Pemikat Hati Sang Cassanova

Pemikat Hati Sang Cassanova
Mengemis suami orang


__ADS_3

David kini sudah mengantar Freya ke Rumah sakit, pria itu sudah berada di bangku kebesarannya. Ia memikirkan cara untuk membuat Livia menjauh dengan cara halus.


David mengetuk-ngetukan jari jemarinya pada meja kerja sambil menopang dagu dengan sebelah tangannya.


Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu yang diketok dari luar, lalu David menyuruhnya masuk dan munculah Leo dan seorang pria yang mengikuti Asisten mertuanya itu.


"Tuan, dia Marko asisten Anda, aku kewalahan jika harus bolak balik antara harus mengikuti perintah Anda atau perintah Tuan Anton," ucap Leo seraya membungkukkan badannya.


"Okay baiklah!" ucap David santai.


"Perkenalkan dirimu!" perintah Leo pada seseorang yang ikut bersamanya. 


"Dia Tuan David, wakil CEO dari perusahaan ini!" ucap Leo.


"Perkenalkan Tuan, saya Marko yang akan menjadi asisten Anda untuk menggantikan Tuan Leo di perusahaan ini," Marko membungkukkan badan.


"Apakah Om Leo akan berhenti mengurus perusahaan ini?" tanya David.


"Tidak, Om bukan mau berhenti, tapi Tuan David menugaskanku untuk memantau kantor cabang," ucap Leo.


"Owh begitu? Terima kasih ya Om atas bantuan Om selama ini!" ucap David tersenyum.


"Itu sudah menjadi tugasku, Tuan!" ucap Leo membalas senyuman David.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan!" ucap Leo.


"Silakan!" ucap David tersenyum.


"Saya juga izin untuk pergi ke ruanganku, Tuan!" pamit Marko membungkukkan badannya. 


"Silakan!" David tersenyum ramah.


Leo keluar dari ruangan tersebut diikuti Marko yang juga menyusul pergi dari ruangan itu.


________________


Livia yang kesal kini mengikuti Freya ke rumah sakit, wanita itu ingin memberi Freya pelajaran karena meninggalkannya sendirian.


Livia melihat Freya yang beringan dengan beberapa dokter hingga ia mengurungkan niatnya untuk menegur wanita itu dan menunggu waktu yang tepat.


Setelah beberapa saat menunggu, kini Livia melihat Freya keluar dari ruangan pasien seorang diri, wanita itu tersenyum berbinar. Lalu melangkah menghampiri Freya dan menarik tangan wanita itu sedikit kasar.


Freya hanya diam karena tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri di rumah sakit tersebut.

__ADS_1


Livia terus menarik tangan Freya hingga mereka sampai di taman rumah sakit, dan wanita itu pun memilih tempat yang sepi tidak terlalu ramai seperti biasanya.


"Apa maumu?" tanya Freya dingin sambil bersedekap dada dan menatap Livia tajam dengan mata yang seakan ingin menerkam.


"Lepaskan David! Dia hanya milikku." Livia juga menatap Freya tak kalah tajamnya. Mereka berdiri dan saling berhadapan.


Freya tergelak. "Apakah kamu segitu tak lakunya hingga mengemis suami orang?" tanya Freya tersenyum sinis.


"Kurang ajar!" Livia hendak melayangkan tamparannya pada Freya. Namun, Freya menangkap tangan Livia dan menggenggamnya erat hingga wanita itu menarik tangannya sendiri karena genggaman tangan Freya yang begitu erat dan terasa ngilu.


Freya tersenyum sinis. "Aku bukan wanita lemah yang mau ditindas pelakor seenaknya, dengan sikapmu yang begini. Aku semakin yakin untuk mempertahankan David." 


"Dasar nggak tahu diri, kamu itu cuma istri status, jadi jangan harap kau bisa memiliki David karena David hanya milikku!" teriak Livia dengan wajah merah padam.


Freya semakin melebarkan senyumnya. "Sejak kapan istri sama pelakor yang lebih ber hak atas suami itu pelakor?" Freya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sejak saat ini, karena kau harus meninggalkan David! David hanya mencintaiku bukan mencintaimu," ucap Livia tersulut emosi karena Freya tetap terlihat santai.


"Jika kau sangat percaya diri, kenapa kau mesti datang padaku dan mengatakan ini semua? Seharusnya kau datangi suamiku, goda dia dengan segala usahamu, bukan malah datang padaku seperti ini," ucap Freya masih dengan senyum sinisnya.


"Aku …."


