
Seiring dengan jalan yang dilewati oleh Sashi, maka sosok di mobilnya itu turut mengikuti Sashi dari jauh. Hingga mobil Sashi memasuki gerbang rumahnya dan mobil sosok itu memantau dari jarak yang tak terlalu di. Saat melihat Sashi keluar dari sana dengan menenteng kantong makanan yang ia berisi makanan yang ia beli tadi. Karena merasakan udara yang semakin dingin, wanita hamil itu mempercepat langkahnya dan langsung menutup pintu. Setelah melihat Sashi hilang dibalik pintu, sosok itu pergi berlalu dengan seringainya. Saat baru saja beberapa langkah, lampu dinyalakan membuat Sashi sedikit kaget saat mendengar suara seseorang.
"Darimana saja Nak?" tanya Mbok Tin dengan cemas.
"Mbok... aku pergi keluar membeli..." belum sempat Sashi menjelaskan, ia merasakan pelukan dari Mbok Tin.
"Mbok cemas sekali, bagaimana kalau terjadi sesuatu, kenapa tidak bangunkan Mbok saja? Lain kali jangan ulangi lagi!"
"Maaf Mbok. Tapi aku tidak tega membangunkan Mbok karena sudah malam. Aku merasa sangat lapar dan ingin memakan cumi, lihat aku beli banyak."
"Aku janji, tidak akan mengulanginya lagi. Mbok jangan marah lagi."
"Baiklah, janji ya?"
"Iya, janji!"
"Mbok ambilkan piring dulu ya, duduklah dulu."
"Iya." Sashi dengan perlahan berjalan dan mendudukkan bokongnya di kursi meja makan, sambil menunggu Mbok Tin kembali.
"Sebentar lagi kita akan makan sayang." Sashi tersenyum senang sambil mengelus perutnya, namun senyum itu mulai menyurut saat ia teringat ucapan di warung tadi.
"Meskipun tidak ada Daddy, tapi Mommy ada bersamamu dan Mommy yakin, kalau Daddy selalu melihat dan mengawasi kita dari sana. Benarkan Mas?" mata itu terlihat berembun sambil melihat pigura besar itu.
"Ini Nak." Mbok Tin datang dengan membawa piring dan meletakkannya di meja. Dengan cepat ia membuka bungkusan plastik itu dan Sashi langsung dengan lahap memakannya.
"Enak Mbok, ayo coba!" ujar Sashi sambil mengarahkan beberapa tusuk cumi ke arahnya.
"Iya, ini enak sekali, dagingnya lembut, rasa bumbunya pedas dan meresap dengan sempurna." Puji Mbok Tin sambil mencoba cumi itu.
"Kau menangis Nak?" tanya Mbok Tin tiba-tiba.
"Ti-tidak Mbok."
"Jangan bohong!"
"Ini hanya air mata karena pedas saja Mbok."
"Nak?" Mbok Tin tentu tidak bisa dibohongi begitu saja, karena Sashi tahan makan pedas, apalagi cumi ini yang pedasnya tidak seberapa.
"A--ku hanya teringat akan Mas... Malik Mbok, jika i-a ada di sini, aku tidak akan kesepian!" Air mata itu akhirnya jatuh juga disertai tangisan Sashi yang mengeluarkan perasaannya. Wanita hamil menjadi lebih sensitif dan peka apalagi ia hamil tidak ditemani oleh suaminya karena sudah tiada dengan misteri di dalamnya.
"Jangan bilang seperti itu, lihat! Mbok ada di sini, jangan bilang kesepian lagi. Ada dia juga, nanti ia bisa sedih juga karena merasakan Ibunya menangis." Mbok Tin mengerti akan perasaan Sashi, ia memeluk dan mengusap punggung itu dan menenangkan Sashi. Saat ini wanita hamil itu butuh seseorang yang bisa mengerti dan selalu ada bersamanya.
"Terima kasih Mbok. Jangan tinggalkan aku ya Mbok!"
"Tidak akan, Mbok akan selalu menemani Nak Sashi karena Mbok ingin melihat pangeran atau putri yang cantik ini." Mbok Tin bicara sambil melihat perut buncit itu.
"Kita akan memeriksanya besok, bagaimana?"
"Iya Mbok, kita akan melihatnya besok."
__ADS_1
Malam yang semakin larut diiringi dengan air mata dan kerapuhan Sashi sesaat, hingga akhirnya ia tertidur. Keesokan paginya, ditemani oleh Mbok Tin dan Alya mereka sampai di rumah sakit untuk pemeriksaan.
