ke salon karena tidak ada jadwal kuliah.
"Hai ... " sapa Adrian menghentikan mobilnya di hadapan Raya.
Seketika gadis itu mengembangkan senyumnya, ia sengaja berangkat menaiki taksi agar bisa dijemput oleh Adrian ketika ia akan pulang dari salon.
__ADS_1
Adrian turun dari mobil, lalu membukakan pintu mobilnya untuk wanita pujaannya. "Silakan masuk, Tuan putri!" Adrian mengulurkan tangannya dengan senyum yang mengembang.
Tanpa mengucapkan sebuah kata, Raya langsung masuk kedalam mobil tersebut. Lalu Adrian menutup pintu mobilnya ketika Raya duduk dengan sempurna di mobil tersebut.
Adrian mengitari mobilnya, lalu duduk di kursi kemudi, sebelum malajukan mobilnya, Adrian memasangkan safety belt untuk Raya, Raya yang hendak juga ingin memasangnya kini tidak sengaja menyentuh tangan Adrian hingga membuat Adrian menatap wajah Raya, Raya yang juga terkejut kini menatap wajah Adrian. Tatapan mereka bertemu, bagaikan aliran listrik yang menyengat kini keduanya merasa gugup karena detak jantungnya yang tidak normal, lalu Raya reflek mengangkat tangannya kembali setelah beberapa saat terdiam.
"Maaf," ucap Raya tersenyum kaku.
"Nggak apa-apa, aku seneng," ucap Adrian sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Apaan sih?" ucap Raya memalingkan muka karena tidak tahan melihat wajah Adrian yang membuat hatinya campur aduk tak karuan.
"Ya sudah kita jalan kemana hari ini?" tanya Adrian. Pria itu memegang kemudi mobil dengan sebelah tangannya.
"Terserah kamu saja!" ucap Raya masih memalingkan muka.
"Cie ... malu ni ye ... ?" goda Adrian.
Seketika Raya menoleh lalu memukul bahu pria itu, Adrian pun tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Raya yang kesal.
"Hai, udah ah! Lihat tuh wajahmu memerah, kamu pasti grogi karena mulai menyukaiku 'kan?" tanya Adrian yang sengaja menggoda gadis itu.
"Kamu kepedean banget sih?" Raya hendak memukul Adrian kembali. Namun, Adrian memegang pergelangan tangan Raya hingga mata mereka bertemu kembali dan membuat Raya semakin grogi hingga gadis itu memilih memalingkan wajahnya. Adrian pun melepaskan tangan Raya perlahan, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Dalam perjalanan Raya kini memilih diam karena ia seolah kehabisan kata saat bersama Adrian.
"Nanti malam aku mau mengajakmu ke suatu tempat, aku akan datang ke mansionmu baik-baik dan minta izin pada kedua orang tuamu untuk mengajakmu Dinner," ucap Adrian.
Raya menoleh menatap Adrian yang sedang tersenyum menatap dirinya. "Memangnya kau berani?" tanya Raya menantang.
"Kenapa tidak? Jika aku mengejarmu hingga ke negara ini, lalu kenapa mesti takut untuk minta izin dengan baik-baik, dibandingkan kita Dinner diam-diam, yang ada mereka akan berpikiran negatif padaku," ucap Adrian.
...💋💋💋💋💋...
...TBC...
Assalamualaikum Readersku sayang 🥰
Jangan lupa dukungannya 😂
__ADS_1
Jangan sungkan untuk mengatakan jika ada Typo Othor nulisnya buru-buru, Othor senang jika kalian ingatkan.
Thank you ❤️