
Freya kini sudah selesai dengan ritual mandinya, ia melangkah keluar dari kamar mandi tersebut. Gadis itu berjalan melewati David yang masih tidur terlentang di ranjang pengantin.
Freya berjalan melangkah menuju ruang ganti, ia hanya menggunakan handuk yang melilit sebatas dada. David yang melihat pemandangan itu hanya bisa menelan saliva, menahan nafsu yang bergejolak.
Kulit mulus, putih dan bercahaya membuat jiwa Cassanovanya bangun seketika. Pria itu semakin tergoda saat Freya mengibas-ngibaskan rambut ketika bulir-bulir air dari pucuk rambut itu menetes satu persatu.
"Kau sengaja menggodaku?" tanya David menatap ke arah istrinya. Namun, Freya tak menghiraukan ucapan David, ia terus melanjutkan kegiatannya.
"Apakah kau mendengarku?" tanya David lagi karena tidak mendapatkan jawaban dari sang istri.
"Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa kau tidak akan tergoda meskipun aku telanjang, jadi untuk apa aku menjaga tubuhku dari pandanganmu? Lagi pula kau sudah sah menjadi suamiku. Tidak ada larangan kalau kau ingin menyentuhku kecuali surat kontrak itu," ucap Freya datar.
"Jadi kau sengaja menggodaku karena surat kontrak itu menyatakan bahwa kau harus melayaniku kecuali di ranjang?" tanya David. Namun, Freya kembali bungkam. Ia mencari baju yang cocok untuk ia gunakan.
"Cepat ganti baju! Atau kau akan menyesal," ucap David. Lalu pria itu beranjak dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setengah jam kemudian.
David keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang sebatas pinggang, pria itu sengaja memamerkan tubuh atletisnya pada Freya agar wanita itu tertarik. Namun, tanpa diduga oleh David, Freya tetap santay. Gadis itu duduk selonjoran di ranjang sambil memainkan ponselnya.
"Kau menyebalkan, Frey!" ucap David.
Freya hanya melirik suaminya tanpa menjawab, gadis itu tersenyum tipis melihat wajah kesal David setelah pria itu melangkah untuk mengambil baju ganti.
Setelah mengganti pakaian, David melangkah mendekati istrinya, lalu berdiri di sisi tempat tidur sambil bersedekap dada.
"Seharusnya kau menyediakan pakaianku tadi, itu tugasmu sebagai seorang istri," ucap David mengingatkan gadis itu.
"Maaf, aku lupa!" ucap Freya datar.
"Mulai besok, kau harus membiasakan diri!" perintah David. Pria itu menatap istrinya yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Hm ... " jawab Freya tanpa mengalihkan tatapannya dari ponsel yang ia pegang, David yang merasa terabaikan akhirnya pria itu merampas ponsel Freya.
Freya menatap menoleh. "Ada apa lagi?" tanya Freya. Gadis itu menatap David dengan kening yang mengerut.
"Kalau suami bicara, dengarkan! Jangan sibuk sendiri!" ucap David sambil bersedekap dada di samping tempat tidur. Pria itu menatap istrinya tajam.
__ADS_1
"Kau itu aneh sekali, dulu sebelum kita nikah, sikapmu begitu manis, tapi sekarang kau tambah menyebalkan," ucap Freya tersenyum sinis.
"Kau tau betul apa alasanku bersikap seperti itu," ucap David.
Freya melirik David. "Iya, aku tau kau seperti itu, karena kau ingin membuktikan padaku bahwa kau bisa memiliki apapun yang kau mau," ucap Freya malas.
"Sekarang kau berhasil mendapatkan apa yang kau mau, meskipun rencanamu tidak berjalan dengan baik."
Gadis itu beranjak, ia ingin melangkah. Namun, David menarik pergelangan tangan Freya hingga gadis itu tidak bisa mengimbangi tubuhnya dan tanpa sengaja ia menarik pakaian David, dan akhirnya mereka jatuh bersama ke tempat tidur dengan Freya yang berada di bawah tubuh suaminya.
Tatapan mereka bertemu ada getaran aneh yang menjalar di tubuhnya, jantung mereka pun berdegup tidak normal.
