Pemikat Hati Sang Cassanova

Pemikat Hati Sang Cassanova
Aku tidak pernah merasa sebahagia ini


__ADS_3

"Kau masak sendiri?" tanya Freya menatap David sekilas.


"Iya, sekali-kali aku yang masakin untuk istriku tercinta." David mengerlingkan sebelah matanya saat Freya menatap ke arahnya.


"Thank you, tapi lain kali tidak usah repot-repot karena ini adalah tugasku," ucap Freya.


"Jadi kamu tidak senang nih aku perhatikan?" tanya David menatap Freya pura-pura cemberut.


"Aku senang, hanya saja … sudahlah kita makan dulu, kita bicara nanti saja!" ucap Freya.


David tersenyum. Lalu mereka makan malam bersama dalam keheningan.


"Bagaimana, apakah masakanku enak?" tanya David tersenyum setelah mereka menyelesaikan makanan malamnya.


"Enak, bahkan masakanmu lebih enak dari masakanku," ucap Freya tersenyum tipis.


Freya hendak berdiri untuk membereskan meja makan itu. Namun, David melarangnya dan mengajak Freya menemaninya istirahat.


David menggenggam tangan Freya menuntunnya menuju kamar mereka berdua.


Kini kedua pasangan itu sudah tidur di ranjangnya. Freya mengambil bantal guling seperti biasa untuk menaruhnya di tengah-tengah mereka. Namun, David memegang tangan Freya dan menghalangi wanita itu untuk membatasi ranjang tersebut.


"Bolehkah kita tidur tanpa menggunakan ini sebagai batasan?" tanya David lembut. Ia menatap Freya penuh harap.


Freya menatap sorot mata David, ia bingung haruskah ia percaya dengan pria itu. Namun, Freya akhirnya mengangguk setelah beberapa saat.


Toh, cuma batasan, David bukan minta hak nya. Akan tetapi, kebiasaan tidurnya harus diubah agar tidak membuat David tergoda sebelum ia yakin pada pria tersebut.


Freya tidur memunggungi David. Namun, tiba-tiba Freya merasakan ada tangan kekar yang menempel di pinggangnya.


Deg


Freya merasa jantungnya seakan berhenti berdetak saat merasakan pelukan hangat dari seseorang yang dicintainya.


"Bolehkah aku memelukmu? Aku hanya ingin tidur dalam posisi seperti ini." David merapatkan pelukannya hingga tidak ada jarak dari keduanya.


"Hm … " jawab Freya. Wanita itu berusaha menormalkan detak jantungnya yang tidak beraturan.


David mengembangkan senyumnya setelah mendapat izin dari Freya. Lalu ia memejamkan mata dengan perasaan bahagia yang membuncah.


"Terima kasih istriku, aku sangat bahagia malam ini," ucap David seraya memejamkan matanya.


_______________


Raya terus mengembangkan senyumnya sejak pulang tadi sore. Beberapa minggu setelah pernikahan saudara kembarnya, ia selalu diajak ke tempat-tempat yang indah oleh Adrian.


Pada malam itu, ia tidur terlentang di ranjangnya sambil menatap langit-langit kamar. "Kenapa akhir-akhir ini aku selalu memikirkannya ya? Apa benar kata dia bahwa aku sudah jatuh cinta padanya?" gumam Raya sambil tidur berguling-guling.


Raya mengambil ponselnya, lalu melihat foto yang dijadikan wallpaper olehnya, yaitu fotonya sama Adrian yang sengaja mereka ambil saat belanja di mall dan menggunakan baju couple.

__ADS_1



"Kau sangat tampan, tapi kenapa aku baru menyadarinya sekarang," ucap Raya tersenyum.


"Aku benar-benar bahagia malam ini, aku tidak sabar untuk menunggu hari esok untuk menatap wajahmu lagi."


"Ah, bisa-bisa aku gila jika terus begini, saat aku mencintai Kak David, aku tidak pernah merasa sebahagia ini, aku ingin mengungkapkan cinta tapi aku tidak tahu apa itu cinta, aku hanya takut, aku seperti ini karena patah hati dan aku bahagia bukan karena cinta tapi karena haus kasih sayang," gumam Raya.


"Bodoh, bodoh, bodoh … kenapa aku jadi bodoh begini sih?" Raya tersenyum-senyum sendiri, lalu menyelimuti seluruh tubuhnya dengan bibir yang tidak bisa berhenti melekung.


Raya mencoba memejamkan mata. Namun, suara ponselnya yang bergetar di atas nakas membuatnya terkejut hingga ia membuka selimutnya kembali.


