Pemikat Hati Sang Cassanova

Pemikat Hati Sang Cassanova
Tawaran bahagia


__ADS_3

Dua hari sudah sejak Adrian pergi, Raya hanya bisa menatap ponselnya menunggu kabar dari pria yang dicintainya. Gadis itu duduk termenung di balkon kamarnya. "Tidak, aku tidak bisa seperti ini! Aku harus ke Indonesia untuk menemuinya." Raya berdiri.


"Owh ... Iya, ya! Kenapa aku nggak menghubungi Devan aja untuk menanyakan ke beradaan Adrian." Raya tersenyum. Gadis itu mengambil ponselnya untuk menghubungi sahabat sekaligus adiknya David tersebut.


Setelah beberapa saat, Kini suara Devan terdengar dari sana.


"Ada apa, Ray? Tumben kau menghubungiku?" tanya Devan dari seberang telepon.


"Nggak ada apa-apa, Kok! Kamu bersama Adrian nggak hari ini?" tanya Raya.


"Nggak, memangnya kenapa? Dia lagi sibuk ngurus pertunangannya," ucap Devan datar. Pria itu tidak tau bahwa sahabatnya tersebut sudah melamar Raya.


"Pertunangan? Bukankah Adrian langsung mengajakku menikah? Lalu kenapa sekarang Adrian malah mau bertunangan dulu," batin Raya dipenuhi dengan pertanyaan.


"Memangnya kau tidak diundang sama dia, Ray? Adrian akan bertunangan dengan Sesil putri 'Handoko Widarso." Devan memperjelas.


Deg


Raya tertegun mendengarnya, haruskah ia terluka lagi. Bulir-bulir air mata gadis itu pun kini jatuh menerobos tanpa permisi, ponsel yang dipegangnya jatuh dari genggamannya.


"Ray, kau masih di sana?" tanya Devan dari seberang.


Pria itu mematikan sambungan teleponnya karena tidak mendengar suara gadis itu.


"Tidak, ini tidak mungkin. Dia tidak mungkin meninggalkanku begitu saja! Dia sudah berjanji akan kembali kesini." Raya bergumam-gumam sendiri.


"Aku akan mengejarmu seperti ucapanku Dri." Raya beranjak, lalu melangkah ke kamarnya untuk menyusul Adrian ke Indonesia.


Sepanjang malam Raya hanya bisa menangisi orang yang ia cintai. Ia pikir dengan memiliki Adrian, ia tidak akan merasa kehilangan lagi, karena cinta pria itu yang terlalu besar. Namun, ternyata ia salah. Sekarang ia terluka, sangat sangat terluka mendengar orang yang ia cintai akan bertunangan dengan orang lain.


"Aku merasa sempurna karena memilikimu, sedihku lenyap karena kaulah yang menjadi obatnya. Aku mencintai tidak pernah sedalam ini, apakah aku bisa melupakan kenangan yang terukir indah dalam lukisan cintaku?"


Ke esokan harinya


Kini Raya sudah siap dengan kopernya. Ia menuju ruang tengah untuk berpamitan pada orang tuanya.


Baik Anton maupun Dinda yang melihat putrinya membawa koper, mereka tidak terkejut lagi karena mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi, hanya saja mereka tidak ingin terlalu ikut campur.


Anton sudah mencari tahu kebenarannya sejak Adrian menghilang tanpa kabar, informasi yang ia dapatkan ternyata Adrian sudah dijodohkan terlebih dahulu tanpa sepengetahuan Adrian sebelum pria itu melamar putrinya. Akhirnya Anton memilih diam dan membiarkan Adrian yang menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa dia harus ikut campur tangan, karena ia tahu betul sebesar apa pria itu mencintai putrinya.


Raya kini duduk di seberang orang tuanya. "Mom, Dad! Raya ingin ke Indonesia," ucap Raya dengan wajah tertunduk.


"Hm ... " jawab Anton.

__ADS_1


"Kami tau apa tujuanmu, Nak! jika kau tidak bisa mendapatkan apa yang ingin kau raih, mommy mohon, kembalilah ke pelukan mommy," ucap Dinda sendu.


"2 hari lagi Freya juga akan ke Indonesia, apakah tidak sebaiknya kalian berangkat bersama?" Dinda menatap putrinya yang masih tertunduk


"Tidak Mom, sebaiknya aku ke Indonesia sekarang, aku akan segera kembali jika urusanku sudah selesai," ucap Dinda.


Anton menghela nafas. "Baiklah, terserah kamu saja!" ucap Anton. Ia tahu betul sifat keras kepala putrinya.


"Tapi Kanda ... ! Bagaimana kalau ...." ucapan Dinda terpotong.


"Kau tidak perlu khawatir, jika benar Adrian mencintai putri kita, maka dia tidak akan membiarkan orang yang ia cintai terluka," ucap Anton tersenyum.


