Pemikat Hati Sang Cassanova

Pemikat Hati Sang Cassanova
Calon suami idaman


__ADS_3

Kini Anton, David, Dinda dan Freya sudah tiba di Indonesia. Mereka dijemput oleh Brian, Gracia, Devan, Adrian, Bastian dan Raya. Mereka kini berhenti di sebuah restoran yang tersedia ruang VIP, dan tiga keluarga tersebut makan siang tanpa gangguan pengunjung lain. Mereka duduk dalam satu meja panjang dan tersedia kursi yang mencukupi untuk mereka semua.


"Kau tinggal di mansionku saja Bro, ajak istrimu juga!" ajak Brian sambil merangkul pundak sahabatnya itu.


Anton hanya tersenyum, ia tidak menjawab ajakan Brian.


"Atau kalian nginep di mansionku saja!" Bastian juga mengajak Anton dengan senyum tipisnya.


Anton masih tak memudarkan senyumnya mendengar ajakan Bastian. "Kalian sangat Baik, tapi maaf aku ingin tinggal di apartemenku saja," ucap Anton menatap sahabatnya bergantian.


"Maaf Bas, sebaiknya Raya tinggal di apartemen saja sebelum akad dan Resepsi digelar, aku takut ada fitnah yang beredar," ucap Anton menatap sahabatnya teduh.


"Terserah kamu saja gimana baiknya!" jawab Bastian tersenyum gamblang.


"Kalau begitu, mumpung kita berkumpul sekalian kita bicarakan tentang acara pernikahan anak-anak kita," ucap Bastian menatap Anton dan Brian bergantian.


"Kita gelar akad dan resepsi pernikahannya di sini (Indonesia) di gedung Galaxy corp." Bastian menatap sahabatnya bergantian.


"Aku setuju saja," ucap Anton santay sambil melirik Brian.


"Masalah gedung, terserah kalian, Free dari aku!" ucap Brian antusias.


"Haruslah, masak sama sahabatnya sendiri disewakan," ucap Anton menggoda sahabatnya tersebut.


Setelah berbincang-bincang cukup lama akhirnya akad dan resepsi pernikahan Adrian dan Raya resmi ditentukan tanggalnya.


Setelah itu kini ketiga keluarga itu kembali ke mansion masing-masing dengan Anton yang kembali ke apartemennya membawa Raya juga.


Sesampainya di apartemen, Raya duduk di ruang keluarga dengan Anton juga Dinda. Gadis itu menunduk, ia takut daddy dan mommynya kecewa karena satu kamar dengan Adrian.


"Maafin Raya Dad, Mom!" ucap gadis itu dengan wajah menunduk.


"Kenapa minta maaf, hm!" tanya Anton mengerutkan kening.


"Aku tidur satu kamar sama Adrian, Dad!" ucap Raya jujur.


"Kami sudah tahu, bukankah Adrian sudah kasih tau kamu, kalau dia sudah minta izin tentang itu?" tanya Anton seraya mengerutkan kening.


"Meskipun Adrian kasih tau aku, tapi aku belum lega sebelum mendengarnya langsung dari Daddy," ucap Raya penuh sesal.


"Kau tidak perlu ragu, Sayang! Calon suamimu itu memang benar-benar calon suami idaman, kau harus percaya karena mommy pun sangat percaya padanya sekarang," ucap Dinda tersenyum lembut.


"Kenapa mommy bisa sepercaya itu padanya?" tanya Raya mendongak sambil menaikkan sambil sebelah alisnya.


"Aku menyewa bodyguard untuk mengawasimu dan orang yang dekat denganmu karena aku khawatir kau melakukan sesuatu yang nekat karena patah hati," ucap Anton dengan senyum yang mengembang.

__ADS_1


Raya melototkan matanya dengan mulut yang terbuka lebar. "Jadi Daddy memata-mataiku selama ini?" tanya Raya tidak percaya.


"Bukan memata-matai tapi aku khawatir, kalau kau akan nekat bunuh diri, aku takut cintamu buta hingga kehilangan akal sehat," ucap Anton santay.


"Daddy ternyata sangat menyebalkan," ucap Raya memanyunkan bibirnya.


"Jadi selama ini daddy tau kalau Adrian sebenarnya tidak kembali ke Paris karena dijodohkan?" tanya Raya menatap Anton penuh tanya.


"Iya," jawab Anton dengan gaya santainya.


"Terus kenapa Daddy diam seolah-olah tidak terjadi apa-apa?" tanya Raya bingung.


"Kalian sudah besar, masak masalah kalian mesti daddy yang bantuin juga," ucap Anton menyatukan kedua alisnya.


