
"Kalau begitu bawa koper menantu ke kamarmu sana! Dia pasti capek karena perjalanan jauh," ucap Bastian dengan senyum yang mengembang.
Deg
Baik Adrian, Raya maupun Devan terkejut. Namun, mereka berusaha untuk menyembunyikan keterkejutannya supaya Bastian tidak mencurigai kebohongan mereka.
"Kalau begitu, aku pamit pulang dulu Om!" ucap Devan tersenyum.
"Silakan, Nak!" jawab Bastian mengulurkan tangannya. "Titip salam untuk daddymu," ucap Bastian tersenyum.
"Baik, Om," jawab Devan tersenyum.
"Jaga istrimu, baik-baik!" ucap Devan dengan mengerlingkan sebelah matanya pada Adrian. Sementara Adrian bungkam, ia tidak tahu harus berbuat apa, jika ia mengantarkan Raya ke kamar lain, ia takut daddynya curiga. Jadi ia terpaksa mengajak Raya untuk satu kamar dengannya.
"Ayo, Sayang!" ajak Adrian lembut.
Raya hanya mengangguk dengan senyum kakunya. "Aku permisi dulu, Om!" pamit Raya.
"Jangan panggil aku Om, panggil daddy saja seperti Adrian memanggilku," ucap Bastian dengan senyum lembutnya.
"Iya, Dad!" Raya tersenyum kaku.
"Ya sudah, sana istirahatlah!" perintah Bastian.
"Terima kasih Dad," jawab Raya tersenyum. Lalu gadis itu beranjak mengikuti Adrian dari belakang.
Begitu sampai di kamarnya, Adrian meletakkan koper milik Raya di ruang ganti. Sementara Raya begitu terpaku saat melihat kamar pria tersebut yang di penuhi dengan foto-fotonya.
Yang terakhir tatapannya terhenti pada sebuah foto dimana gadis itu sedang kehilangan semangat. Namun, dengan sabarnya Adrian membujuknya hingga gadis itu bangkit dari keterpurukan.
"Bagiku kaulah yang paling sempurna, maafkan aku meragukanmu lagi, tapi perjuangan dan pengorbananmu untukku akan selalu terkenang di sini," gumam Raya tersenyum sambil melihat foto itu dengan tangan yang diletakkan pada dada.
"Kenapa?" tanya Adrian tersenyum lembut. Pria itu melangkah mendekati Raya saat keluar dari kamar ganti.
Raya menoleh menatap Adrian yang berjalan mendekat ke arahnya. "Apa yang kita lakukan adalah salah, apa tidak sebaiknya kita jujur saja!" jawab Raya membalas senyuman Adrian.
"Jangan! Lagi pula kita hanya menunggu 1 Minggu untuk mempersiapkan semuanya."
"Kita gelar akad dan resepsi pernikahan kita di sini!" ucap Andrian.
"Daddy pasti akan menikahkan kita kembali meskipun dia mengira kita sudah menikah, karena tentunya daddy menginginkan pernikahan kita disaksikan banyak orang," ucap Adrian menatap Raya penuh cinta.
"Jika tidak?" tanya Raya khawatir.
"Aku akan tetap menikahimu dengan cara apapun," ucap Adrian penuh keyakinan.
__ADS_1
"Kau tidur di ranjang saja biar aku yang tidur di sofa," ucap Adrian tersenyum.
"Aku ingin membersihkan diri dulu," ucap Raya tersenyum lembut.
"Baiklah, aku keluar dulu!" ucap Adrian mengerlingkan sebelah matanya sebelum keluar dari kamar tersebut.
___________________
Raya kini sarapan bersama dengan Adrian dan daddynya, sikap Bastian sangat lembut pada gadis itu karena mengetahui bahwa gadis pilihan putranya adalah anak dari sahabatnya sendiri, jadi Bastian tidak punya alasan untuk menolak Raya.
"Aku sudah menghubungi Anton tadi, besok dia dan istrinya akan ke sini," ucap Bastian tersenyum seraya menatap Adrian dan Raya bergantian.
Deg
Raya terkejut mendengar ucapan Bastian, ia tidak menyangka kalau daddynya akan tahu secepat itu, ia tidak mampu berbohong pada orang tuanya. Namun, apalah daya ia sudah terlanjur mengikuti kebohongan Adrian.
"Kenapa kalian hanya diam, kalian harus menikah lagi biar tidak ada ke salah pahaman, dan resepsi pernikahan kalian adakan di sini saja!" ucap Bastian.
"Terserah Daddy saja!" ucap Adrian dan Raya bersamaan.
"Ternyata kalian sangat kompak," ucap Bastian tersenyum.
"Ya sudah makan dulu! Nanti kita bicara lagi!" perintah Bastian.