*Cindy … !" teriak seseorang dan langsung memeluk Livia dari belakang. Gadis itu terkejut mendengar suara yang tidak asing baginya.


"Cindy kau kemana saja? Aku merindukanmu sayang!" ucap pria tersebut.


Pria itu melonggarkan pelukannya dan hendak membalik badan wanita itu. Namun, tanpa diduganya Livia langsung lari dari tempat itu dan Mendorong pria tersebut hingga jatuh terjengkang.


"Cindy tunggu aku … !" teriak pria tersebut. Freya hanya mengerutkan kening karena Randy memanggi Livia dengan nama lain.


Freya balik badan, ia hendak melangkah untuk meninggalkan tempat itu. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar Randy minta tolong padanya.


"Peri cantik, bantu aku berdiri dong!  Kakiku masih sakit dan susah untuk berdiri sendiri," ucap Randy dengan wajah memohon.


Raya menoleh, lalu mendekati Randy untuk membantu pria itu. Tanpa suara, Freya mengulurkan tangannya yang disambut dengan senyum yang mengembang oleh pria itu.


"Terima kasih," ucapnya setelah ia berhasil bangkit. Freya tidak menjawab, ia langsung kembali lagi ke dalam rumah sakit untuk pergi ke ruangannya.


"Apa peri cantik mengenal Cindy? Sebaiknya aku menanyakan langsung pada orangnya." Randy tersenyum mengembang.


____________


Malam pun tiba, Raya kini sudah siap dengan dandanan naturalnya. Gadis itu tidak berhenti mengembangkan senyumnya karena ia akan Dinner dengan Adrian.

__ADS_1


"Aku yakin, perasaan ini bukan hanya inginmenjadikan Adrian pelampiasan. Aku benar-benar mencintainya, aku mencintainya," ucap Raya dengan senyum yang mengembang.


"Adrian … ternyata mencintaimu lebih indah dari yang kubayangkan."


"Seandainya aku mencintaimu dari dulu, mungkin aku tidak akan pernah patah hati, karena kau hanya memberiku kebahagiaan meskipun aku menancapkan duri di relung hatimu," gumam Raya.


Tidak lama kemudian terdengar suara pintu diketuk. "Masuk!" ucap Raya. Gadis itu sudah dapat menebak siapa yang mengetuk pintu kamarnya.


Pintu pun dibuka, tampaklah Dinda yang sedang tersenyum menatapnya. "Wah … kamu cantik banget sayang, mau kemana sih?" tanya Dinda membelai rambut putrinya.


"Nggak kemana-mana Mom, cuma ingin berdandan saja," ucap Raya berbohong. 


"Beneran nih?" tanya Dinda dengan memicingkan matanya. 


"Bener kok, Mom! Mommy nggak percayaan amet sih sama Raya." Gadis itu mencebikkan bibirnya.


"Ya sudah kalau gitu, ayo makan malam!" ajak Dinda. "Nggak Mom! Mommy makan malam duluan saja," tolak Raya.


"Pokoknya ayo!" Dinda menarik tangan putrinya dengan paksa. Raya pun menggerutu saat di perjalanan dari kamar sampai meja makan. Namun, betapa terkejutnya gadis itu ketika melihat orang yang tidak asing baginya dan seketika langkahnya terhenti saat mengetahui orang yang ingin mengajaknya jalan kini berada meja makan.


"Adrian … !" gumamnya.


Dinda tersenyum melihat keterkejutan putrinya. "Jadi ini yang kamu bilang nggak mau kemana-mana?" tanya Dinda menggoda putrinya.


"Mom, sejak kapan Adrian ada di sana?" tanya Raya pada ibu kandungnya.


"Udah dari tadi, nunggu kamu yang dandannya lama banget," ucap Dinda.


"Ayo!" Dinda menarik tangan Raya menuju meja makan tersebut. Raya pun terlihat salah tingkah hingga Anton yang memperhatikan tingkah putrinya jadi tergelak.


"Daddy kenapa?" tanya Raya menatap Anton sekilas. Saat wanita itu sudah duduk sempurna di kursinya.


"Tingkahmu yang salah tingkah kayak gitu sangat aneh," ucap Anton.


"Daddy menyebalkan!" Raya melirik Daddynya sekilas, la mencebikkan bibirnya saat digoda di meja makan itu. Sementara Adrian hanya memperhatikan keluarga candaan keluarga orang yang dicintainya tersebut.


...💋💋💋💋💋...


Assalamualaikum Readersku sayang 🥰


Jangan sampai lupa jejaknya ya 😂


Thank you 🥰

__ADS_1


 


__ADS_2