
"Freya ... ! Mommy sangat merindukanmu, Sayang!" teriak Dinda dari arah pintu utama saat melihat putrinya berada di halaman mansion. Dinda melangkah dengan semangat karena merindukan putrinya tersebut.
"Kapan kau datang, Sayang? Kenapa nggak kabari mommy?" tanya Dinda tersenyum lembut setelah sampai di dekat kedua putrinya.
"Baru saja, Mom!" jawab Freya tersenyum tipis.
Kau sendiri, suamimu mana?" tanya Dinda sambil celingak-celinguk, menatap sekelilingnya.
"Aku sendiri Mom, David ke kantor!" ucap Freya.
"Owh ... ya sudah kalau gitu, masuk dulu yuk Sayang, mumpung daddy ada di rumah," ajak Dinda.
"Daddy tidak ke rumah sakit?" tanya Freya mengerutkan keningnya.
"Tadi ada calon adik iparmu, jadi daddy masih di sini!" ucap Dinda tersenyum, lalu melirik Raya dengan mengedipkan sebelah matanya. Raya hanya tersenyum, sedangkan Freya hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya mendengarkan ucapan Dinda.
"Ayo masuk Nak! Kaki mommy pegel jika ngobrol di sini." Dinda menarik tangan Freya, menuntunnya ke dalam mansion, sedangkan Raya mengikuti langkah ke duanya dari belakang.
Mereka bertiga melangkah menuju ruang keluarga, dan tampaklah Anton yang sedang bersantai di sana. "Freya!" Anton tersenyum saat melihat kedatangan putrinya.
"Kau masih ingat jalan pulang, Frey?" tanya Anton begitu melihat mereka melangkah mendekati dirinya.
Freya tersenyum tipis. "Kenapa Dad? Bukankah kita sudah berjumpa hampir tiap hari di kantor?" tanya Freya dengan menaikkan sebelah alisnya.
Freya menyalimi tangan Anton, lalu duduk bersebrangan di sofa ruang keluarga itu, dengan Dinda yang duduk di samping Anton dan Raya pun duduk bersebelahan dengan saudara kembarnya.
"Tapi jika di rumah sakit, kau hanya bertemu dengan daddy, memangnya kau tidak rindu pada mommymu?" tanya Anton seraya menoleh menatap wajah cantik istrinya.
"Bukan begitu, Dad! Aku ingin sekali main ke sini, cuma Daddy 'kan tau sendiri kegiatanku di rumah sakit, belum juga tugas kuliah yang menumpuk," ucap Freya dengan rasa bersalah.
Gadis itu menatap mommynya. "Maaf ya, Mom! Freya baru sempat hari ini untuk menjenguk mommy," ucap Freya sambil menatap Dinda sendu.
"Nggak apa-apa, Sayang! Kapan-kapan biar mommy yang main ke mansionmu," ucap Dinda tersenyum lembut.
"Bener Mom?" tanya Freya Antusias.
"Benerlah, lagi pula mansionmu tidak jauh dari sini, nanti akan mommy sempatkan," ucap Dinda.
"Terima kasih, Mom!"
"Tapi kalau Mommy mau ke rumah, mommy hubungi Freya dulu takut nantinya Freya nggak ada di rumah," ucap Freya datar.
"Iya Sayang, Iya!" ucap Dinda tersenyum, sedangkan Freya hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
Anton memperhatikan wajah Raya yang terlihat tidak bersemangat seperti biasanya. "Calon pengantin kenapa melamun?" goda Anton menatap wajah Raya yang hanya diam saja sejak masuk ke dalam mansion itu.
"Nggak apa-apa, Dad! Aku hanya males saja!" ucap Raya tersenyum.
"Dari tadi daddy perhatikan, kau terlihat murung dan kebanyakan melamun," ucap Anton menatap wajah putrinya intens.
"Itu cuma perasaan Daddy saja," jawab Raya tersenyum kaku.
"Gimana hubunganmu sama David, Frey! Sudah ada tanda-tanda belum?" tanya Raya mengalihkan pembicaraan.
"Tanda-tanda?" Freya mengerutkan kening.
"Iya, tanda-tada keponakanku akan segera hadir," ucap Raya memperjelas dengan senyum mengembang.
"Kau itu nanya apa sih?" Freya memutar bola matanya malas.
"Hey, aku cuma nanya, Kalian 'kan menikah sudah dua bulan, jadi wajar dong aku nanya kayak gini," ucap Raya tersenyum lembut.
