Pemikat Hati Sang Cassanova

Pemikat Hati Sang Cassanova
Siti Nurbaya


__ADS_3

"Mas aku sudah lelah," gerutu Gracia.


"Sedikit lagi, sayang! Please ...," ucap Brian memohon.


"Enggak aku sudah tidak kuat," ucap Gracia dengan wajah cemberut.


"Aku pegel banget, Mas," rengeknya.


"Sedikit lagi," perintah Brian.


"Ini sudah merah semua loh ... " ucap Gracia dengan mata sendu.


"Ya, ampun sayang ... nanggung!" ucap Brian memohon.


"Dari tadi bilang nanggung terus," ucap Gracia kesal.


"Ya nanggung sayang, ini permainannya dikit lagi kelar," ucap Brian.


"Tapi setelah ini janji ya, langsung tidur! Aku udah capek!" keluh Gracia.


"Iya, iya!" jawab Brian pasrah.


Sepasang suami istri itu sedang bermain domino dengan Gracia yang selalu kalah hingga wajahnya dipenuhi lipstik sebagai hukuman dari Brian. Ia juga duduk ber tinggung selama 30 menit.


Setelah beberapa menit kini keduanya sudah menyelesaikan permainannya. Namun, kali ini Gracia yang menang, hingga ia melompat-lompat kegirangan layaknya anak kecil.


"Yeayyyy... akhirnya aku menang," ucap Gracia berdiri sambil melompat-lompat.


"Nggak bisa pokoknya kita main lagi," ucap Brian tidak terima.


"Sini aku hukum dulu," ucap Gracia tersenyum usil. Wanita paruh baya itu mengambil lipstik, lalu dipoleskan ke wajah Brian hingga wajah itu seperti Badud.


"Tapi aku 'kan cuma kalah satu kali, kenapa coretannya dimana-mana?" tanya Brian.


"Sekarang ber tinggung!" perintah Gracia dengan senyum usil.


"Iya, iya!" ucap Brian seraya mengikuti titah Gracia. Wanita itu tersenyum puas karena berhasil mengalahkan Brian meskipun hanya satu kali.


"Ayo main lagi!" ajak Brian.


"Pokonya enggak, aku lelah," tolak Gracia.


"Ya udah kalau gitu, ngapain aku ber tinggung." Brian berdiri hendak melangkah menuju ranjang. Namun, Gracia menghentikan langkahnya.


"Nggak boleh! Pokoknya Mas Brian harus ber tinggung selama 30 menit." Gracia menatap Brian tajam.


"Ayolah Grac ... ! Masak kamu tega melihatku ber tinggung selama 30 menit," ucap Brian.


"Tadi Mas Brian juga tega melihatku ber tinggung, lalu kenapa aku nggak," ucap Gracia dengan senyum mengembang.


"Grac ... !" rayu Brian manja.


"Ber tinggung atau tidur di luar!" ucap Gracia tersenyum usil.


"Iya, iya!" ucap Brian. Akhirnya pria itu pasrah dengan titah istrinya. Ia duduk ber tinggung seraya menatap istrinya yang memejamkan mata.

__ADS_1


"Grac ... !" rengek Brian.


"Berisik!" sentak Gracia seraya menutupi telinganya dengan bantal. Lalu wanita itu tidur membelakangi Brian yang sedang duduk ber tinggung, pria itu sedikit jauh dari tempat tidurnya.


Setelah dirasa Gracia tidur dengan lelap, akhirnya Brian mendekati istrinya, lalu mengambil bantal yang menutupi telinga wanita itu perlahan.


"Ber tinggung!" ucap Gracia dengan menuding menggunakan jari telunjuknya.


Teriakan Gracia seketika mengagetkan Brian. Namun, di detik berikutnya Brian tersenyum karena merasa lucu dengan tingkah konyol istrinya yang sedang mengigau.


"Aku sangat beruntung memilikimu, sayang! Kau bahagiaku saat aku sedih." Brian membelai kening Gracia lalu mengecupnya lembut.


______________


"Apakah keputusanku sudah benar?" tanya David.


Pria itu duduk bersama dengan sahabatnya di balkon apartemen, pria itu sengaja mengajak Raka menginap di apartemennya karena ia merasa sendiri di negara itu.


"Keputusanmu sudah benar, tapi surat kontrak itu yang salah!" ucap Raka datar.


"Aku harus apa? Aku tidak mencintainya begitupun sebaliknya." David menatap langit yang sedang mendung tidak terlihat bulan ataupun bintang di atas sana.


