Pemikat Hati Sang Cassanova

Pemikat Hati Sang Cassanova
Bukti cinta


__ADS_3

"Apakah aku sudah bisa membuka mataku?" tanya Raya dengan senyum manisnya.


"Biar aku yang membukanya," ucap Adrian.


Pria itu membukakan penutup mata Raya perlahan, setelah terbuka sempurna, kini Raya mengerjap-ngerjapkan matanya. Gadis itu melihat kejutan dari Adrian, ia terkejut hingga tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.


Ia hanya mengambil kartu yang ada di meja makan itu, ia merasa bermimpi karena rasanya ini terlalu cepat baginya.



"Will you marry me, Raya Rayes Cassilas?" ucap Adrian tepat di daun telinga Raya, karena ia berdiri dan membungkuk dari belakang Freya dengan posisi Raya yang duduk di kursi yang ia sediakan.


Raya hanya Diam, ia masih sangat syok dengan kejutan Adrian hingga tenggorokannya tercekat.


"Apakah ini tidak terlalu cepat?" tanya Raya dengan suara bergetar, tidak terasa cairan bening mengalir dari kelopak mata gadis itu.


Adrian pun yang merasa aneh dengan suara Raya, ia langsung berdiri dan menjongkok di depan gadis itu untuk menatap wajah gadis itu.


Adrian tersenyum, lalu menghapus air mata Raya dengan jari jempolnya. "Jika kau tidak mau menerimanya, kau tidak perlu mengeluarkan air matamu, karena bagiku air mata ini sangat berharga." Adrian menggenggam tangan Raya erat.


Raya menggeleng, ia merasa sangat sulit untuk mengeluarkan suaranya. Ia bahagia, sangat sangat bahagia, hingga tak terasa air matanya menerobos begitu saja.


"A-a-ku, aku, aku sangat bahagia, karena aku sadar bahwa aku juga mencintaimu," ucap Raya dengan suara yang tersendat.


Deg


Adrian terkejut, karena ia tidak pernah menyangka bahwa gadis itu akan menerima lamarannya.


"Jangan pernah menerimaku karena kasian, jika kau mau menolakku tolak saja karena aku akan menerimanya dengan lapang dada," ucap Adrian.


"Tidak! Aku benar-benar mencintaimu, aku saja yang bodoh karena selama ini tidak pernah melihat ketulusanmu," ucap Raya dengan suara parau.


"Terus jika kau menerimaku, kenapa kau sedih?" tanya Adrian.


"Aku bukan sedih, tapi aku bahagia, sangat bahagia sampai sulit untuk mengeluarkan suara, dan anehnya aku malah nangis saking bahagianya." Raya mengambil cincin yang sudah Adrian siapkan di samping kartu ucapan itu. Ia menyerahkan pada Adrian supaya memasangkan cincin tersebut pada jari manisnya.


Adrian mengambil cincin itu lalu memasangkan pada jari manis Raya begitu pun sebaliknya, Raya memasangkan pasangan cincin tersebut pada Adrian.


__ADS_1


Adrian berdiri, lalu memeluk tubuh Freya erat. Setelah Adrian melonggarkan pelukannya, gadis itu juga ikut berdiri, baik Adrian maupun Raya sangat bahagia pada malam itu.


Alunan musik pun mulai mengalun merdu saat mereka berdiri, dan mereka pun berdansa di malam hening itu.


"Terima kasih, aku sangat bahagia pada malam ini!" ucap Adrian menatap mata teduh Raya.


"Aku juga sangat bahagia, terima kasih atas cinta tulusmu selama ini, maafkan aku yang hanya bisa memberimu luka selama ini!" ucap Raya tersenyum dengan mata memancarkan cintanya pada pria itu.


"Aku sangat mencintaimu, Adrian. Sangat, sangat mencintaimu!" ucap Raya memegang pipi Adrian dengan ke dua telapak tangannya, sementara Adrian memegang pinggang gadis itu dan menatap mata Raya penuh cinta. Lalu memeluk tubuh Raya kembali, ia seakan enggan untuk melepasnya.


"Aku mencintaimu lebih dari yang kau bayangkan," ucap Adrian.


Setelah Adrian melonggarkan pelukannya, Raya bersandar pada dada bidang pria itu, ia sangat merasa tenang dalam dekapannya. "Apakah kamu yakin ingin menikahiku?" tanya Raya.


