
Malam pun tiba, kini acara pernikahan David dan Freya sudah selesai digelar. Kedua keluarga itu masih berkumpul diruang keluarga mansion Cassilas.
"David!" panggil Brian. Pria itu menatap putranya dengan wajah serius. Mereka duduk bersebrangan dengan pasangan mereka masing-masing.
"Iya, Dad!" jawab David tersenyum.
"Daddy membeli mansion untukmu di kawasan yang tidak jauh dari sini. Bagaimana pun kau berhak mendapatkan harta dari daddy, terserah jika kau mau membangun perusahaan sendiri ataupun meneruskan perusahaan Anton, tapi daddy punya perusahaan properti di negara ini yang tidak terlalu besar, itu semua sudah atas namamu, anggap saja itu hadiah pernikahan dari daddy," ucap Brian. Pria paruh baya itu memberikan sebuah kotak hadiah pada David.
"Terima kasih, Dad!" ucap David tersenyum, pria itu mengambil hadiah dari orang tuanya.
"Sekarang kalian bisa langsung menempati mansion itu karena Gracia dan Dinda sudah mengatur semuanya termasuk baju ganti kalian. Di sana juga sudah ada pelayan yang akan menyambut kedatangan kalian," ucap Brian.
"Baik, Dad!" jawab David.
"Daddy juga punya hadiah untuk kalian berdua," ucap Anton dengan senyum yang mengembang. Pria paruh baya itu menyodorkan sebuah kotak kecil pada menantunya.
"Apa ini Dad?" tanya Freya.
"Bukalah sekarang!" perintah Anton. David pun menyerahkan kotaknya pada Freya.
Setelah Freya menerima kotak itu, ia membuka hadiahnya, Lalu ia tersenyum saat mendapati kunci mobil di dalamnya.
"Itu hadiah dari daddy," ucap Anton tersenyum.
"Apakah hadiah-hadiah ini tidak berlebihan Dad, Om?" tanya David sambil menatap Brian dan mertuanya.
"Kau jangan panggil Om lagi, panggillah 'daddy' seperti Freya memanggilku!" pinta Anton.
"Baik, Dad!" ucap David tersenyum.
"Kalau begitu, kalian pulang terlebih dahulu! Supir menunggu kalian di halaman," ucap Dinda dengan senyum manisnya.
"Baik, Mom!" jawab Freya dengan senyuman tipis.
"Kalau begitu, David dan Freya langsung pulang saja," pamit pria itu.
"Hati-hati di jalan, sayang. Jadilah suami yang baik," ucap Gracia lembut.
Deg
David merasa bersalah setelah mendengar ucapan mommynya karena dia sudah membuat surat kontrak pernikahan yang sudah disetujui oleh Freya.
"Insya Allah David usahakan, Mom!" jawab David tersenyum.
Setelah itu, David dan Freya melangkah meninggalkan mansion, yang diikuti oleh seluruh keluarga di belakangnya.
Setelah sampai di halaman mansion Cassilas, baik David maupun Freya terkejut melihat mobil mewah di depan matanya 'Pagani huayra tricolore' Mobil mewah dengan harga fantastis (Kira-kira 94 Milyar jika di rupiah kan)
__ADS_1
"Apa ini tidak terlalu berlebihan Dad?" tanya Freya. "Lagi pula mobil Freya masih nyaman untuk digunakan," ucap gadis itu.
"Tidak, sayang, itu tidak berlebihan. Kalian pantas mendapatkannya," ucap Anton tersenyum lembut.
"Terima kasih, Dad!" ucap David tersenyum.
"Sama-sama," jawab Anton.
Setelah itu mereka memasuki mobil dengan David yang duduk di kursi kemudi. David melajukan mobilnya dengan mengikuti mobil sopir yang akan bekerja di mansion barunya itu.
Mereka semua melambaikan tangan pada sepasang pengantin itu, sampai mobil David dan Freya tidak terlihat lagi.
"Mom, ayo kita pulang juga ke apartemen! Devan besok harus kembali ke Indonesia," ucap Devan mengajak Gracia.
"Kau pulang saja duluan! Mommy biar pulang sama Daddy," ucap Brian menyela sebelum istrinya itu menjawab.
"Di sini bukan Indonesia, Dad! Aku tidak punya mobil. Kita 'kan berangkat bersama, jadi kita pulang harus bersama juga," ucap putra bungsunya itu.
