Pemikat Hati Sang Cassanova

Pemikat Hati Sang Cassanova
Aku harap kau kembali


__ADS_3

Adrian datang pagi-pagi sekali ke mansion Cassilas untuk berpamitan dan menyampaikan niatnya terhadap Raya. Pria itu pun juga sarapan bersama, dengan Raya yang salah tingkah ketika Adrian menatapnya.


Kini Adrian duduk di ruang keluarga bersama Keluarga Raya. Pria itu di sambut ramah oleh Anton maupun Dinda, karena mereka tahu bahwa pria itulah yang membuat Raya bangkit dari keterpurukan.


Adrian beberapa kali berdehem untuk menghilangkan rasa groginya. Ia ingin menyampaikan keinginannya pada orang tua Raya.


"Ada apa, Nak?" tanya Dinda tersenyum seraya menatap Adrian.


"Om, Tante! Aku ingin melamar Raya untuk menjadi istriku. Namun, hari ini aku harus kembali ke Indonesia untuk membicarakan hal ini pada orang tuaku, jika Om dan Tante menyetujui hubungan kami," ucap Adrian seraya menundukkan kepalanya.


"Kau ternyata memang tipe orang yang tidak suka basa basi, aku kagum akan keberanianmu!" ucap Anton tersenyum.


"Tapi sebaiknya kalian tunangan dulu biar tidak terlihat terburu-buru," ucap Anton memberi saran.


"Tidak Om, aku ingin langsung melamarnya sebagai seorang istri karena aku tidak mau kehilangan kesempatan lagi untuk menjadikannya sebagai kekasih halalku," ucap Adrian penuh keyakinan.


"Terserah kamu saja, aku merestui jika Raya bahagia," ucap Anton menatap putrinya lembut.


"Bagaimana sayang? Apakah kau sudah siap menjalani rumah tangga bersama Adrian?" tanya Dinda tersenyum.


Raya yang ditanya hanya tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya perlahan. Pada hari itu ia benar-benar menjadi seorang ratu, ia tidak bisa menjabarkan rasa bahagianya karena sebentar lagi akan memiliki suami yang akan mencintainya dengan setulus hati.


"Alhamdulillah ..., semoga kau bahagia sayang," ucap Dinda seraya memeluk putrinya dari samping.


"Baiklah, Om, Tante aku pamit pulang dulu, nanti siang aku akan pulang ke Indonesia," ucap Adrian tersenyum lembut.


"Silakan, Nak!" jawab Dinda.


"Aku antar sampai depan pintu," ucap Raya. Gadis itu berdiri setelah melihat pria itu berdiri, dan melangkahkan kakinya mengikuti Adrian dari belakang.


Sesampainya di depan pintu utama, Adrian balik badan, lalu menatap Raya yang sedang tersenyum ke arahnya. "Hati-hati," ucap Raya tersenyum.


"Aku akan merindukanmu, jika jauh nanti," ucap Adrian seraya membelai rambut gadis itu.


"Aku juga, kau secepatnya harus kembali!" ucap Raya tersenyum.


"Pasti," jawab Adrian membalas senyuman gadis itu.


Adrian melangkah menjauh dari mansion itu untuk menuju mobilnya. Namun, entah perasaan apa yang ia rasakan pada hari itu hingga ia tidak rela melihat orang yang dicintainya pergi meskipun hanya untuk sementara.


Raya lari menyusul Adrian, ia memeluk pria itu dari belakang seakan enggan untuk melepasnya.

__ADS_1


Adrian terkejut dengan tingkah Raya yang tiba-tiba memeluknya erat hingga ia diam saja membiarkan Raya menyandarkan kepalanya pada punggung pria itu.


"Ada apa?" tanya Adrian dengan suara lembut.


"Kau yang membuatku begini, ucapanmu tadi malam terus terngiang-ngiang di telingaku," ucap Raya dengan suara parau air matanya pun kembali menetes.


"Please ... jangan pergi! Aku takut kau tidak akan kembali lagi," ucap Raya dengan tangis yang terisak-isak.


"Percayalah padaku! Apakah aku pernah berbohong padamu?" tanya Adrian. Pria itu balik badan lalu menatap wajah cantik orang yang dicintainya.


Raya menggeleng pelan, ia berusaha menyeka air matanya agar tidak berhenti menetes. Namun, sia-sia air mata itu tetap saja menerobos tanpa izin.


"Jangan begini! Kembalilah ke dalam, nanti aku akan menghubungimu jika sudah mau terbang ke Indonesia," ucap Adrian sambil mengusap air mata gadis itu.