"Terserah, Daddy deh! Capek ngomong sama Daddy!" ucap Raya memalingkan muka.


"Sudah-sudah, kalian kalau ketemu bawaannya berdebat terus, mending kita main yuk!" ajak Dinda mengambil Domino.


"Enggak! Aku capek," ucap Anton dan Raya bersamaan. Keduanya berdiri dan langsung meninggalkan ruang keluarga tanpa menoleh pada Dinda yang sedang bingung. Wanita paruh baya itu menggaruk-garuk pelipisnya yang tidak gatal. "Kenapa aku yang kena semprot, 'kan mereka yang berdebat!" gumam Dinda yang masih duduk di ruang keluarga sendirian.


_______________


"Selamat datang menantu mommy," ucap Gracia begitu sampai di mansion Galaxy dan membuka pintu utama.


"Sayang, aku bahagia ... banget karena punya menantu, sebenarnya aku pengen banget kau tinggal di sini," ucap Gracia sendu sambil menatap wajah cantik menantunya.


"Jika Mommy ingin tinggal sama menantu, Mommy tinggal suruh Devan cari istri saja," ucap David santai.


"Kau jangan khawatir Kak, aku pasti akan menikah tapi tidak sekarang," ucap Devan.


"Kenapa?" tanya David menatap adiknya dengan alis yang mengerut.


"Aku mesti fokus dulu belajar bisnis karena daddy pengen pensiun dan ingin menghabiskan waktu bersama mommy, jika aku sudah bisa mengelola perusahaan sendiri tanpa bantuan daddy, aku pasti menikah. Kakak tidak perlu khawatir karena aku juga pria normal," ucap Devan tersenyum tipis.


"Tuh, benar 'kan Dad, kalau Devan lebih hebat dari aku? Dia yang lebih cocok menggantikan daddy," ucap David menatap Brian dengan senyum yang mengembang.


"Kau bukan tidak pandai menjadi pemimpin, tapi kau tidak mau menjadi pemimpin," ucap Brian santai.


"Sudahlah Dad, 'kan ada Devan, di Paris aku juga sudah mengelola perusahaan Daddy, belum juga perusahaan keluarga istriku," ucap David menatap daddynya dengan senyum tipisnya.


"Aku tidak menyangka, kalau putraku akan menjadi orang Paris," ucap Gracia menyela ucapan suami dan putranya.


"Tiap liburan, David dan Freya akan menyempatkan diri untuk ke sini Kok, Mom! Mommy tenang aja!" ucap David tersenyum lembut menatap orang yang melahirkankannya tersebut.


"Aku pegang janjimu," ucap Gracia sendu.

__ADS_1


"Kau tidak perlu khawatir, Sayang! Nanti kau juga bisa mengajakku ke Paris jika kau merindukan mereka," ucap Brian lembut.


"Benarkah?" tanya Gracia berbinar.


"Kapan sih aku berbohong padamu?" ucap Brian lembut.


"Terima kasih, Mas!" ucap Gracia tersenyum manis.


"Sayang, kita istirahat aja yuk ke kamar!" ajak David menatap Freya memohon.


"Masih siang, Vid! Jangan macem-macem!" ucap Gracia menatap putranya tajam.


"Memang aku mau ngapain, Mom! Aku cuma ngajak istriku untuk beristirahat," ucap David tersenyum aneh.


"Kakak, Kakak. Kita tau sifat Kakak itu seperti apa?" Devan langsung melangkah ke kamarnya setelah mengucapkan hal itu.


"Hey, Kau masih kecil. Jangan sok tau deh!" teriak David yang melihat Devan melangkah untuk meninggalkan ruangan itu.


"Aku bukan sok tau, tapi memang tau," ucap Devan santai sebelum menghilang di balik pintu.


"Ya sudah bawa menantu ke kamarmu, aku dan mommy juga mau ke kamar," ucap Brain santai.


"Tapi, Mas! Aku masih mau ngobrol-ngobrol sama Freya," ucap Gracia memohon.


"Sudah ayo! Menantu masih butuh istirahat," ucap Brian sambil menarik tangan Istrinya.


...💋💋💋💋💋...


...TBC ...


Assalamualaikum Readersku sayang 🥰


Alhamdulillah sekarang ada balas komentar Otomatis untuk kalian yang mengikuti Othor ❤️


Jangan lupa untuk mendukung Othor meskipun Othor selalu sok sibuk ya 🤣🙈


Thank you


Thank you


Thank you


Atas dukungan kalian ❤️


Love you .... 💋

__ADS_1


__ADS_2