Pemikat Hati Sang Cassanova

Pemikat Hati Sang Cassanova
Peri cantik


__ADS_3

"Hai peri cantik," ucap seorang pria dari arah belakang Freya. Wanita itu sedang melangkah menuju ruang rawat pasien.


Freya menghentikan langkahnya, lalu menoleh, menatap pria yang memanggilnya tersebut.


"Boleh kenalan," ucap pria itu seraya mengulurkan tangan dengan senyum yang mengembang. Ia tahu betul bahwa pria itu adalah pria yang ditolongnya dalam kecelakaan sepeda motor.


"Aku Randy," ucapnya.


"Freya!" jawabnya tanpa menerima jabatan tangan pria tersebut.


"Waw, nama yang cantik. Secantik orangnya." Randy mengerlingkan sebelah matanya.


"Aku masuk ke ruanganku, jika ada yang perlu ditanyakan, silakan ikut masuk!" ucap Freya datar.


Wanita itu melangkah ke ruangan nya, Randy pun mengekor dari belakanng wanita itu. "Silakan duduk!" ucap Freya seraya mengulurkan tangan setelah wanita itu duduk di kursi kerjanya.


"Thank you," ucap Randy dengan senyum yang mengembang.


"Waw ... kau punya ruangan di rumah sakit ini? Apa jabatanmu?" tanyanya.


"Aku tidak punya jabatan, aku hanya magang di rumah sakit milik keluargaku," jawabnya.


"Waw ... jadi rumah sakit ini milik keluargamu?" tanya Randy terkejut. "Jadi kau Nona Cassilas?" tanyanya dengan wajah terkejut.


Freya hanya menatap pria itu datar tanpa berniat untuk menjawabnya.


"Ada perlu apa?" tanya Freya menatap Randy dengan sorot mata tajam.


Randy tersenyum. " Aku hanya ingin bilang terima kasih atas bantuanmu kemaren?" ucapnya.


"Bukankah kau sudah mengucapkannya?" tanya Freya menaikkan sebelah alisnya.


"Hehe... iya sih!"


"Sebagai permintaan maafku, bagaimana kalau nanti aku mengajakmu Dinner?" tanyanya.


"Maaf, aku tidak bisa karena aku punya suami untuk dilayani," jawab Freya.


"Kau jangan bercanda, kau bilang punya suami hanya untuk menghindariku 'kan?" Randy menatap Freya dengan senyum yang tak memudar.


Freya yang malas untuk meladeni pria itu, ia langsung memperlihatkan cincin nikahnya tanpa suara.


"Yah, ternyata benar-benar punya suami. Berarti aku telat dong," ucap Randy dengan wajah kecewa.

__ADS_1


"Tapi kalau cuma berteman, enggak apa-apa 'kan?" tanyanya.


"Tidak boleh! Karena seorang perempuan tidak butuh teman pria lagi setelah mempunyai pendamping, cukup berteman dengan suami tidak ada boleh ada pria lain meskipun itu hanya teman," ucap Freya datar.


"Terus, gimana caranya aku membalas kebaikanmu?" tanya Randy menaikkan sebelah alisnya.


"Aku tidak butuh balasan karena itu sudah tugasku sebagai sesama," jawab Freya dingin.


"Ternyata selain cantik, kau juga baik hati," ucap Randy dengan melekungkan sudut bibirnya kembali.


"Apa ada yang mau dibicarakan lagi?" tanya Freya dingin. Ia menatap Randy masih dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Tidak ada," jawab Randy dengan senyum yang tak memudar.


"Kalau begitu silakan keluar, saya masih punya banyak kerjaan," ucap Freya datar.


"Kau mengusirku?" tanya Randy dengan wajah yang seolah-olah sedih.


Freya tidak menjawabnya. Wanita itu mengambil berkas-berkas yang ada di meja kerjanya dan langsung mengecek beberapa berkas, entah apa yang ia baca.


"Seandainya kau tidak memiliki suami, mungkin aku sudah mengejarmu, meskipun ke ujung dunia sekalipun," ucapnya dengan senyum miring.


Randy langsung beranjak, ia melangkah dengan kaki yang masih sedikit pincang karena kecelakaan yang dialaminya.


"Jangan terlalu banyak bergerak jika belum sembuh, kalau kau paksakan nanti sembuhnya makin lama!" ucap Freya dengan mata yang menatap berkas-berkas di meja kerjanya.


"Hm," jawab Freya yang masih menunduk pura-pura fokus pada berkas-berkasnya.