"Baik, Dad!" ucap keduanya bersamaan kembali.
Seketika keduanya saling tatap saat jawabannya selalu samaan. Freya yang tersenyum kaku karena ditatap Adrian, sementara Adrian tersenyum lembut menatap Raya.
_______________
"Daddy dan mommy juga mau ke Indonesia?" tanya David mengerutkan kening. "Kata Devan Raya juga ada di Indonesia." David menatap istrinya penuh tanya.
"Kalian ada acara?" tanya David lagi.
"Aku belum tahu pastinya, tapi kata mommy Raya akan menikah dengan Adrian," ucap Freya.
"Adrian sahabatnya Devan?" tanya David menaikkan sebelah alisnya.
"Mungkin, katanya dia mengejar Raya mulai dari sewaktu Raya di Indonesia, pria itu pindah ke sini, katanya ia hanya ingin membuktikan pada Raya bahwa cintanya tidak main-main," ucap Freya datar.
"Berarti benar, Adrian yang kau maksud adalah sahabatnya Devan putranya Om Bastian?" Serentetan pertanyaan terus David lontarkan hingga membuat pusing orang yang disekitarnya," ucap David tersenyum.
"Iya benar, katanya orang tua calon suaminya Raya sahabatnya daddy juga." Freya tersenyum tipis.
"Berarti benar. Syukurlah mereka menemukan kebahagiaannya," ucap David lega.
"Gimana? Apakah besok kita bisa berangkat bersama?" tanya Freya lagi.
__ADS_1
"Nanti aku urus semuanya, agar kita bisa liburan ke Indonesia lebih lama. Kalau kerjaan beres malam ini, besok kita berangkat," ucap David tersenyum.
"Baiklah, apakah kau butuh bantuan?" tanya Freya menaikkan sebelah alisnya.
"Jika kau tidak keberatan untuk membantu, dan hari ini tidak ada kegiatan di kampus maupun di rumah sakit, boleh boleh saja, besok dipastikan kita berangkat bersama ke Indonesia," ucap David tersenyum.
"Baiklah, hari ini aku tidak punya kegiatan."
"Ya sudah, aku ikut kamu ke kantor kalau begitu," ucap Freya tersenyum tipis.
"Makasih, Sayang!"
"Ya sudah, ganti baju dulu gih!" perintah David.
Freya mengangguk, lalu melangkahkan kakinya untuk bersiap-siap ikut David ke kantor.
_____________
"Kanda, apakah tidak sebaiknya kau bilang pada calon besan kita kalau mereka sebenarnya belum menikah? Aku khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan jika mereka tidur dalam satu kamar." Dinda menatap Anton yang sedang fokus dengan berkas-berkas di meja kerjanya.
"Aku percaya pada calon menantu kita, dia sangat mencintai Raya, aku sudah mencari tahu tentangnya, dia tidak pernah dekat dengan siapapun kecuali putri kita," ucap Anton tanpa menatap istrinya tersebut.
"Tapi Kanda ... !"
"Sudahlah, Din! Lagi pula seminggu lagi mereka akan sah menjadi pasangan yang sesungguhnya," ucap Anton menyela ucapan istrinya.
"Terserah Kanda deh!" ucap Dinda pasrah. Wanita paruh baya itu beranjak dari sofa ruang kerja suaminya karena merasa diabaikan. Ia hendak melangkahkan kaki untuk keluar dari ruangan tersebut. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara Anton.
"Kau mau kemana?" tanya pria paruh baya itu ketika melihat istrinya hendak keluar.
"Aku mau ke taman, capek ngomong sama Kanda, dari tadi Kanda hanya fokus sama berkas dan laptop saja!" ucap Dinda memanyunkan bibirnya.
Anton menghela nafas. "Besok kita 'kan mau ke Indonesia, jadi aku perlu menyelesaikan urusanku di sini dulu, biar pulangnya nanti tidak terburu-buru, apalagi ini tentang pernikahan putri kita," ucap Anton menatap tubuh Dinda yang masih membelakangi.
"Ya sudah, kerjakan saja secepatnya, aku hanya ingin mencari udara segar," jawab Wanita paruh baya itu. Sementara Anton hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sudah tua, masih saja ngambekan!" gumam Anton.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...TBC...
Assalamualaikum Readersku sayang 🥰
Sayang-sayangnya Othor, Maafin Othor belum bisa bales komen kalian karena jadwal Othor di Duta agak padat dikit 😂
Tapi Othor tetep baca komen kalian Kok, hanya saja kalau satu dibales satunya nggak, kan Othor jadi orang yang pilih kasih 🙈
Terima kasih atas dukungan kalian ❤️ untuk
__ADS_1
yang mendukung Othor tanpa pamrih
Love you Muachhh 😘