"Ya sudah kalau begitu, jaga dirimu baik-baik ya, Sayang!" ucap Dinda pasrah.


"Iya, Mom! Aku juga sudah menyuruh Devan untuk menjemputku," ucap Raya tersenyum.


"Ya sudah, kalau begitu ayo daddy antar ke bandara!" ajak Anton.


"Mommy juga ikut!" ucap Dinda tersenyum.


"Tidak usah Dad, Mom! Raya cuma sebentar ke Indonesia!" tolak Gadis itu.


"Lama ataupun tidak, mommy akan tetap mengantarmu!" ucap Dinda tersenyum.


"Ya sudah kita berangkat Sekarang!" Anton beranjak diikuti Dinda dan Raya dibelakangnya.


_____________


Sesampainya di Indonesia, Raya dijemput oleh Devan. Pria itu membawakan koper milik Raya. Devan melirik Raya yang hanya diam sejak kedatangannya, ia merasa aneh dengan Raya yang biasanya selalu mengganggunya.


"Kau kenapa? Masih sakit hati karena Kak David menikahi Freya?" tanya David sambil berjalan beriringan dengan Raya menuju mobil.


Raya menggeleng, ia tidak menyangka bahwa Adrian tidak pernah cerita pada Devan tentang dirinya dan Devan yang akan menikah.


"Lalu kenapa kau terlihat murung tidak seperti biasanya?" Devan mengerutkan kening. Namun, Raya masih bungkam.


Devan meletakkan Koper Raya di bagasi mobil, sementara Raya masuk ke mobil dan duduk di samping kursi kemudi. Setelah itu Devan mengitari mobil, lalu masuk dan duduk di kursi kemudi.


Setelah itu, Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dalam perjalanan hanya keheningan yang terjadi, sesekali Devan melirik Raya yang tampak murung.


"Kau bisa menceritakan apa yang terjadi padamu, kau biasanya ceria. Raya yang ku kenal adalah sesosok gadis tangguh bukan rapuh. Aku tidak suka melihatmu seperti ini, bicaralah!" ucap Devan.


"Apa yang harus ku ceritakan, aku sendiri bingung dengan kisah hidupku, aku pikir setelah kesedihanku karena tidak bisa memiliki Kak David akan berakhir karena ada yang mencintaiku lebih dari dirinya sendiri."

__ADS_1


"Tapi ... " Raya tidak bisa melanjutkan ucapannya.


"Kau mencintai Adrian?" tanya Devan menebak dengan apa yang dialami sahabat yang sudah seperti saudara itu.


"Percuma aku cerita padamu, kau juga tidak perduli 'kan?" tanya Raya.


"Kata siapa aku tidak perduli?" tanya Devan.


"Selama ini sikapmu dingin padaku, kau hanya mau diajak bicara jika ada Adrian, aku kira kau tidak menyukaiku karena tinggal dengan keluargamu ," ucap Raya memalingkan muka.


"Pikiranmu sungguh keterlaluan, aku bersikap begitu karena aku tidak ingin menyukai orang yang sama dengan sahabatku sendiri, apalagi aku tau kalau kau menyukai kakakku," ucap Devan.


"Emang kau tertarik padaku?" tanya Raya menoleh menatap Devan dengan tersenyum tipis.


"Aku sudah membentengi diriku dengan menjaga jarak darimu, jadi aku hanya menganggapmu sebagai saudari tidak lebih." Devan tersenyum.


"Jujur saja, aku datang ke Indonesia hanya untuk menemuinya," ucap Raya menatap lurus ke depan.


"Jadi benar kau menyukai Adrian?" tanya Devan melirik Raya sambil tersenyum tipis.


"Bukan hanya mencintainya, tapi dia menawarkan kebahagiaan," ucap Raya tersenyum sendu.


"Maksudnya?" tanya Devan bingung.


"Dia melamarku dan dia bilang ingin kembali ke Paris, dia di Indonesia hanya untuk menjemput orang tuanya untuk menjadikanku Ratunya, tapi yang ku dengar darimu ternyata dia akan bertunangan dengan orang lain," ucap Raya dengan air mata yang sudah tidak bisa ia bendung.


"Aku hanya ingin bertanya padanya, mengapa dia mengobati lukaku jika hanya untuk disakiti kembali?" Raya semakin terisak hingga Devan tidak tega mendengarkan ceritanya.


Pria itu mengepalkan tangannya pada kemudi mobil, lalu mengambil tisu dan diberikan pada Raya untuk menghapus air matanya tersebut.


...💋💋💋💋💋...


...TBC...


Assalamualaikum Readersku sayang 🥰


Selamat pagi menjelang siang 😂


Jangan lupa dukungannya ya Sayang 🥰


Seperti permintaan kalian Kisah Raya akan happy Ending... ❤️


Insya Allah Othor akan tamatin sebelum lebaran karena takut kalian pada bosen kalau terlalu panjang 😍

__ADS_1


__ADS_2