"Baiklah," ucap Raya pasrah menahan rasa sesak karena harus berpisah jauh dengan pria tersebut.


Adrian masuk ke dalam mobil, lalu melanjukan mobilnya untuk keluar dari mansion tersebut, gadis itu masih berdiri menatap mobil Adrian yang kian menjauh.


Setelah mobil Adrian tidak terlihat lagi, gadis itu lari mengejar mobil tersebut hingga di depan pintu gerbang mansionnya.


"Aku harap kau kembali lagi, aku akan menunggumu," ucap Raya duduk bersimpuh.


"Nggak apa-apa, Frey!" ucap Raya berdiri dibantu oleh saudara kembarnya tersebut.


"Ayo masuk!" ajak Freya menarik tangan Raya untuk masuk ke mobilnya.


Raya hanya pasrah, ia mengikuti kemana Freya menuntunnya. Freya melajukan mobilnya memasuki gerbang tersebut, lalu memarkirnya di halaman mansion itu.


"Ayo turun, Ray!" ajak Freya.


Raya hanya mengangguk, lalu turun dari mobil Freya. "Kemana mobil mewahmu? Kenapa kau masih memakai mobil ini?" tanya Raya. Dua gadis kembar itu berdiri di samping mobil tersebut, dan menyandarkan badannya pada pintu mobil.


"Ada di mansion, aku sangat menyayangi mobil ini, mobil ini banyak menyimpan kenangan," ucap Freya datar.


"Oh iya, kamu kenapa duduk bersimpuh di depan pintu gerbang tadi?" tanya Freya dengan wajah datarnya.


"Nggak apa-apa, aku hanya iseng saja duduk di sana," jawab Raya asal. Ia mencoba menyembunyikan kesedihannya dari Freya.


"Tapi wajahmu terlihat sangat sedih, tidak ceria seperti biasanya," ucap Freya mengerutkan kening.


"Iya, aku sedih karena Adrian pulang ke Indonesia hari ini, tadi aku mengejar mobilnya," ucap Raya sendu. Akhirnya ia memilih jujur, karena dari dulu ia memang tidak bisa menyembunyikan hal sekecil apapun dari kembarannya tersebut.

__ADS_1


"Kau mencintainya?" tanya Freya datar.


"Aku bukan hanya mencintainya, tapi mungkin kami akan segera menikah, dia melamarku tadi malem, dan barusan dia minta restu pada daddy dan mommy," ucap Raya menatap lurus ke depan.


"Terus?" tanya Freya menatap wajah saudara kembarnya dari samping.


"Alhamdulillah, daddy dan mommy merestui," ucap Raya masih dengan tatapan kosongnya.


"Kenapa kau menangis jika kalian akan menikah?" tanya Freya bingung.


"Aku menangis karena ucapan Adrian tadi malam terus terngiang-ngiang di telingaku, aku tidak mau kehilangannya, Frey!" ucap Raya menoleh menatap saudara kembarnya sendu dan matanya pun mengembun.


"Memangnya Adrian bilang apa?" tanya Freya semakin bingung.


Raya menceritakan semuanya pada saudara kembarnya tersebut dengan air mata yang terus menerobos tanpa permisi.


"Percayalah, jika Adrian memang takdirmu maka dia akan kembali ke sampingmu dengan selamat," ucap Freya tersenyum tipis.


"Jika tidak?" tanya Raya.


"Jangan berpikiran positif, karena terkadang ucapan adalah doa. Percayalah, Adrian akan segera kembali." Freya membelai bahu kembarannya untuk membuatnya lebih tenang.


"Iya aku akan mencoba berpikiran positif dan membuang firasat burukku padanya," ucap Raya.


"Bersabarlah, Adrian pulang hanya untuk menjadikanmu kekasih yang halal, jangan nangis lagi, tersenyumlah karena sebentar lagi kau akan menjadi orang yang paling bahagia." Freya tersenyum tipis.


"Terima kasih, Frey! Aku bahagia punya kembaran sepertimu, kau selalu bisa membuatku tenang di saat aku gelisah," ucap Raya. Gadis itu memeluk Freya erat.


"Sama-sama, aku juga beruntung memiliki saudara kembar sepertimu," ucap Freya sambil membelai rambut kembarannya.


...💋💋💋💋💋...


...TBC...


Assalamualaikum Readersku sayang 🥰


Jangan lupa jejaknya ya Sayang 😉


Othor selalu mencintai kalian 😘


Thank you ❤️

__ADS_1


__ADS_2