Pemikat Hati Sang Cassanova

Pemikat Hati Sang Cassanova
Terkejut


__ADS_3

Kini Livia terengah-engah karena lari dari Randy. "Kenapa dia bisa ada di sini? Bisa-bisa kebohonganku terbongkar." Livia memegang dadanya yang terasa sesak. 


Wanita itu lari dari Randy karena Randy adalah suaminya yang ia tinggalkan karena miskin. Namun, wanita itu merasa heran dengan penampilan pria itu karena ia sudah tidak sedekil saat bersama Livia.


"Pokoknya jangan sampai Randy tahu keberadaanku, aku tidak mau melepaskan David yang jelas-jelas lebih kaya darinya. Hidup tidak butuh cinta yang penting adalah uang!" Livia tersenyum sinis.


Wanita itu sudah melangkah menjauh dari rumah sakit keluarga Cassilas. "David, pokoknya kau harus menikahiku secepatnya, sebelum Randy menemukanku." Livia menghentikan taksi, lalu pergi untuk menemui David.


Sesampainya di kantor tersebut, ia ingin masuk seperti biasa. Namun, tanpa diduganya dia dihadang oleh kedua security di kantor itu hingga ia sangat murka.


"Kenapa kalian menghalangiku?" tanya Livia dengan gaya angkuhnya.


"Kami hanya menjalankan tugas, Nona!" ucap security tersebut.


"Maksud kalian apa?" tanya Livia seraya menatap security itu tajam.


"Nona dilarang masuk, karena nona selalu membuat keributan di ruangan Tuan David!" ucap salah satu security itu.


"Keributan? Ini pasti Freya yang menyuruh kalian, Iya?" tanya Livia sambil berteriak.


"Tidak Nona, yang menyuruh kami bukan Nona Freya, tapi Tuan David sendiri," ucap security satunya lagi.


"Tidak mungkin!" sentak Livia menatap tajam kedua security itu.


"Maaf, Nona! Kami tidak akan menghadang seseorang tanpa perintah!" ucap security.


"Awas kalian, aku akan laporkan pada David biar kalian dipecat!" ancam Livia.


"Silakan!" 


Livia mendengus, lalu pergi dari kantor tersebut dengan membawa sejuta emosi. 


___________________


"Adrian sudah pamit sama daddy bahwa dia mengajakmu keluar," ucap Anton seraya tersenyum menatap putrinya.


"Jadi, apakah Daddy mengizinkan?" tanya Raya Antusias. 


"Silahkan! Tapi jangan malem-malem. Jam 10 malam kalian harus sudah ada di mansion ini!" jawab Anton seraya tersenyum tipis.


"Thank you Dad," ucap Raya dengan wajah berbinar. 


Anton mengizinkan Raya karena ia selalu memantau Raya sejak pernikahan Freya, ia khawatir Raya melakukan aksi yang nekat hingga Anton memata-matai putrinya itu. Al hasil ia tahu tentang kedekatan Adrian dengan Raya makanya ia langsung mengizinkan ketika mereka minta izin untuk makan malam di luar.


"Kalau begitu Raya berangkat dulu ya Dad, Mom?" pamit Raya yang langsung berdiri dari kursi duduknya.


"Bukankah kau cuma diajak Adrian, tetapi kenapa malah kamu yang sangat antusias?" tanya Dinda mengerutkan sebelah alisnya.


"Eh, iya ya? Kamu kenapa hanya diam?" tanya Raya sambil menatap Adrian dengan wajah cemberut.


Adrian tersenyum. "Ya sudah, kami pamit dulu Om, Tante!" ucap Adrian seraya mengulurkan tangannya pada Anton dan Dinda menyalami pasangan suami istri tersebut.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan, Nak!" ucap Dinda.


"Aku titip putriku," ucap Anton tersenyum.


Raya melangkah keluar dari mansion tersebut yang diikuti oleh Adrian dari belakang.


"Lihat tuh putrimu! Persis kamu saat masih muda dulu," ucap Anton tersenyum.


"Dia juga putrimu," ucap Dinda seraya membuang mukanya.


"Gitu aja ngambek, ya sudah kita ke kamar yuk, sayang!" ajak Anton tersenyum aneh.


"Giliran ada maunya aja panggil sayang, Kanda keterlaluan tau nggak sih!" ucap Dinda memanyunkan bibirnya.


"Ayolah!" ajak Anton memohon.


"Kita makan malam dulu keburu dingin!" ucap Dinda mengalihkan pembicaraan karena ia tahu betul apa yang akan dilakukan suaminya jika sudah berada di kamar.


______________


Adrian kini membukakan pintu mobilnya untuk Raya. "Silakan!" ucap Adrian tersenyum.


"Thank you." Raya membalas senyuman gadis itu. 


