
Di dalam mobil, Freya hanya diam dan menatap lurus ke depan, sedangkan David sesekali menatap gadis itu dengan senyum manisnya.
"Kamu nggak capek berwajah datar terus?" tanya David menggoda Freya dengan senyuman yang tak kunjung memudar.
"Kamu juga nggak capek tersenyum terus tanpa alasan?" Freya mengembalikan pertanyaan dengan wajah tanpa ekspresi.
"Senyum itu shodakoh, terkadang kita mesti tersenyum untuk menutupi sebuah luka."
Ucapan David berhasil membuat Freya menoleh. "Pria sepertimu memang bisa merasakan luka? Jika memang kau bisa merasakan luka, kenapa kau masih menciptakan luka untuk orang lain?" tanya Freya tersenyum sinis.
Deg
Entah perasaan dari mana David merasa apa yang diucapkan Freya adalah benar. Akan tetapi, David mengingat penghianatan Cantika. Ia tidak terima karena telah dipermainkan seorang wanita hingga ia memilih untuk tidak menjalin hubungan dengan siapapun dan membentengi hatinya untuk tidak jatuh cinta kembali.
"Memangnya siapa yang 'ku sakiti?" tanya David santai.
"Apakah kau tidak pernah berpikir bahwa setiap kau meniduri mereka, mereka akan berharap lebih padamu! Namun, pada kenyataannya kau hanya menganggap mereka sampah." Freya menatap David tajam.
David mengehentikan mobilnya, lalu menatap Freya dengan senyum khasnya. Tatapan mereka bertemu, entah mengapa David merasa aneh dengan jantungnya yang berdegup lebih kencang dari biasanya.
Saat menatap mata Freya. Ia seakan lemah, ia tidak mampu berkata, dan ia hanya bisa membisu menunggu ucapan demi ucapan yang akan Freya lontarkan.
__ADS_1
"Apakah kau akan berpikir aku akan jatuh cinta padamu dengan tatapan dan senyuman yang menjijikkan itu?" Freya memalingkan wajahnya dan menghadap lurus ke depan lagi.
"Aku tidak pernah menganggap mereka sampah, tetapi mereka yang membuat dirinya menjadi sampah, apakah aku salah jika aku ingin meluapkan seluruh rasa kecewaku pada mereka?"
"Aku tidak pernah meniduri seorang wanita, aku hanya minta mereka memu*skanku dengan cara yang lain!" ucap David.
"Cih! Kau pikir aku akan percaya?" Freya masih tidak menatap David.
"Aku tidak memintamu untuk percaya, tetapi aku hanya ingin menceritakannya saja. Selepas itu, kau mau percaya ataupun tidak, itu terserah kamu." David masih menatap Freya dengan intens.
Freya menoleh. "Sampai kapanpun aku tidak bisa mempercayai mulut buaya sepertimu!" ucap Freya tersenyum sinis.
David menatap bibir Freya penuh Damba. Ia gemas dengan cara bicara gadis itu hingga tanpa sadar, ia memegang kepala Freya dan melum'tnya lembut.
Freya yang emosi akhirnya membuka seat belt mobil David dan keluar, ia pergi meninggalkan David yang masih terpaku. Entah David harus menyesali keputusannya atau bersyukur karena telah berhasil mencuri ciuman gadis yang membuatnya penasaran.
Sementara Freya mengumpat pria itu sambil berjalan dengan penuh emosi. "Dasar kurang ajar! Beraninya dia mencuri ciuman pertamaku!"
Freya menghentikan taksi. Lalu melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Freya berusaha bersikap datar kembali dan berjalan memasuki ruangannya. Namun, ternyata di ruangannya sudah ada Adrian yang duduk di seberang meja kerjanya.
__ADS_1
"Ngapain Anda di ruangan saya?" tanya Freya datar.
Evan duduk membelakangi. Namun, Freya tahu betul postur tubuh dari mantan kekasihnya tersebut.
Evan menoleh saat mendengar suara yang ia rindukan. Ia tersenyum melihat gadis pujaannya tersebut.
"Aku kesini untuk menemuimu," ucap Evan tersenyum.
...💋💋💋💋💋...
...TBC...
Assalamualaikum Readersku sayang 🥰
Jangan pernah lupa untuk dukung Othor ya!
Likenya digoyang please 🙈
Sampai jumpa di Bab berikutnya
Thank you 😍
__ADS_1
Muachhh 😘