
David dan Freya sarapan bersama dalam keheningan, sedari tadi David tidak hentinya mengembangkan senyum sambil mengunyah sarapan. Tatapannya tidak pernah beralih dari sang istri.
"Vid ... ! Kita jadi 'kan ke Indonesia? tanya Freya seusai sarapan.
"Jangan panggil aku gitu, panggilah yang sopan!" David mengerlingkan sebelah matanya pada Freya.
"Kamu maunya dipanggil apa?" tanya Freya mengerutkan kening.
"Panggil aku, dengan panggilan romantis!" pinta David dengan senyum yang tak kunjung memudar.
"Kanda?" tanya Freya menatap suaminya penuh tanya.
"Kanda?" tanya David memastikan. Seketika bayangan David tertuju pada kerjaan.
Freya mengangguk, ia mengikuti mommynya yang manggil daddynya dengan panggilan 'Kanda'
"Panggilanmu aneh, aku seperti berada di kerajaan saja!" ucap David sambil menatap istrinya aneh.
"Aku hanya mengikuti panggilan mommy pada daddy!" ucap Freya datar.
"Astaga, Sayang! panggil aku dengan panggilanmu sendiri. Jangan mengikuti mommy!" pinta David memutar bola matanya.
"Ya sudah aku panggil kamu 'Cassanova plinplan' aja," ucap Freya datar.
David melotot seraya melebarkan mulut mendengar panggilan dari istrinya tersebut. "Apa?"
Freya hanya tersenyum tipis tanpa perasaan bersalah. "Katanya panggilan dari aku sendiri." Freya menaikkan sebelah alisnya.
"Jangan gitu juga dong, Sayang! Panggil aku 'Honey' atau apalah semacamnya 'My love' misalkan," ucap David menaik turunkan alisnya.
"Tau ... ah!" ucap Freya menyerah.
David hanya tersenyum melihat istrinya yang kesal karena hanya sebuah panggilan sayang yang selalu di protes olehnya.
"Sayang ... nanti siang kau tidak perlu ke kantor, karena aku ada meeting di luar dengan klien," ucap David membelai pipi Freya lembut.
"Okay, lagi pula aku juga ada jadwal di rumah sakit," jawab Freya tersenyum tipis.
"Ya sudah aku berangkat dulu!" David mengulurkan tangannya pada Freya, lalu wanita itu mencium tangan suaminya.
"Aku antar," ucap Freya sambil mengambil tas kerja suaminya.
David pun mengangguk sambil tersenyum menatap wajah datar istrinya tersebut. Mereka berdua berjalan beriringan dengan David yang terus menatap Freya dari samping.
David yang tidak melihat jalan, tiba-tiba ia manabrak tubuh pelayan pria yang sedang asyik berjoget-joget di teras dengan menggunakan handset.
David terkejut, ia jatuh berpelukan dengan sang pelayan dengan posisi David di atas tubuh pria itu. "Ngapain kau di sini?" sentak David menatap pelayan itu tajam.
"Cepat bangun!" perintah David.
"Maaf, Tuan! Bagaimana aku bisa bangun jika Tuan tidak bangun," ucap si pelayan.
"Oh, iya ya!" David langsung berdiri dari posisinya dan menatap Freya yang menggembungkan mulutnya.
__ADS_1
Freya yang sedari tadi menahan tawanya, kini langsung pecah seketika melihat kebodohan suaminya tersebut.
David yang pertama kalinya melihat tawa Freya kini ia tertegun, pria itu tidak mampu mengucapkan sebuah kata, ia sangat merasa damai melihat tawa itu.
"Kamu kenapa?" tanya Freya yang melihat David melamun, menatap dirinya dengan tersenyum aneh.
"Tawamu sungguh menyejukkan hati, Frey!" ucap David masih dengan senyumannya.
"Lebay," ucap Freya memutar bola mata jengah.
"Kok lebay sih?"
"Sana berangkat! Nanti kau kesiangan jika kebanyakan drama," ucap Freya.
"Ya sudah, aku berangka!@" ucap David.
Freya mengangguk dengan senyum manisnya.
"Kalau begitu, saya permisi Tuan, Nyonya!" Pelayan tersebut membungkukkan badan.
"Ya sudah sana!" jawab David kesal.
"Salah sendiri, malah kesal pada orang lain," gumam Freya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Pria itu kini beranjak menjauh dengan Freya yang menatap langkahnya sampai pria itu masuk mobil dan meninggalkan mansion itu.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
Adrin kini duduk di sofa ruang keluarga dengan daddynya. "Dri, beri alasan yang jelas kenapa kau tidak mau dijodohkan dengan Sesil?" tanya Bastian ayah dari pria itu.
