
Dua gadis kembar itu duduk di bangku taman menikmati sejuknya angin yang menerpa kulit mereka di bawah pohon yang rindang.
Takut kehilangan David membuat Raya gelisah karena ia sangat yakin bahwa pria itu dapat membedakan keduanya, hingga ia memutuskan untuk bicara berdua dengan saudara kembarnya tersebut.
"Frey, aku yakin Kak David bisa membedakan kita," ucap Raya menatap saudara kembarnya dari samping.
"Kenapa begitu?" tanya Freya dengan wajah datarnya. Namun, gadis itu tetap menatap lurus ke depan.
"Buktinya, dia membukakan pintu mobil segala untukmu, biasanya dia cuek sama aku," ucap Raya sendu.
Freya menoleh menatap adik kembarnya tersebut. "Aku harus berbuat apa, Ray! Aku sudah berusaha menjadi kamu sebaik mungkin, jika dia bisa membedakan kita, berarti dia memang termasuk orang yang teliti." Freya juga merasakan kekecewaan yang dialami oleh adiknya tersebut.
"Aku tidak mencintainya Ray, kau tidak perlu khawatir, aku akan menjauh darinya tanpa kau minta," ucap Freya datar.
"Benarkah?" tanya Raya. "Jika suatu hari kau juga mencintainya apakah kau akan tetap mengikhlaskan untukku?"
"Aku akan lebih memilih pergi dan melupakannya dibandingkan menyakiti saudara kembarku sendiri." Freya tersenyum tipis menatap adiknya.
"Terima kasih, Frey! Tapi aku tidak yakin kau melakukan itu," ucap Raya tersenyum penuh arti.
"Aku sudah terbiasa dengan luka, aku akan membentengi perasaanku agar tidak luluh pada siapa pun, termasuk cassanova sialan itu!" ucap Freya dengan wajah datarnya.
"Jangan terlalu benci, aku takut kau nantinya akan tenggelam dalam lautan cinta kak David." Raya tersenyum usil.
"Nggak akan!" ucap Freya datar.
__ADS_1
Dua gadis kembar itu terus berdebat, hingga akhirnya mereka mendengarkan suara bariton dibelakangnya.
"Raya!" ucap seseorang dari arah belakang kedua gadis kembar itu.
Raya terkejut, seketika matanya membola saat mendengar suara yang tidak asing baginya, "Berarti yang tadi benar-benar Adrian," gumam Raya.
Raya tidak menoleh, gadis itu menarik Freya dan langsung pergi dari tempat itu. "Siapa sih Ray?" tanya Freya.
"Sudah lah kita pergi! Nanti aku jelaskan. Jika kau dikira aku, bilang saja kau masih ada urusan denganku, pasang wajah datarmu nggak usah sok kecentilan lagi," ucap Raya.
"Akhirnya kau menyadari kalau kau itu kecentilan," ucap Freya.
"Raya tunggu!" Adrian memegang pergelangan tangan Freya, Pria itu menatap Freya dengan wajah memohon.
"Aku datang ke Paris untuk membuktikan ucapanku, tapi kenapa kau masih menghindariku?" tanya Adrian menatap Freya tajam.
Adrian beralih menatap Raya dengan intens, ada perasaan aneh yang Adrian tidak mengerti dengan tatapan wanita itu.
"Aku tau dia kembaran Raya, tapi kenapa ada perasaan aneh yang tidak kumengerti saat menatap matanya," batin Adrian.
"Ayo Ray!" Raya menarik pergelangan tangan Freya yang satunya lagi hingga tangannya terlepas dengan sendirinya dari genggaman tangan Adrian.
"Maaf," ucap Freya tersenyum.
"Aneh!" gumam Adrian.
__ADS_1
Pria itu menatap kepergian Freya dan Raya menuju mobil yang menjemputnya. "Apakah mereka menukar posisi? tapi apa gunanya?" batin Adrian .
"Untung saja!" gumam Raya saat berhasil memasuki mobil tanpa Adrian yang mengikutinya.
"Dia siapa Ray?" tanya Freya mengerutkan kening.
"Dia hanya cowok gila yang mengejarku sampe sini," ucap Raya.
"Cowok gila?" gumam Freya.
"Sudahlah jangan dipikirkan!" ucap Raya cemberut.
"Jalan pak!" perintahnya pada sopir.
"Baik, Nona!" ucap sopir yang menjemput kedua gadis kembar itu.
...🥬🥬🥬🥬🥬...
...TBC...
Assalamualaikum Readersku sayang 🥰
Ketemu lagi sama Othor Bar bar 🤭
Jangan lupa dukungannya ya sayang Thank you ❤️
__ADS_1
Muachhhh 😘