Mereka menyelami perasaan mereka masing-masing. Namun, beberapa menit kemudian Freya tersadar dari lamunannya. Akan tetapi, ia tetap tidak bergerak. "Sampai kapan kita akan berada di posisi seperti ini?" tanya Freya datar.
"Sampai kapan saja, itu terserah aku!" jawab David. Pria itu bangun, lalu duduk di sisi tempat tidur. Begitu pun dengan Freya.
"Aku mau cari kamar, aku males berdebat denganmu setiap saat," ucap Freya.
"Terserah!" jawab David.
Freya mendesah, ada perasaan bersalah pada pria itu karena membuat orang yang sudah berstatus sebagai suaminya itu terbawa dalam masalahnya, hingga mereka terjebak dalam pernikahan yang tidak direncanakan sebelumnya. "Baiklah aku akan ceritakan semuanya padamu sebagai permintaan maaf sebab kau menjadi terseret karena kebodohanku," ucap Freya menatap lurus ke depan.
"Pada hari itu, aku mendapat telpon dari rumah sakit, bahwa ada meeting dadakan dengan klien luar negeri, dia bilang aku harus segera menemuinya karena klien tersebut sedang buru-buru."
"Terus kamu langsung percaya?" tanya David,
"Iya, aku percaya karena sebelumnya aku aman-aman saja saat meeting di hotel dengan beberapa klien, tidak terlintas sedikitpun dalam benakku bahwa kejadian itu yang akan terjadi." Freya menerawang mengingat semuanya.
"Aku berterima kasih padamu atas semuanya, maaf telah membuatmu terjebak dengan pernikahan yang tak kau inginkan," ucap Freya. Gadis itu menoleh menatap David yang juga sedang menatapnya.
Tatapan mereka bertemu kembali, tatapan teduh Freya membuat David tidak bisa berpaling.
"Aku juga minta maaf, karena pernah merencanakan sesuatu yang buruk terhadapmu," ucap David tersenyum.
"Namun, sepertinya aku sudah tenggelam dalam lautan taman indah yang mungkin, aku tidak akan bisa mendarat lagi," ucap David menatap Freya dengan senyum yang mengembang.
"Maksudnya?" tanya Freya bingung dengan ucapan David.
__ADS_1
"Nggak ada maksud apa-apa," ucap David setelah lamunannya buyar.
"Kamu pernah tenggelam ke laut?" tanya Freya polos.
"Nggak!" ucap David bingung. "Aku belum pernah jatuh dari pesawat ataupun ikut kapal laut yang tenggelam,"
"Terus kamu tahu dari mana kalau di lautan ada taman yang indah?" tanya Freya menaikkan sebelah alisnya.
"Kau memang bener-bener, ya Frey! Ternyata kau sama-sama menyebalkan seperti Raya," ucap David.
"Lha, bukankah kamu sendiri tadi yang bilang kalau di lautan itu ada taman indah, dan katamu, kamu tidak bisa mendarat lagi," ucap Freya dengan wajah seriusnya.
"Terserah, aku mau tidur!" David langsung mengambil posisi untuk tidur, sedangkan Freya hendak berdiri lagi. Namun, ucapan David menghentikannya.
"Kau tidur di sini saja! Ada bantal guling yang akan membatasi kita," ucap David seraya memejamkan mata.
"Hm," jawab Freya. Gadis itu juga merebahkan tubuhnya di samping David. Lalu David mengambil bantal guling dan menaruhnya di tengah-tengah tempat tidur.
Mereka pun tidur dengan bantal guling yang menghalangi dan mereka juga tidur saling membelakangi setelah mematikan lampu.
...💋💋💋💋💋...
...TBC...
Assalamualaikum Readersku sayang 🥰
Terima kasih ya atas dukungan kalian,
Doakan Othor supaya karya ini terpampang di beranda seperti CAWS 😂🙈
Terima kasih atas dukungan kalian ❤️
Cukup like dan komen aja.
Sepertinya Vote juga percuma nggak akan pernah bisa masuk Rangking sana, karena Readers Othor tidak banyak seperti author lainnya 🤭🙈
Sekali lagi terima kasih ya, aku galau tanpa komen kalian .... 🙈
__ADS_1