Adrian mengitari mobilnya dan masuk ke dalam mobil seraya duduk di kursi kemudi, duduk berdampingan dengan gadis pujaannya. Adrian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali melirik Raya yang terlihat sangat ceria dan seketika hatinya merasa damai saat melihat senyuman gadis itu.


"Kita mau kemana?" tanya Raya dengan senyum manisnya yang menyejukkan hati orang melihatnya.


"Baiklah, aku pasrah kemanapun kau membawaku!" ucap Raya.


"Jika misalkan aku melakukan sesuatu yang tidak kau inginkan, apa kau juga akan pasrah?" tanya Adrian balik dengan senyum yang tak memudar.


"Aku tau kau tak 'kan melakukan lebih, karena cinta tidak akan menodai orang yang dicintai," ucap Raya dengan keyakinannya.


"Apakah kau sudah yakin dengan cintaku? Bagaimana jika seandainya aku hanya pura-pura?" tanya Adrian sengaja menggoda gadis itu.


"Dengan semua yang kau lakukan untukku, apakah aku masih bisa meragukan cintamu?" ucap Raya.


"Ternyata kau juga pede sekarang," ucap Adrian tersenyum sambil menyentil hidung gadis pujaannya.


"Bukan pede, tapi itu kenyataan." Raya menatap Adrian dengan sorot mata yang teduh. Sementara Adrian tersenyum seraya fokus menatap jalanan.


Beberapa saat kemudian, kini Adrian dan Raya tiba di gedung tempat Adrian menyiapkan kejutan. 


Adrian menghentikan mobilnya di depan gedung itu. Lalu membuka pintu mobil untuk Raya. Layaknya seorang Ratu, begitulah yang dirasakan Raya saat bersama dengan Adrian.


Adrian dan Raya kini berdiri di samping mobil. "Sekarang tutup matamu pakai ini dulu!" ucap Adrian lembut seraya mengambil kain warna merah untuk menutup mata wanita pujaannya.


"Kenapa pakai penutup mata segala?" tanya Raya dengan senyum yang tak memudar.


"Hanya sebentar," ucap Adrian tersenyum lembut.

__ADS_1


"Okay!" ucap Raya pasrah, lalu Adrian memakaikan penutup mata tersebut.


"Tapi, gimana nanti aku jalannya, aku tidak bisa melihat apapun," ucap Raya.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun Adrian menggendong tubuh Raya ala bridal style, dan hal itu berhasil membuat Raya terkejut.


"Kenapa kau menggendongku?" tanya Raya dengan senyum yang terus mengembang. "Apakah kau tidak malu jika ada yang melihat?


"Tempat ini udah aku sewa, jadi di sini cuma ada kita," jawab Adrian dengan perasaan bahagia yang membuncah karena sebelumnya ia tidak pernah menyangka bahwa ia akan bisa sedekat ini dengan orang yang sangat dicintainya.


Begitu pun dengan Raya gadis itu sangat bahagia hingga tidak bisa diungkapkan dengan kata karena sebelumnya ia tidak pernah merasakan kasih sayang dari seseorang sebesar Adrian mencintainya hingga pria itu rela untuk dijadikan pelarian.


Jika seandainya bisa mengulang waktu, maka gadis itu hanya akan meminta untuk mencintai Adrian saja, agar ia tidak perlu merasakan sakit hati ketika cintanya bertepuk sebelah tangan.


Setelah sampai di tempat yang sudah Adrian siapkan, kini Adrian menurunkan Raya dan menuntun gadis itu untuk duduk di kursi yang ada di tempat itu.



"Apakah aku sudah bisa membuka mataku?" tanya Raya dengan senyum manisnya.


"Biar aku yang membukanya," ucap Adrian.


Pria itu membukakan penutup mata Raya perlahan, setelah terbuka sempurna, kini Raya mengerjap-ngerjapkan matanya. Gadis itu melihat kejutan dari Adrian, ia terkejut hingga tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.


Ia hanya mengambil kartu yang ada di meja makan itu, ia merasa bermimpi karena rasanya ini terlalu cepat baginya.



"Will you marry me, Raya Rayes Cassilas?" ucap Adrian tepat di daun telinga Raya, karena ia berdiri dan membungkuk dari belakang Freya dengan posisi Raya yang duduk di kursi yang ia sediakan.


Raya hanya Diam, ia masih sangat syok dengan kejutan Adrian hingga tenggorokannya tercekat.


...💋💋💋💋💋...


...TBC...


Assalamualaikum Readersku Sayang


Jika ada Typo tolong sampaikan pada Othor, agar Othor bisa memperbaiki, soalnya Othor belum cek naskah 🙈


Jangan lupa dukungannya ya Sayang 😉


Thank you 🥰


Oh ya, Maaf Othor nggak bales komen dulu ya? untuk menghemat waktu 🙈


Soalnya Othor belum pernah Crazy up sebelumnya, tapi insya Allah Othor akan tetap baca komen kalian 🥰


Love you All Muachhh 😘


 

__ADS_1


__ADS_2