"Lalu, apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus mencintainya juga?" tanya David.


"Jika kau mau mendengarkanku, maka jawabannya 'iya!"' ucap Raka masih dengan wajah datarnya.


"Kau harus tetap di sini sampai waktu pernikahanku tiba," ucap David.


"Pasti," jawab Raka.


Raka mendesah, Lalu menatap sahabatnya dengan wajah tanpa arti. "Entahlah, dia bilang bosan padaku karena aku bukanlah pria yang romantis," ucap Raka.


Seketika tawa Brian meledak mendengar curhatan sahabatnya itu. "Lagian kamu itu punya wajah datar banget, coba senyum!" perintah David.


"Untuk apa?" tanya Raka dengan wajah bingung. "Pokoknya senyum!" perintah Brian. Raka mencoba memaksakan senyumnya untuk mengikuti titah David.


"Senyummu menakutkan," ucap David sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Raka mendesah. "Kau tahu Vid, aku juga dijodohkan dengan orang tuaku," ucap Raka datar.


"What?" kaget David.


Pria itu menatap sahabatnya dengan penuh tanda tanya. "Bukankah kau ingin melamar Rania?" tanya David.


"Aku sudah bilang pada orang tuaku, tapi mereka tak merestui dan memaksaku untuk menikah dengan wanita pilihannya," ucap Raka menatap langit mendung itu.


"Apakah kau sudah menyetujuinya?" tanya David.


"Sudah, mereka akan menjodohkan ku dengan wanita bercadar. Aku tidak pernah berjumpa dengannya secara langsung, tapi mereka akan menikahkanku dalam waktu dekat ini," ucap Raka dengan wajah tanpa ekspresi.


"Ha ha ha ... ternyata orang tuamu lebih parah dari pada orang tuaku, masak mereka menjodohkan anak mereka dengan orang yang tidak pernah di lihatnya, jika dia cacat bagaimana?" David masih terus menertawakan sahabatnya tersebut.


"Kau sangat menyebalkan Vid, bukannya memberi solusi malah menertawakan sahabat yang sedang kesusahan." Raka beranjak dari tempat itu, lalu melangkah menuju tempat tidur David. Pria itu tidur dengan lengan yang menjadi bantalan.


"Okay, okay! Kalau kau tidak mau, bagaimana kalau kau kabur saja!" tawar David seraya melangkah mendekati sahabatnya itu dan berbaring di sampingnya.

__ADS_1


"Kau sudah gila," ucap Raka datar.


"Tadi minta solusi, sekarang malah nggak mau," ucap David.


"Ya sudah, terserah." David menatap sahabatnya kesal.


"Kau mau buat orang tuaku jantungan karena aku kabur?" tanya Raka.


David sejenak berpikir. "Iya juga ya?"


"Sudahlah, cerita sama kamu hanya membuatku tambah pusing," ucap Raka.


"Ya sudah," ucap David.


Kedua pria itu kini terdiam sambil menatap langit-langit kamar, menyelami pemikiran masing-masing.


"Kenapa orang tua kita suka menjodohkan anak-anaknya ya? Padahal ini bukan zaman Siti Nurbaya lagi," ucap Raka dengan wajah lesu.


"Karena orang tua kita menginginkan yang terbaik untuk anaknya," ucap David tersenyum.


"Kamu bilang begitu karena kamu tertarik sama Freya, sedangkan aku belum pernah melihat wajahnya sama sekali," ucap Raka.


"Percayalah bahwa apa yang ditakdirkan Tuhan adalah yang terbaik," ucap David.


"Tumben kamu bicara bener," ucap Raka.


"Bukankah aku selalu benar? Hanya saja kamu yang bodoh tidak dapat memahami ku," ucap David.


"Sudahlah aku mau tidur." Pria itu memejamkan mata seraya berbalik membelakangi David.


"Dasar teman durhaka, masak aku ditinggal tidur," ucap David. Pria itu juga ikut membelakangi sahabatnya dan menyusul Raka ke alam mimpi.


...💋💋💋💋💋...


...TBC...


Assalamualaikum Readersku sayang 🥰


Kira-kira Raka dijodohkan dengan siapa ya?


yang membaca karya Othor 'Tasbih Cinta'


Insya Allah tau jawabannya 😂


Jangan lupa jejaknya untuk Othor


Like, komen dan Vote seikhlasnya 🥰


Thank you Muachhh 😘


Sampai jumpa di episode selanjutnya


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya.


Love you All ❤️

__ADS_1


__ADS_2