
"Kau kenapa?" tanya Adrian. Pria itu mengalihkan tatapannya karena fokus melihat jalanan.
"Aku happy aja."
"Happy?" tanya Adrian dengan kening yang mengerut.
"Aku sangat happy saat bersamamu akhir-akhir ini, entah karena apa?" ucap Raya dengan senyum yang mengembang.
"Apa mungkin, kau mencintaiku?" tanya Adrian menatap Raya sekilas.
Deg
Raya terdiam. Apakah Adrian benar bahwa ia mulai mencintai pria tersebut. "Kenapa?" Adrian melirik Raya sekilas.
"Aku tidak ingin memberimu harapan jika pada akhirnya aku hanya akan menyakitimu," ucap Raya menundukkan kepalanya dengan senyum yang memudar.
"Jangan baper kayak gitu, aku cukup tahu diri bahwa aku tidak akan bisa menggapaimu," ucap Adrian dengan senyum yang tak memudar.
"Aku tidak ingin memaksakan kehendakku! Jika kau menemukan kebahagiaanmu, maka kau tidak perlu menoleh padaku karena aku akan bahagia hanya dengan melihat senyummu," ucap Adrian tanpa menatap Raya dengan senyum yang membuat hati Raya merasa damai.
Wanita itu sangat terharu mendengar orang mencintai dirinya begitu dalam hingga ia merasa tersentuh dengan ketulusan pria tersebut.
"Aku tidak ingin berjanji padamu karena aku tidak tau apa yang akan terjadi di masa depan, tapi aku akan berusaha hanya akan melihatmu, tidak akan ada bagi pria lain untuk menyentuh hatiku," ucap Raya tersenyum lembut.
"Terima kasih, tapi aku tidak mau kau seperti itu, jangan paksakan hatimu untuk mencintaiku jika mencintaiku begitu sulit bagimu, aku hanya ingin kau bahagia," ucap Adrian.
"Tapi bagiku kau terlalu sempurna hingga aku tidak rela jika kau harus menjadi milik orang lain. Namun, aku sadar kau ber hak bahagia dan ber hak untuk memilih orang yang lebih sempurna dariku," ucap Raya.
"Bagiku kau sangat sempurna hingga aku rela meninggalkan pendidikanku hanya untuk membuktikan padamu bahwa cintaku sangat tulus bukan hanya bualan semata," ucap Adrian.
Raya kini salah tingkah, setelah Adrian mengucapkan hal itu. Raya hanya ingin membuktikan bahwa pria itu hanya main-main. Namun, pada kenyataannya malah terbalik. Adrian benar-benar datang ke Paris bahkan melanjutkan pendidikannya di negara itu.
"Maafkan aku!" ucap Raya.
"Kau tidak perlu minta maaf terus menerus, karena ini semua adalah keinginanku sendiri," ucap Adrian.
Kini mobil Adrian sudah sampai di mansion Cassilas. Adrian turun dan mengitari mobilnya, ia membukakan pintu untuk Raya setelah mobil tersebut sampai di halaman mansion.
"Silakan turun Tuan putri," ucap Adrian seraya mengulurkan sebelah tangannya.
"Apaan sih!" ucap Raya salah tingkah. Gadis itu langsung meninggalkan Adrian dengan senyum malu-malu.
"Tidak mengajakku masuk nih?" tanya Adrian dengan senyum menggoda. Pria itu sangat menyukai tingkah Raya yang malu-malu.
__ADS_1
"Nanti saja!" ucap Raya tanpa balik badan. Sumpah demi apa, ia sangat malu untuk menatap orang yang mencintainya tersebut.
Gadis itu lari menjauh dari Adrian, sementara Adrian melekungkan sudut bibirnya menatap Raya yang kian menjauh.
"Apakah aku hanya kepedean? Ya sudahlah, yang penting dia bahagia," gumam Adrian.
Pria itu mengitari mobilnya kembali dan duduk di kursi kemudi, ia melajukan mobilnya meninggalkan mansion Cassilas.
Di dalam perjalanan, ia tidak hentinya mengembangkan senyum karena ia berhasil membuat orang yang dicintainya kini bangkit dari keterpurukan meskipun ia hanya dijadikan pelampiasan tapi setidaknya dia bisa dekat dengan orang yang dicintai meskipun tidak memiliki.
"I love you more and more Raya, meskipun kau tidak pernah menganggapku," ucap Adrian masih dengan senyum yang tak memudar.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Kini Freya sudah sampai di mansion jam 7 malam. Wanita itu langsung menghempaskan tubuhnya pada sofa kamarnya. Ia tidak melihat David di kamar tersebut. Seketika pikiran negatif kini menjalar di kepalanya.