"Tapi kenapa kau tidak memberi tahu kami jika kau sudah menikah? Jangan jadikan alasan itu untuk menolak perjodohanmu, Dri!" ucap Bastian menatap Adrian tajam.
"Kenapa Daddy tidak percaya, aku pulang ke sini karena ingin mengajak Daddy ke Paris untuk menemui mertuaku," ucap Adrian mencoba meyakinkan Bastian.
Pria itu terpaksa berbohong tentang pernikahan karena ia tidak mau kehilangan orang yang ia cintai, bagaimana pun caranya.
"Jika benar begitu, putri siapa yang kau nikahi itu?" tanya Bastian menatap putranya penuh kekecewaan. Ia tidak menyangka kalau putranya akan menolak perjodohan itu, karena sebelumnya Adrian adalah tipe anak yang sangat penurut.
"Dia putri dari Om .... " Seketika ucapan Adrian terhenti saat melihat seseorang melangkah mendekat ke arahnya. Bastian pun menoleh melihat tujuan tatapan putranya tersebut.
"Assalamualaikum ... " Raya datang dengan Devan yang melangkah di samping gadis itu.
Deg
Seketika Adrian terpaku melihat orang yang dicintai kini berada di hadapannya.
"Wa alaikum salam," jawab Bastian mengerutkan kening saat melihat Raya. Lalu beralih menatap Devan dengan menarik ke dua sudut bibirnya.
"Silakan duduk!" Bastian mengulurkan tangannya pada arah shofa.
"Terima kasih, Om!" jawab Devan tersenyum.
"Devan, kau datang dengan seorang wanita? Apakah dia kekasihmu? Tapi kenapa kau bawa koper segala?" tanya Bastian mengerutkan kening seraya menatap koper di tangan pria itu.
__ADS_1
Devan memilih diam, ia hanya menatap sahabatnya penuh kekecewaan. "Kenapa diam?" tanya Bastian sambil menatap Devan dan Raya bergantian.
"Aku ... !" ucap Raya terpotong.
"Dia Istriku!" jawab Adrian menatap Raya dengan senyum yang mengembang.
Deg.
Raya terkejut mendengar pengakuan pria itu, tapi ia memilih diam karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga Adrian mengakuinya sebagai seorang istri. Begitupun dengan Devan ia memilih bungkam karena ia mengerti mengapa Sahabatnya tersebut mengakui Raya sebagai istrinya.
"Jangan bercanda!" ucap Bastian tersenyum tidak percaya.
"Benar Kok Dad, kita menikah diam-diam di Paris!" ucap Adrian. Dia ke sini memang untuk menemui suaminya apa itu salah?" tanya Adrian menatap Daddynya datar.
"Boleh om tau asal usulmu?" tanya Bastian menatap Raya intens.
"Namanya 'Raya Reyes Cassilas' Putri dari Antonio Reyes Cassilas sahabat Daddy Om." Devan menyela pembicaraan.
Deg
"Tidak, tidak mungkin," ucap Bastian menggeleng tidak percaya.
"Kenapa tidak mungkin Om?" Raya memang anaknya Om Anton." Devan mengerutkan kening.
"Om harus percaya karena itu memang kenyataannya Kok!" ucap Devan dengan memasang wajah datar.
"Aku percaya," ucap Anton.
Anton itu sahabatku juga dulu se waktu sekolah, "Maafin sikap Om tadi, Nak!" ucap Pria itu menatap Raya penuh sesal.
"Nggak apa-apa Kok Om!" jawab Raya tersenyum Kaku.
"Apakah Daddymu tahu kalau kau sudah menikah dengan Adrian?" tanya Bastian memastikan.
"Tidak Dad! Maka dari itu kami ingin mengadakan pernikahan secara Resmi jika Daddy tidak keberatan," ucap Adrian tersenyum.
"Tidak, Kok! Daddy bahagia jika kau menikah dengan putri sahabat Daddy. Daddy akan segera membatalkan perjodohanmu dengan Sesil," ucap Bastian.
"Terima kasih, Dad!" ucap Adrian tersenyum.
Bastian membalas senyuman putranya. "Kalau begitu bawa koper istrimu ke kamarmu sana! Dia pasti capek karena perjalanan jauh," ucap Bastian dengan senyum yang mengembang.
...💋💋💋💋💋...
...TBC...
Assalamualaikum Readersku sayang 🥰
Sesuai permintaan kalian Raya happy ending ❤️
Judul yang itu akan tetap Othor luncurkan tapi dengan kisah orang lain bukan kisah Raya ya guys 🥰
Jangan lupa jejaknya sayang 😍
__ADS_1
Thank you ❤️