Pemikat Hati Sang Cassanova

Pemikat Hati Sang Cassanova
Bermesraan tidak kenal tempat


__ADS_3

Ke esokan harinya.


Adrian mengerjap-ngerjapkan mata melihat sekeliling kamarnya. Ia melihat selimut yang membaluti tubuhnya, padahal ia mengingat dengan jelas bahwa ia tidak memakai selimut sebelum tidur.


"Apa Raya yang menyelimuti tubuhku?" gumam Adrian. Sorot matanya mengarah pada tempat tidur, ia tidak melihat Raya ada di sana, yang ia lihat hanyalah ranjang yang sudah tertata rapi dan bersih.


"Apa Raya ada di kamar mandi?" Adrian melangkah mendekati kamar mandi yang ternyata tidak dikunci, ia membukanya. Namun, ia juga tidak menemukan keberadaan gadis itu.


"Raya kemana?" gumamnya. Adrian menutup pintu kamar mandi kembali, lalu ia melangkahkan kakinya ke ruang ganti untuk mengambil handuk.


Setelah beberapa saat tidak menemukan keberadaan istrinya akhirnya ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum mencari keberadaan Raya.


Seusai mandi Adrian keluar kamar dengan baju santainya, ia melangkahkan kaki untuk mencari Raya kembali dengan mengelilingi mansion. Saat sampai di dekat meja makan, ia mencium aroma khas makanan yang tidak pernah dimasak di mansion itu.


Adrian mendekat saat melihat Raya sibuk menyiapkan makanan di meja makan itu. "Kamu masak apa, Sayang?" tanya Adrian dari belakang Raya.


Raya menoleh, ia melihat seseorang yang selalu ia kagumi mendekat ke arahnya. Raya memperlihatkan makanan yang ia masak.


Aku masak 'Bouillabaisse' tapi entahlah rasanya bagaimana, karena aku masih baru belajar dari mommy," ucap gadis itu tersenyum lembut.


'Bouillabaisse'



"Aku juga masak 'Langue de Boeuf'


karena takut kalian tidak menyukai seafood," ucap Raya tersenyum sambil memperlihatkan masakan yang satunya lagi.


Langue de Boeuf



"Waw ... ternyata calon istriku pandai masak juga," ucap Adrian menatap Raya dengan senyum lembutnya. Pria itu mengambil kursi dan duduk di kursi tersebut.


Tidak lama kemudian Bastian datang dan duduk di kursi yang biasa ia duduki. "Wah, pagi ini ada makanan yang berbeda. Pasti menantu nih yang masak," tebak Bastian dengan senyum yang mengembang.


Raya hanya tersenyum kaku ia tidak tahu harus mengucapkan apa, gadis itu terlihat salah tingkah. "Duduklah, Nak! Jangan sungkan, anggap saja aku daddy kandungmu," ucap Bastian ramah.


"Terima kasih, Dad!" ucap Raya.


Lalu, ia mengambilkan makanan yang ia masak untuk mertunya, setelah itu ia mengambil makanan untuk Adrian.


"Kalau daddy mu berangkat sekarang kemungkinan besok pagi dia sudah sampai di sini!" ucap Bastian melirik Raya sekilas.


"Iya, Dad!" jawab Raya.


Setelah itu, mereka makan dalam keheningan, sebenarnya Bastian dan Adrian terbiasa sarapan roti. Namun, untuk menghargai wanita itu baik Bastian maupun Adrian bungkam dan memakan masakan itu dengan lahap karena masakan Raya memang sangat lezat dan menggugah selera.


Seusai sarapan, Bastian langsung berangkat kerja. Sementara Raya dan Adrian masih bersantai di mansion tersebut.

__ADS_1


"Dari pada kita sumpek di mansion ini, kita jalan yuk! Kita ke rumah Devan aja, gimana?" tanya Adrian.


"Boleh, lagi pula aku belum ketemu Tante Gracia," ucap gadis itu.


"Ya sudah ayo! Tapi sebentar, aku mau ambil ponsel dulu, takutnya nanti dia keluar kalau aku nggak kasih kabar," ucap Adrian seraya beranjak.


"Ya sudah, aku juga mau ambil tas selempang!" ucap Raya. Mereka berjalan beriringan menuju kamar dengan Adrian yang sesekali menatap Freya dari samping.


_______________


David dan Freya kini sudah siap dengan koper yang dibawa oleh ART menuju mansion Cassilas. Mereka tiba di mansion itu pukul 5 pagi karena Anton mengajak mereka sarapan bersama di mansion tersebut.


David dan Freya melangkah, dan membuka pintu utama begitu sampai di mansion itu. "Selamat pagi, Mom!" sapa Freya saat melihat Dinda melangkah menuju ruang keluarga sambil membawa kopi.