"Apa dia di kamar mandi? Apa mungkin terjadi sesuatu padanya?" Freya langsung lari ke kamar mandi dan membuka pintu tersebut dengan kencang hingga ia melihat gading suaminya dengan sangat jelas,"
"Tidak … !" teriak Freya. Ia langsung menutup pintu kamar mandi tersebut sambil memegang dadanya. Nafasnya memburu, ia sangat terkejut hingga rasanya tidak ada udara di sekitarnya.
"Dasar suami laknat!" umpat Freya. "Mandi tidak mengunci kamar mandi," gerutu Freya.
Sementara David hanya tersenyum melihat tingkah aneh Istrinya. "Emang dia pikir aku pingsan apa? Hingga dia terlihat panik kayak gitu." David hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Pria itu sedang berdiri menyirami tubuhnya dengan air shower. Namun, tiba-tiba pintu langsung terbuka hingga membuat pria itu terkejut, tapi setelah melihat siapa yang membukanya, ia langsung tersenyum dan membiarkan tubuh polosnya ditatap oleh istrinya tersebut.
Setelah beberapa saat, kini David keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk sebatas pinggang.
"Kenapa kau sudah mandi? Apakah demamnya sudah reda?" tanya Freya sambil memainkan ponselnya. Wanita itu tidur di sofa dengan posisi yang sibuk memainkan ponselnya. Ia sengaja mengalihkan tatapannya dari David karena ia sangat malu saat melihat tubuh polos sang suami di dalam kamar mandi sebelumnya.
"Aku nggak apa-apa dan aku juga sudah tidak demam kembali," jawab David tersenyum. Ia masih berdiri di samping wanita itu, ia menatap Freya kesal karena wanita itu bicara tanpa menatapnya.
"Kalau bicara sama orang, tataplah orangnya agar lebih sopan," lanjutnya.
Seketika Raya menghentikan mainnya dan langsung duduk menatap David yang masih betah dengan posisinya.
"Cepat ganti baju! Aku geli melihatnya," Freya berdiri, lalu melangkah menuju kamar mandi dan menggantikan Freya di sana.
Sementara Freya hanya menatap langkah David dengan senyum yang tak dapat diartikan.
David langsung beranjak setelah bayangan Freya menghilang di balik pintu kamar mandi. Ia tersenyum saat Freya masih menyempatkan diri untuk mengambilnya baju ganti.
Setelah beberapa saat Freya keluar dari kamar mandi ia sudah memakai baju gantinya, ia hanya sekedar mencari keamanan saat ia sedang bersama suaminya.
__ADS_1
Ia memang memaafkan David. Namun, ia tidak bisa menyerahkan haknya sebelum ia yakin dengan keputusannya.
Freya melakukan itu semua hanya untuk membuktikan bahwa David benar-benar mencintainya bukan hanya bualan semata.
Freya keluar dari kamarnya untuk menuju dapur, lalu tampaklah David yang masih sibuk menata makanan di atas meja makan.
David menoleh saat mendengar suara langkah kaki seseorang yang sedang menuju ke arahnya.
"Freya … !" gumam David. Pria itu balik badan, lalu mengambilkan kursi untuk istrinya tersebut.
"Silakan Tuan putri," ucap David tersenyum sambil memegang kursi yang ia ambilkan untuk istrinya tersebut.
"Terima kasih," ucap Freya tersenyum tipis.
David langsung mengambil beberapa makanan dan diletakkan di piring Freya. "Ini aku masak spesial untuk istriku," ucap David tersenyum bangga.
"Terima kasih atas usahamu?"
"Sama-sama, sayang!" ucap David tersenyum.
"Apaan sih, Vid? Aku geli mendengarmu memanggilku seperti itu," ucap Freya dengan wajah datarnya.
"Aku hanya ingin membuat istriku bahagia," ucap David tersenyum.
Freya tak menanggapi suaminya yang masih terus menggombalinya. "Lebih baik kita makan malam bersama, setelah itu kita cerita-cerita lagi," ucap Freya datar.
"Kamu pasti belum makan 'kan?" tanya Freya menatap David yang menatap dirinya aneh.
"Pastinya dong," David juga mengambil kursi lalu duduk bersebelahan dengan Freya.
"Kau masak sendiri?" tanya Freya menatap David sekilas.
"Iya, sekali-kali aku yang masakin untuk istriku tercinta." David mengerlingkan sebelah matanya saat Freya menatap ke arahnya.
"Thank you, tapi lain kali tidak usah repot-repot karena ini adalah tugasku," ucap Freya.
"Jadi kamu tidak senang nih aku perhatikan?" tanya David menatap Freya pura-pura cemberut.
"Aku senang, hanya saja … sudahlah kita makan dulu, kita bicara nanti saja!" ucap Freya.
David tersenyum. Lalu mereka makan malam bersama dalam keheningan.
...💋💋💋💋💋...
__ADS_1
...TBC...