
...πΊSebuah kata mutiara tak seindah doa yang ku panjatkan dalam bait-bait kalimat syukur karena memilikimu, dalam lautan cintaku yang ku tenggelamkan hanyalah namamu, di setiap detik dan waktu hanyalah bayangmu yang menghiasi anganku hingga rasanya aku tidak bisa lagi bangkit ke dunia nyataπΊ...
Adrian Bastian Aditiya
__________
Adrian dan Raya kini sampai di mansion Galaxy, mereka berada di ruang tamu dengan Gracia juga Devan.
"Dri, aku ada banyak hal yang ingin ku tanyakan padamu, ikut aku yuk ke kamar yuk! Raya biar sama mommy saja!" ajak Devan.
"Okay." Adrian menyetujui keinginan sahabatnya.
"Ya sudah, ayo!" Devan langsung berdiri dan melangkah mendahului Adrian.
"Sayang, aku ke kamar Devan sebentar ya?" pamit Adrian pada Raya.
Raya mengangguk sebagai jawaban. Sementara Adrian tersenyum, lalu pria itu mengikuti langkah Devan yang mulai menjauh.
"Selamat ya, Sayang! Sebentar lagi kau akan menjadi nyonya Adrian." Gracia menatap Raya dengan senyum yang mengembang.
"Terima kasih, Tante!" jawab Freya. Gadis itu tersenyum dengan wajah merona.
"Owh ya! Katanya keluargamu akan datang ke Indonesia?" tanya Gracia. Wanita paruh baya itu mendekati Raya yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.
"Iya Tante, mereka berangkat dengan Kak David juga," jawab Raya dengan senyum yang tak memudar.
"Jika mereka berangkat sekarang, mungkin besok pagi mereka akan tiba di sini, aku harap orang tuamu mau nginep di mansion ini," ucap Gracia. Sementara Raya hanya tersenyum tanpa menjawab ucapan Gracia.
"Gimana hubungan David dengan Freya, Sayang? Apakah mereka sudah saling mencintai?" tanya Gracia menatap Raya penuh tanya.
"Soal itu, aku belum tau Tante, tapi yang aku lihat sepertinya hubungan mereka baik-baik saja, buktinya Freya hanya satu kali pulang ke mansion sejak menikah dengan Kak David, itu cukup membuktikan 'kan kalau mereka bahagia hingga lupa pulang?" Raya menatap Gracia dengan kening yang mengerut.
"Semoga saja, apa yang kau ucapkan benar, Sayang!" Gracia membelai rambut Raya.
"Kenapa Tante se khawatir itu? Bukankah Tante tau kalau Kak David memang menyukai Freya?" tanya Raya lagi.
Gracia menggeleng. "Tidak, di antara mereka tidak ada cinta. Aku tahu sifat putraku, aku tahu dia hanya tertarik pada Freya, bukan mencintai, dan sebaliknya aku juga tau kalau Freya juga tidak mencintai David. Aku hanya takut Freya tersakiti." Gracia mengingat masa lalunya waktu diawal pernikahan.
"Aku takut menantuku mengalami apa yang pernah ku alami, karena cinta bertepuk sebelah tangan itu sangat menyakitkan," ucap Gracia sendu.
__ADS_1
"Memangnya apa yang pernah Tante alami?" tanya Raya penasaran.
"Sudahlah, kenapa kita malah bahas masa lalu Tante, kita 'kan bicara David dan Freya!" Gracia kini tersadar dari lamunannya.
Sejak David menikah ia selalu memikirkan menantunya, karena ia sangat tahu sifat putranya tersebut. Ia hanya berharap semoga putranya berubah.
"Tante ah ... ceritanya nanggung tau ...." Raya memanyunkan bibirnya.
"Ya sudah, kita masak makan siang yuk! Ini sudah jam berapa? Sebentar lagi jam makan siang. Kita ke dapur yuk!" ajak Gracia untuk mengalihkan pembicaraan.
"Tante ... " panggil Raya dengan wajah cemberut.
"Ayo!" ajak Gracia sambil menarik tangan gadis itu. Akhirnya Raya pasrah dan mengikuti langkah Gracia ke dapur.
"Kau bisa masak sayang?" tanya Gracia sambil mengambil bahan-bahan untuk masakan begitu sampai di dapur.