"Kau bisa minta diantar sama supir Anton, tapi nggak apa-apalah kita pulang bersama. Kau yang nyetir!" perintah Brian seraya melemparkan kuncinya pada Devan. Pria itu pun menangkapnya dengan sigap.
"Okay!" jawab Devan kesal.
"Kalau begitu, kami juga pamit pulang," pamit Brian sambil menepuk pundak Anton satu kali.
"Silakan!" jawab Anton seraya mengulurkan tangannya dan tersenyum seperti biasa.
"Hati-hati Salju!" ucap Anton menatap Gracia sambil mengerlingkan sebelah matanya, sedang Gracia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Anton.
"Iya, iya. Maaf. Aku 'kan suka terpesona kalau melihat senyuman Salju!" ucap Anton.
Dinda langsung mendelik dan reflek menjewer telinga suaminya, lalu membawa masuk pria paruh baya itu ke dalam mansion.
Sementara Raya hanya mengikuti langkah orang tuanya tanpa memedulikan perdebatan orang tuanya tersebut.
...______________________...
Sepanjang perjalanan kini sepasang pengantin itu saling bungkam dengan tatapan yang sama-sama fokus ke jalanan, hingga akhirnya mereka sampai di mansion tempat mereka akan tinggal di satu atap.
Mereka turun dari mobil memarkirkan mobilnya di garasi, lalu mereka disambut oleh beberapa pelayan yang berjajar rapi di depan mansion itu.
"Selamat datang Tuan, Nyonya!" ucap seorang pelayan wanita membungkukkan badan.
"Mari saya antar Tuan, Nyonya!" ucap seorang pelayan pria sambil membungkukkan badan juga.
"Silakan!" ucap David tersenyum tipis. Berbeda dengan David Freya masih memasang wajah datarnya.
Pelan pria itu melangkah untuk menunjukkan kamar yang akan dihuni David dan Freya, mereka pun mengikuti langkah pelayan tersebut.
__ADS_1
Mereka menaiki tangga karena pelayan itu tidak berani menggunakan lift tanpa izin dari sang pemilik mansion.
Begitu sampai di depan kamarnya, pelayan tersebut meninggalkan sepasang suami istri itu, mereka terkejut melihat dekorasi kamar yang dipenuhi dengan bunga-bunga yang bertebaran di mana-mana.
"Mereka apa-apaan sih? Kamar ini sudah seperti taman bunga saja!" gerutu David.
Pria itu melangkah melewati bunga-bunga yang bertaburan di lantai. Berbeda dengan David, Freya sangat senang melihat kamar yang dipenuhi dengan bunga-bunga tersebut, ia mengambil satu tangkai bunga, lalu gadis itu menciumnya lamat-lamat.
"Kamar ini sangat indah," gumam Freya. Gadis itu tersenyum tipis.
David duduk di sisi ranjang tempat tidur, begitu pun dengan Freya. Namun, saat gadis itu menyadari kalau mereka punya surat kontrak, Freya langsung berdiri lagi.
"Kenapa?" tanya David mengerutkan kening setelah melihat reaksi Freya yang terkejut.
"Bukankah kau tidak minta dilayani jika urusan ranjang?" tanya Freya.
"Terus?" tanya David bingung.
"Berarti kita nggak boleh satu kamar dong?" tanya Freya.
"Dalam surat itu tidak ada perjanjian kalau kita harus pisah kamar," ucap David mengingatkan.
"Iya sih, tapi aku nggak yakin kau tidak akan menyentuhku jika kita tidur dalam satu ranjang," ucap Freya.
"Kenapa?" tanya David.
"Bahkan dalam telanjang pun aku tidak melakukan kebejatanku padamu, bukankah sudah terbukti pada malam itu?" tanya David lagi, untuk meyakinkan gadis itu.
Deg
Semburat merah terpancar dari wajah Freya karena ia mengingat semua apa yang terjadi. Gadis itu tidak meneruskan ucapannya, ia langsung beranjak meninggalkan David ke kamar mandi karena malu, sedangkan David langsung merebahkan dirinya di ranjang tersebut.
...💋💋💋💋💋...
...TBC...
Assalamualaikum Readersku sayang 🥰
Karya Othor sudah seperti pajangan saja 😂
Kalian terganggu nggak?
Kalau terganggu nanti Othor hapus 🙈
Thank you atas dukungan kalian 🥰
__ADS_1
Muachhh 😘