"Nanti kalau sudah ada tanda-tandanya, pasti aku kabari," ucap Freya dengan menatap wajah Raya datar.
"Kamu itu ya, Frey! Jangan terlalu datar begitu jika bicara, senyum sedikit aja," ucap Raya sambil mengapit jari jempol dan jari telunjuk di depan wajahnya dengan mata yang memicing.
"Iya, nanti akan ku coba," jawab Freya masih dengan wajah datar.
"Memang mau gimana lagi? 'Kan aneh kalau aku senyam-senyum nggak jelas, bisa-bisa aku dikira kesetanan sama David," ucap Freya dengan memutar bola matanya malas.
Seketika Raya tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban saudara kembarnya.
"Ya sudah, terserah kamu saja!" ucap Raya mencoba menahan tawanya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Sementara Dinda dan Anton hanya memperhatikan putri kembarnya dengan senyum yang mengembang.
_______________
Randy sedang mengendarai mobil menuju tempat kerjanya. Namun, di tengah jalan ia 'tak sengaja melihat seseorang yang tidak asing baginya.
"Cindy ... !" gumam Randy saat melihat Livia di pinggir jalan sedang menunggu taksi. Pria itu menghentikan mobilnya tepat di depan wanita itu. Randy membuka pintu mobil, dan betapa terkejutnya wanita itu setelah melihat suaminya yang ada di dalam mobil tersebut.
Livia mencoba lari dari tempat itu. Akan tetapi, Randy sudah terlanjur memegang pergelangan tangannya dan wanita itu pun tidak bisa lari lagi. Ia mencoba memberontak hingga seperti orang gila dan menjadi tontonan orang banyak.
Pada saat itu, David tidak sengaja berpapasan dengan mereka, David turun dari mobilnya karena melihat Livia yang sedang memberontak ingin pergi.
"Lepaskan dia!" teriak David. Pria itu melangkah mendekati sepasang suami istri tersebut.
__ADS_1
"Anda siapa? Maaf jangan mencampuri rumah tangga saya." Randy menatap David tajam.
David mengerutkan alis karena bingung, bukankah Livia sudah bercerai dengan suaminya? Namun, David tidak memperdulikan itu. "Tapi jangan kasar Bro! Apalagi sama cewek," ucap David tersenyum.
"Anda siapa? Aku terpaksa melakukan ini, karena dia tidak mau diajak bicara baik-baik," ucap Randy menatap David kesal karena menghalanginya.
"Bukankah kalian sudah bercerai? Jadi untuk apalagi kau mau membawanya?" tanya David.
"Cerai? Tidak! Aku tidak pernah menceraikannya," ucap Randy bingung.
"Jadi Kau membohongiku Livi?" David menatap Livia tajam.
"Tidak, aku tidak membohongimu David, tolong aku! Dia pasti akan menyiksaku lagi," ucap Livia dengan air mata buayanya.
"Cindy, kau benar-benar keterlaluan, teganya kau memfitnahku, asal kau tau Livi, aku kayak gini demi anak kita, jika saja Cacha tidak mohon-mohon padaku, aku juga tidak Sudi memaksamu seperti ini!" sentak Randy seraya menatap Livia tajam.
"Kalian sudah punya anak?" tanya David bingung.
"Tidak," ucap Livia.
"Iya," ucap Randy.
David semakin bingung dengan apa yang terjadi, jadi ia memilih pergi dari pada mengurus kehidupan mantan kekasihnya yang membuatnya pusing.
"Ya Sudah, aku mau berangkat ke kantor dulu!" ucap David meninggalkan sepasang suami istri itu. Livia terus berteriak memanggil nama David. Namun, David tak menghiraukannya. Ia tetap melangkah menuju mobilnya dan melajukan mobil tersebut meninggalkan tempat itu.
"Kurang ajar! Jadi selama ini aku dibohongi!" David memukul kemudi mobil dengan merapatkan kedua giginya.
"Awas aja kau Livi!" gumam David seraya mengepalkan tangannya pada kemudi mobil karena kekesalan yang membuncah.
...💋💋💋💋💋...
...TBC...
Assalamualaikum Readersku sayang 🥰
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya 😂
love you always
Muachhh 😘
Eh Othor mau nanya, kisah Raya mau di Sad ending atau happy ending? Jika sad Othor lanjutkan di karya Othor selanjutnya jika happy berarti tamat di karya Othor yang ini 😂
__ADS_1
Jawab jawab jawab ... jangan sampe beda ya jawabannya nanti Othor pusing mau ngikutin usul kalian yang mana? 🤣