"Jika aku tidak yakin, maka aku tidak akan membuang-buang waktuku untuk menyiapkan kejutan ini untukmu," ucap Adrian.


Raya tersenyum, ia mendengarkan detak jantung pria itu dengan bersandar pada dada bidang Adrian. Detak jantungnya seakan menjadi irama dalam keheningan setelah musiknya berhenti. Ia kini tahu bukan hanya dirinya yang merasakan hal itu, tapi Adrian pun juga sama.


"Setelah ini, kita bicara tentang pernikahan kita pada orang tua kita masing-masing," ucap Adrian.


"Tidak perlu tunangan?" tanya Raya mendongak menatap wajah tampan Adrian.


____________________


"Sayang ... ! Minggu depan kita ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan Raka, sekalian kita bulan madu ke Bali," ucap David tersenyum.


Pasangan suami istri itu sedang duduk di ruang keluarga dengan David yang menyandarkan kepalanya pada bahu Freya.


"Okay, kita ke Indonesia tapi tidak untuk bulan madu, karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah memberikan hakmu, sebelum kau membuktikan bahwa cintamu memang hanya untukku," ucap Freya dengan wajah datar.


"Frey, kau butuh bukti apa lagi sih? Aku sudah menjauhi Livia? Kasih tau aku bagaimana caranya untuk membuktikan bahwa aku hanya mencintaimu," ucap David sendu.


"Kau terlalu lemah jadi laki-laki, jika kau pria sejati, seharusnya kau bisa tegas padanya agar dia tidak mengganggu hubungan kita," ucap Freya dingin.


"Baiklah, aku akan cari jalan keluarnya, supaya Livia tidak ada lagi di antara kita," ucap David menatap wajah cantik istrinya.


"Frey, kau tahu tidak. Aku tidak pernah mencintai seseorang sampai seperti ini, meskipun dulu aku mencintai Livia maupun Cantika, tapi aku tidak pernah bernafsu sampai seperti saat ku bersamamu," ucap David.


"Lebay ... ! Emang kamu pikir aku percaya pada ucapan seorang cassanova?" tanya Freya.

__ADS_1


"Aku memang selalu memuaskan nafsuku dengan seorang wanita. Namun, aku tidak pernah melakukannya dengan mereka," ucap David menatap wajah datar Freya.


"Pembohong," ucap Freya memutar bola matanya malas.


"Frey, percayalah!" ucap David sendu.


"Jika bukan untuk melakukan hubungan intim, lalu untuk apa kau selalu datang ke klub malam?" tanya Freya dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Iya, aku mengakui bahwa aku tiap malam ke tempat seperti itu. Namun, aku tidak pernah berbuat seperti apa yang mereka katakan, aku memang selalu menyewa beberapa perempuan untuk memuaskan naf suku. Namun, tidak seperti yang mereka pikirkan, aku menuntaskannya dengan cara lain," jawab David.


"Stop ... ! Aku tidak mau mendengarnya lebih jauh," cegah Freya.


"Baiklah ... !" ucap David.


"Tapi aku akan tetap jelaskan bahwa aku bukanlah seorang cassanova. Milikku masih belum masuk gua manapun," ucap David menggoda Freya.


"Terserah deh! Mau masuk ataupun tidak, itu bukan urusanku," ucap Freya malas. Namun, disambut dengan gelak tawa oleh David.


"Aku sudah ngantuk, lebih baik kita ke kamar saja!" David menggendong tubuh Freya ala Bridal Style tanpa izin.


"David!" teriak Raya dengan mata melotot karena terkejut dengan tindakan suaminya itu.


"Turunkan!" sentak Freya.


"Sekali-kali kita main gendong-gendongan," ucap David mengembangkan senyumnya. Pria itu menatap wajah datar Freya dengan senyum yang tak pernah memudar. Namun, sebaliknya, Freya sangat sulit untuk mengembangkan senyumnya untuk pria itu karena setiap saat hanya kekesalan yang ia rasakan.


...💋💋💋💋💋...


...TBC...


Assalamualaikum Readersku Sayang 🥰


Othor hari ini update satu-satu lagi ya?


Tapi insya Allah tetep 3 Bab perhari 😂


Jangan lupa dukungannya 🥰


Thank you ❤️

__ADS_1


__ADS_2