Pemikat Hati Sang Cassanova

Pemikat Hati Sang Cassanova
Minta Izin


__ADS_3

"Dev, kau dari mana saja?" tanya Gracia yang tidak sengaja melihat putranya baru pulang. Wanita paruh baya itu sedang duduk santai di ruang keluarga.


"Aku banyak kegiatan hari ini, Mom!" Jawab Devan seraya menghempaskan tubuhnya pada sofa di samping Gracia.


"Kegiatan apa? Bahkan tadi pagi kau belum sempat sarapan." Gracia mengerutkan keningnya.


"Tadi pagi aku menjemput Raya ke Bandara," ucap Devan seraya memijit pelipisnya.


"Raya ke Indonesia? Terus, Rayanya sekarang di mana?" tanya Gracia celingukan.


"Panjang ceritanya Mom! Ya sudah, Devan mau mandi dulu! Badan Devan gerah dan lengket," ucap pria itu.


"Ya sudah, sana! Tapi Raya ada di tempat yang aman 'kan?" tanya Gracia memastikan.


"Iya Mom, Mommy tenang aja," ucap Devan meyakinkan Gracia.


"Baiklah, sana mandi! Nanti kita makan malam bersama," ucap Gracia tersenyum.


Devan beranjak, lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut. Tidak lama kemudian derap langkah kaki seseorang terdengar menuju ruangan tersebut, Gracia menoleh, lalu tersenyum melihat orang yang berjalan ke arahnya dengan senyum yang mengembang. "Mas, Brian!" Gracia menarik kedua sudut bibirnya.


"Maaf, sayang! Aku pulang telat. Tadi banyak kerjaan di kantor." Brian mencium pipi Gracia lalu duduk di samping wanita itu.


"Nggak apa-apa kok, Mas! Lagi pula Devan baru saja pulang, nanti kita masih bisa makan malam bersama," ucap Gracia.


"Aku tau, tadi dia ke kantor! Dia 'kan yang akan meneruskan perusahaan, aku pengen istirahat dan menghabiskan masa tuaku bersamamu, Sayang! Dia harus banyak belajar, biar bisa memimpin perusahaan dengan baik," ucap Brian. Pria itu meletakkan tas kerjanya di meja, lalu berbaring di pangkuan istrinya.


"Katanya Raya ada di sini? Kamu tahu dimana Raya sekarang?" tanya Gracia yang masih menghawatirkan gadis itu.


Brian mendongak, ia menatap wajah cantik istrinya. "Iya aku tahu dimana Raya sekarang?"


"Dimana, Mas?" tanya Gracia penasaran sampai menyatukan kedua alisnya.


"Di rumah Bastian," ucap Brian santai.


"Lho kenapa dia tinggal di sana? Apakah dia marah sama kita karena menjodohkan David dengan Freya?" tanya Gracia sendu.


"Kau tidak usah berpikiran negatif, dia akan segera menikah dengan Adrian," ucap Brian tersenyum.


"Aku tidak salah dengar 'kan?" tanya Gracia sambil menarik rambut Brian erat, hingga pria itu mendesis.


"Maaf ... !" ucap Gracia penuh sesal.


"Enggak apa-apa kok, Sayang! Aku seneng kita mesra-mesraan kayak gini," ucap Brian seraya memejamkan matanya di pangkuan Gracia. Ia sangat merasa nyaman di posisi seperti itu, apalagi Gracia terus membelainya lembut.


"Oh iya, besok Anton, Dinda, David dan Freya akan ke Indonesia. Kau suruh pelayan untuk membersihkan kamar David!" ucap Brian. Pria itu bangun dan duduk di samping wanita itu.


"Benarkah?" tanya Gracia berbinar.

__ADS_1


"Iya benar, selain karena pernikahan Raya, mereka juga ingin menghadiri pernikahan Raka dengan putrinya Rizky," ucap Brian santai.


"Raka juga akan menikah?" tanya Gracia mengerutkan kening.


"Maaf, Sayang kita juga diundang tapi aku lupa kasih tau kamu," ucap Brian tersenyum gamblang.


"Ya sudah, mandi dulu sana!" Gracia menatap Brian lembut.


"Okay, Sayang! Brian beranjak, lalu mencium pipi Gracia sebelum melangkah meninggalkan ruangan itu. Sementara Gracia hanya tersenyum, lalu melangkah menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.


______________


David kini berada di ruang kerjanya bersama dengan Marko dan Freya. "Akhirnya pekerjaan kita sudah beres," ucap David seraya menutup laptopnya.


"Ya sudah, ayo pulang!" ajak Freya menatap suaminya yang terlihat lelah.