"Kau sudah datang, Sayang? Ayo ke ruang keluarga dulu! Kita bincang-bincang sebentar!" ajak Dinda.


"Ayo Nak David, kita ke ruang keluarga dulu!" Dinda tersenyum menatap menantunya tersebut.


David mengangguk dengan menggandeng tangan Freya mengikuti langkah mertunya tersebut.


"David, Freya kalian sudah sampai? tanya Anton begitu melihat anak dan menantunya bergandengan mengikuti langkah istrinya.


"Pagi Dad!" sapa David sambil mengulurkan tangannya pada pria paruh baya itu.


"Pagi juga! Silakan duduk!" perintah Anton dengan mengulurkan sebelah tangannya.


David dan Freya duduk di seberang Anton, sementara Dinda duduk di samping pria paruh baya itu.


"Kita nginep di apartemen, lagi pula Raya ada di rumah Adrian," tolak Anton halus.


"Sekalipun Raya ada di sana, apartemen itu cukup luas untuk kami tempati," lanjut Anton.


"Ya sudah, terserah daddy saja!" ucap David tersenyum.


Setelah beberapa saat mereka berbincang-bincang kini Dinda menyela pembicaraan. "Kita sarapan dulu yuk sebelum berangkat!" ajak Dinda.


"Ya sudah, ayo!" ucap Anton, ia beranjak yang diikuti Dinda, David dan Freya dari belakangnya.


____________


Mansion Galaxy


"Sayang ... kau sangat cantik," puji Brian saat Gracia memasangkan dasi untuknya.


"Gombal!" ucap Gracia tersenyum dengan wajah merah merona.


"Beneran sayang, kau makin tua makin cantik tau," ucap Brian memegang dagu istrinya tersebut.


"Udah ah, Mas! Berhenti mengejek, mana ada makin tua makin cantik? Ada-ada saja kau, Mas!" ucap Gracia memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"Kenapa? Kau tidak percaya?" tanya Brian dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Sudahlah, Mas!" Gracia melangkah mengambilkan tas kerja suaminya setelah selesai memasangkan dasi.


"Sayang ... !" panggil Brian.


"Kita sarapan aja yuk!" ajak Gracia. Namun, pria itu masih berdiri dan bungkam. "Ayo!" Gracia menarik tangan Brian hingga pria itu mengikuti langkahnya.


Sesampainya di meja makan, ia sudah melihat putra bungsunya duduk di ruang makan tersebut. Brian dan Gracia berjalan mendekat ke arahnya dan duduk di kursi masing-masing.


Devan hanya bungkam karena ia sudah terbiasa melihat orang tuanya yang bermesraan tidak kenal tempat.


"Kau sudah lama menunggu kami, Sayang?" tanya Gracia.


"Lama ataupun tidak, mommy dan daddy akan tetap lupa waktu jika sudah bersama," ucap Devan datar.


"Hari ini kamu ada jadwal kuliah?" tanya Brian menatap putranya dengan wajah datar.


"Enggak Dad! Kenapa?" tanya Devan.


"Kalau kamu nggak ada jadwal kuliah, kamu ikut ke kantor lagi untuk belajar!" ajak Brian.


"Maaf, Dad! Hari ini aku ada janji dengan seseorang, mungkin nanti siang aku ke kantor," ucap Devan datar.


"Kamu janji sama siapa?" tanya Brian, karena Devan tidak pernah menolak keinginan Brian dalam hal apapun, berbeda dengan David yang bersifat sebaliknya.


"Tadi Adrian menghubungiku, katanya dia dan Raya akan ke sini!" ucap Devan menatap daddy dan mommynya bergantian.


"Kau janjian sama mereka?" tanya Brian.


"Iya, Dad!" jawab Devan.


"Ya sudah, ayo makan dulu!" ajak Brian sambil tersenyum tipis.


Gracia mengambilkan makanan untuk suaminya, lalu mereka makan dalam keheningan, hanya suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dalam ruang makan tersebut.


Seusai sarapan Brian berpamitan. "Ya sudah daddy berangkat duluan!" Brian beranjak sambil menatap putranya.


"Aku berangkat!" pamit Brian pada Gracia seraya mencium kening istrinya. Lalu pria itu melangkah meninggalkan ruangan itu.


...💋💋💋💋💋...


...TBC...


Assalamualaikum Readersku sayang 🥰


Jumpa lagi dengan Othor 😂


Jangan lupa jejaknya ya, jangan pernah bosan untuk komen...

__ADS_1


Thank you 😍


Muachhhh 😘


__ADS_2