"Jika kau membutuhkan sesuatu, jangan lupa hubungi aku, aku meletakkan kartu namaku di meja kerjamu," ucap Randy menatap Freya penuh kekaguman.


"Aku pamit pulang dulu," ucap Randy yang tetap tidak memudarkan senyumnya. Lalu pria itu melangkah keluar dari ruangan itu.


Freya langsung meletakkan berkas-berkas yang dipegangnya dan menatap pintu yang sudah ditutup rapat oleh pria tersebut.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


Di bawah pohon yang rindang, Raya menatap danau yang terhampar luas, lalu memejamkan mata dan menikmati angin sejuk sambil merentangkan kedua tangannya.


Adrian tersenyum melihat orang yang dicintainya kini bangkit dari keterpurukan, ia menatap Raya dari kursi panjang yang ada di pinggiran danau tersebut.


Setelah puas berdiri di pinggiran danau, Freya berbalik lalu menatap Adrian yang sedang tersenyum ke arahnya.


"Apakah hatimu sudah lega?" tanya Adrian. Pria itu hampir setiap hari mengajak Raya ke tempat itu untuk menenangkan pikirannya.

__ADS_1


Raya hanya mengangguk sambil tersenyum. Wanita itu melangkah mendekati Adrian, lalu duduk di samping pria itu begitu sampai di dekatnya.


"Adrian ... ! Maafin aku, aku memang sudah mengikhlaskan Kak David untuk Freya. Namun, aku tidak bisa membalas perasaanmu! Tidak semudah itu untuk mengalihkan perasaan. Aku tau aku egois, tapi tanpamu aku terpuruk," ucap Raya dengan perasaan bersalah.


"Aku bahagia bisa menjadi pelampiasanmu, paling tidak aku bisa dekat dengan orang yang kucintai meskipun aku tidak bisa menyentuh hatinya," ucap Arian dengan senyum lembutnya.


"Maafkan aku!" ucap Raya sambil menundukkan kepalanya.


"Kau tidak perlu minta maaf, karena perasaan tidak bisa dipaksa," ucap Adrian dengan suara lembutnya. "Aku bahagia kau jujur, dibandingkan kau membahagiakanku dengan kebohongan, maka itu akan lebih menyakitiku lagi." Adrian tersenyum menatap Raya.


"Terima kasih, tapi aku tidak pantas untukmu, semoga suatu saat kau menemukan orang yang benar-benar mencintaimu, tidak hanya memanfaatkanmu seperti aku," ucap Raya dengan wajah menyesal.


"Bagaimana jika kebahagiaanku adalah kamu, apakah kau mau mencoba untuk mencintaiku?" tanya Adrian dengan senyum menggoda.


"Aku hanya takut mengecewakanmu, selama ini aku terlalu banyak membuatmu terluka, aku selalu merasa malu saat bersamamu," ucap Raya.


"Kau tidak perlu malu, aku tahu kau tipe orang yang setia dan tidak mudah berpaling. Alasan itulah yang juga membuatmu sangat-sangat mencintaimu," ucap Adrian menatap Raya penuh cinta.


"Sok tau," ucap Raya memanyunkan bibirnya.


"Aku bukan sok tau, tapi aku benar-benar tau," ucap Adrian dengan mengerlingkan sebelah matanya.


"Terserah," ucap Raya memutar bola matanya malas.


"Ya sudah, kita pulang dulu! Hari sudah mulai sore. Aku takut daddy menghawatirkanku," ucap Raya tersenyum.


"Ya sudah, ayo!" ajak Adrian seraya mengulurkan tangannya. Raya pun menerima uluran tangan Adrian dan menggenggamnya erat. Ia merasa sangat bahagia saat bersama pria itu.


Adrian langsung membukakan pintu mobil untuk wanita pujaannya. Lalu mengitari mobil tersebut setelah Raya masuk dan duduk dengan sempurna di samping kursi kemudi, lalu pria itu juga duduk di samping wanita tersebut dan melajukan mobilnya untuk pulang.


Di dalam mobil, Raya terus mengembangkan senyumnya sambil menatap ke samping dan menatap pepohonan yang berlalu lalang.


Adrian pun menoleh sekilas, ia ikut tersenyum saat wanita itu tersenyum.


"Kau kenapa?" tanya Adrian.


"Aku hanya happy."


"Happy?" tanya Adrian dengan kening yang mengerut.


"Aku sangat happy saat bersamamu akhir-akhir ini, entah karena apa?" ucap Raya.


"Apa mungkin, kau mencintaiku?" tanya Adrian menatap Raya sekilas.

__ADS_1


...💋💋💋💋💋...


...TBC...


__ADS_2