David mengangguk, "Marko, aku titip semuanya padamu, jangan lupa kabari aku jika ada sesuatu yang mendesak! Aku akan berangkat besok ke Indonesia, mungkin aku di sana akan lama, jadi aku harap kau bisa menghandle pekerjaanku di sini, jika kau sangat butuh bantuan, kabari Om Leo!" ucap David tersenyum.


"Baik, Tuan!" ucap Marko yang masih berdiri di sebelah kursi David.


David beranjak lalu melangkah mendekati Freya yang masih duduk di sofa ruangan itu. "Ayo Sayang!" ajak David mengulurkan tangannya.


Freya menerima uluran tangan David, lalu berdiri dan bergandengan dengan suaminya tersebut.


Sesampainya di mobil, David membukakan pintu mobil untuk orang yang ia cintai, lalu mengitari mobilnnya setelah Freya duduk sempurna di samping kursi kemudi. David pun duduk di samping Freya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Terserah kamu saja!" ucap Freya tersenyum tipis.


____________


Kini Adrian dan Raya berada di kamar yang sama, Raya tidur di ranjang sementara Adrian tidur di sofa.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Adrian yang melihat tidur Raya gelisah.


Raya langsung duduk selonjoran di tempat tidur itu ketika mendengar suara Adrian. "Aku hanya takut, Dri!" ucap Raya menatap Adrian yang sedang tidur di sofa dengan kepala yang bertumpu pada tangan.


"Kamu takut apa?" tanya Adrian. Pria itu ikut bangkit dan duduk dengan kaki yang berjuntai ke lantai.


Pria itu menatap Raya penuh cinta. "Aku takut daddy dan mommy kecewa sama aku, aku paling tidak bisa melihat mereka marah," ucap Raya sendu.


"Percayalah, Om Anton adalah orang yang bijak, aku yakin mereka akan mengerti dengan ke adaan kita saat ini," ucap Adrian.


"Tapi aku tetap takut," ucap Raya dengan mata yang mulai mengembun.


"Aku sudah minta izin pada Om Anton untuk se kamar denganmu," ucap Adrian santai.


"Terus?" tanya Raya.

__ADS_1


"Tuh!" Tangan Adrian menunjuk pada sebuah CCTV yang ada di kamar tersebut.


"Maksudnya?" tanya Raya mengerutkan kening.


"Om Anton mengizinkan kita tidur sekamar, asalkan kita meletakkan CCTV di kamar ini," ucap Adrian tersenyum lembut.


Seketika Raya berbinar mendengar ucapan Adrian. "Terima kasih," ucap Raya dengan senyum yang mengembang.


"Tidak perlu berterima kasih, karena semua ini untukku juga," ucap Adrian.


"Kalau begitu tidurlah, jangan berpikiran yang macam-macam lagi!" perintah Adrian.


Raya hanya mengangguk dengan senyuman yang tak memudar, lalu membaringkan tubuhnya kembali. "Good night My lovely," ucap Raya sambil memejamkan mata.


Seketika Adrian terkejut mendengar panggilan Raya untuknya. "Bisa kau ulang sayang?"


"Tidurlah, sekarang sudah malam! Semoga mimpi indah," jawab Raya dengan wajah yang merona.


Adrian kecewa, sementara gadis itu memejamkan matanya kembali. "Ya sudah aku juga tidur," ucap Adrian, lalu pria itu membaringkan tubuhnya kembali pada sofa.


Pada malam itu mereka tidur bersama tanpa melakukan hal apapun yang aneh.


...🍒 Orang yang dulunya ku benci dengan segenap raga dan jiwaku kini menjadi orang yang paling kucintai dengan setulus hati. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan mencintainya sedalam ini. Dia mencintaiku tanpa syarat. Namun, dulu aku buta karena mencintai orang lain. Akan tetapi, sekarang aku menyesal mengapa aku tidak mencintainya sejak dulu 🍒...


...💋💋💋💋💋...


...TBC...


Assalamualaikum Readersku Sayang 🥰


Jangan pernah lupa dukungannya untuk Othor ya! Thank you 😍


Jangan pernah bosan untuk komen di karya Othor, Othor selalu baca komen kalian hanya saja Othor belum sempat balas 😢


Tapi Insya Allah Othor akan balas komen kalian lagi setelah Othor selesai Crazy up 🙈


Maafin Othor jika alurnya tidak sesuai dengan harapan kalian 🙏


Thank you


Thank you


Thank you


Muachhh 😘


Sampai jumpa di part selanjutnya 👋

__ADS_1


__ADS_2