"Bisa Tante, tapi dikit-dikit." Raya duduk di kursi yang ada di dapur tersebut.
"Kamu bisa masak apa saja sayang?" tanya Gracia menatap Raya sambil tersenyum manis.
"Nggak banyak Tante, Escargot, Bouillabaisse, Langue de Boeuf, Confit de Canard, Ratatouille dan ada beberapa lagi makanan khas Perancis Tante." Raya menyebutkan beberapa makanan khas Perancis.
"Boleh banget Tante, ya sudah biar Raya yang masak, Tante cukup duduk temani Raya," ucap gadis itu tersenyum ceria.
"Okay," jawab Gracia. Wanita paruh baya itu menuruti keinginan Raya, ia duduk di kursi dapur dengan Raya yang mengganti posisinya. Gadis itu memasak dengan fokusnya hingga ia tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang memperhatikan dirinya yang sedang sibuk dengan kegiatan memasaknya.
Pria itu tersenyum, sambil memperhatikan gadis itu dari jauh, "Ternyata aku tidak pernah salah memilihmu, kau memang calon istri yang sempurna," gumam Adrian dari ambang pintu dapur.
"Nak Adrian," sapa Gracia saat menyadari kehadiran pria tersebut.
Seketika Raya menoleh menatap seseorang yang sedang mendekati dirinya juga Gracia. Pria itu melangkahkan kakinya semakin mendekat.
"Kau masak apa, Sayang?" tanya Adrian ketika pria itu duduk di samping Gracia sambil menatap Raya yang sedang sibuk memasak.
"Aku masak Langue de Boeuf, Confit de Canard dan Ratatouille," jawab Raya dengan senyum yang mengembang.
"Kalian itu sweet banget sih? Tante jadi iri," ucap Gracia sambil menatap Adrian dan Raya bergantian dengan senyum gamblang.
"Kenapa mesti iri Tante, sepertinya Om Brian lebih romantis dari Adrian," goda Raya seraya menatap Gracia penuh arti.
__ADS_1
"Dari mana kau tahu kalau Om Brian itu romantis?" tanya Gracia menatap Raya curiga.
"Sering lah, Tante dari dulu aku 'kan sering kesini," ucap Raya sambil mengerlingkan sebelah matanya pada Gracia.
"Sok tau," ucap Gracia sambil mencebikkan bibirnya.
"Memangnya aku kurang romantis gimana sih, Sayang? Kita 'kan belum menikah, jika kita sudah menikah kau akan tau seromantis apa pasanganmu ini," ucap Adrian mengerlingkan sebelah matanya pada Raya.
"Lebay," ucap Devan yang tiba-tiba datang dan duduk di sebelah Adrian.
"Kenapa kalian pada kesini?" tanya Gracia menaikkan sebelah alisnya.
"Aku haus. Adrian bilang dia mau ngambil minum. Namun, sampe tenggorokanku gatal dia tak kunjung datang, aku memutuskan untuk menyusulnya, ternyata dia ke asyikan di sini menggoda Raya." Devan memutar bola matanya malas.
"Apa sih? Baru juga aku duduk, paling juga kamu sengaja pengen gangguin aku di sini," ucap Adrian malas.
"Sudah-sudah, mending kalian tunggu di ruang keluarga sana!" perintah Gracia pada dua pria tersebut.
"Aku cuma mau ngambil minuman," ucap Devan seraya beranjak dari kursi tersebut lalu membuka kulkas untuk ngambil minuman.
"Ya sudah, aku tunggu di ruang keluarga!" ucap Adrian seraya melangkah meninggalkan Dapur.
"Tunggu aku!" teriak Devan. Pria itu lari mengejar sahabatnya tersebut. Sementara Gracia hanya menggeleng-gelengkan kepala.
...πππππ...
...TBC...
Assalamualaikum Readersku sayang π₯°
Jangan lupa dukungannya ya sayang π
Aku tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih sama kalian, kalian selalu mendukung Othor meskipun karya Othor acak-acakan π
Othor mau mengucapkan apa ya?
Pokoknya Terima kasih, Terima kasih dan Terima kasih sebanyak-banyaknya untuk kalian β€οΈ
Othor Terharu akan ketulusan kalian π’
__ADS_1
Love you All β€οΈπ