"Siapa sih yang menelponku malam-malam begini?" Raya mendengus kesal. Namun, di detik berikutnya, ia mengembangkan senyumnya kembali saat melihat nomer yang selalu ia pikirkan di setiap detiknya.


"Adrian … " gumamnya.


Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya, entah karena apa ia sangat grogi saat ingin berbicara dengan Adrian, apalagi berada di sisi pria itu.


Perasaan Raya pada Adrian sangat berbeda tidak seperti sebelum berada di Indonesia. Jika di Indonesia ia sangat kesal pada pria itu maka sejak pernikahan saudara kembarnya ia punya perasaan yang berbeda.


Yang ia tahu ia patah hati dan hanya menjadikannya pelarian semata. Namun, apakah benar jika ia menjadikan Adrian pelarian, mengapa ia lebih bahagia saat bersama pria itu dibandingkan saat mencintai David dulu.


Dengan tangan gemetar, Freya mengangkat panggilan dari pria tersebut.


[Halo]


"Hai," jawab Raya gugup.


"Tidak, aku belum tidur,"


[Kenapa belum tidur?]


"Tidak ngantuk aja,"


[Apa karena memikirkanku, hingga membuatmu susah tidur]


"Dih … kepedean! Ya sudah aku tutup panggilannya," ucap Raya sambil memanyunkan bibirnya.


[Jangan dong, gitu aja kok ngambek]


"Tau ah, malas berdebat denganmu,"


[Males apa mules]


Tut Tut Tut …


"Eh kok mati," Raya melihat layar ponselnya dan seketika membuat wanita itu menepuk jidat.


"Pantesan mati, ternyata kehabisan baterai," Raya memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


_____________


Keesokan harinya.


David bangun terlebih dahulu. Namun, ia enggan untuk membuka mata saking nyamannya tidur sambil memeluk Freya.


Freya pun mengerjapkan mata, lalu ia tersenyum setelah melihat tangan David masih tetap dalam posisi sebelum ia tidur.


Freya balik badan perlahan, ia menatap wajah tampan suaminya dengan senyum tipis. "Apakah kau sudah puas melihat wajah tampanku?" Seketika David membuka mata.


Tatapan mereka bertemu, tanpa permisi David semakin mendekatkan wajahnya dan hendak …


Namun, Freya langsung menghalanginya dengan menutup bibirnya dengan telapak tangannya.


"Maaf!" ucap David kecewa. Pria itu langsung beranjak dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Apakah aku keterlaluan?" batin Freya.


Wanita itu menatap langkah suaminya sampai menghilang di balik pintu.


Sementara David menyiram seluruh tubuhnya untuk menghilangkan rasa kecewanya, ia pikir Freya sudah benar-benar memaafkannya. Namun, pada kenyataannya dia masih belum mau melakukan hal yang lebih jauh dengan pria itu.


"Secepatnya aku harus bisa membuktikan pada Freya bahwa aku benar-benar sudah mencintainya agar dia tidak merasa ragu lagi," gumam David samabil membasuh tubuhnya di bawah guyuran air shower.


Setelah menyelesaikan ritual mandinya David keluar menggunakan handuk seperti biasanya. Ia melihat Freya berdiri dan menatap ke arahnya.


"Mandilah! Aku sudah selesai!" ucap David.


Freya hanya mengangguk lalu melanjutkan memasuki kamar mandi dengan membawa baju yang akan dipakainya.


Setelah selesai semuanya, kini Freya dan David duduk di meja makan untuk sarapan bersama. Mereka makan dalam keheningan, David yang merasa kecewa sedangkan Freya dengan perasaan bersalah.


"Aku mau berangkat dulu!" ucap David setelah menghabiskan sarapannya.


Freya mengangguk, lalu mengikuti langkah David seraya membawakan tas kerjanya. Setelah sampai di depan mobil David, Freya menyerahkan tas tersebut ia menyalimi David dan tersenyum kaku.


"Terima kasih, hati-hati jika mau ke rumah sakit!" David membelai pipi Freya.


Freya hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Setelah itu David masuk ke dalam mobil, lalu melambaikan tangannya pada istrinya tersebut, Freya pun membalas lambaian tangan David dengan wajah datar. "Maafkan aku!" gumam Freya.


...💋💋💋💋💋...


...TBC...


Assalamualaikum Readersku sayang 🥰


Jika ada Typo atupun kesalahan lainnya jangan sungkan untuk jujur karena Othor nulisnya buru-buru 🙈


Jangan lupa dukungannya ya Guys

__ADS_1


Thank you ❤️


.


__ADS_2