"Nyonya Sashi!" panggil suster itu dan Sashi beserta keduanya langsung masuk dan di dalam telah terlihat seorang dokter wanita yang tersenyum manis melihat kedatangan mereka.
"Selamat datang Nyonya Sashi." Sapa dokter itu.
"Dan selamat pagi juga untuk semuanya."
"Selamat pagi juga Dokter." Balas mereka semua.
"Kita periksa dulu ya." Dengan dibantu oleh Alya, perlahan Sashi berbaring. Dan dengan segera dokter menyikap baju Sashi sedikit dan setelah itu perutnya dibalur dengan gel dan setelah itu, alat langsung di arahkan dan terlihat di monitor sosok kecil di rahimnya.
"Bayiku..."
"Terlihat sehat ya, tidak ada masalah. Semuanya sangat baik," ujar dokter itu sambil tersenyum.
"Apa jenis kelaminnya Dokter?" tanya Alya.
"Selamat ya Bu, bayinya laki-laki, lihat ini adalah jenis kelaminnya, sudah mulai terlihat." Sashi meneteskan air matanya karena mendengar jenis kelamin bayinya yang seperti diharapkan oleh suaminya.
"Wah, aku akan dapat keponakan tampan nantinya!" Alya ikut senang mendengar hal itu dan Mbok Tin juga tersenyum senang mendengarnya.
"Mbok akan mendapatkan cucu yang tampan."
"Jangan lupa makan-makanan yang sehat dan jangan banyak pikiran ya Bu."
"Terima kasih Dokter."
Setelah itu mereka langsung keluar dan saat sampai di rumah. Terlihat Ari sudah berada di sana. "Sudah lama?" tanya Sashi.
"Belum Mbak."
"Bagaimana dengan pemeriksaannya Mbak?"
"Laki-laki."
"Wah, aku akan mendapatkan keponakan tampan nantinya."
"Iya."
"Oh ya Mbak, aku lupa mengabarkan kalau kita akan kedatangan investor baru yang berasal dari luar negeri."
"Siapa?" tanya Sashi.
"L.R company Mbak." Jawab Ari dengan cepat setelah mengingatnya.
"L.R?"
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Tuan, kita berangkat besok?"
__ADS_1
"Tentu saja, karena aku tidak sabar untuk ke sana. Kau sudah mengabarinya kan?"
"Sudah Tuan."
"Bagus!"
"Aku sangat penasaran dengan sosok itu."
Keesokan paginya, seperti biasa Sashi berangkat ke kantor diantarkan oleh supir nya. Hari ini merupakan hari yang penting karena kedatangan seorang CEO yang berasal dari negara terkenal mengajak kerjasama.
"Sudah siap Bu?" tanya supir.
"Sudah Pak, kita langsung jalan." Tak lama mobil itu melaju meninggalkan kediaman Sashi dan membelah jalanan kota yang cukup padat di jam seperti ini. Sepanjang perjalanan Sashi mengelus perut buncitnya sambil tersenyum senang saat merasakan tendangan dari bayinya. Tak terasa mereka sudah sampai di depan perusahaan dan Sashi langsung melihat satpam membantu ia membuka pintu mobilnya.
"Terima kasih."
"Sama-sama Bu Sashi."
"Nanti saya kabari ya Pak."
"Baik Bu." Supir itu langsung pergi setelah mengantarkan Sashi dan semua karyawan menyapa Sashi dan dibalas senyuman manis itu. Sashi langsung menaiki lift menuju ruangannya dan di sana sudah terlihat Ari dengan senyum ramahnya.
"Selamat pagi Mbak."
"Selamat pagi juga Ari."
"Mbak, ini adalah dokumen mengenai kesepakatan dan juga data mengenai perusahaan yang akan bekerja sama dengan kita." Ari mengeluarkan dokumen itu dan Sashi langsung membacanya.
"Oh ya, ngomong-ngomong kapan mereka akan sampai?"
"Sebentar lagi Mbak, lebih tepatnya 15 menit lagi."
"Aku penasaran dengan perwakilan yang akan datang kemari. L.R Company.
Bersambung....
Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️
Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author cerita nya seru lho!
Ranty Amalia Widodo, yang Menikah dengan seorang superstar Ferrell Nugraha. Harus rela jika dirinya selalu di sembunyikan bahkan hanya di akui sebagai adik. Membuatnya bertekad tidak akan jatuh cinta pada suaminya.
Namun, sikap Ferrell yang menunjukkan cinta dibelakang layar. Membuatnya luluh cinta Ferrell bukanlah kepura-puraan. Cinta Ferrell tulus untuk Ranty. Namun, dalam kisah cinta mereka ada saja penghalang dan rintangan. Namun, mereka bisa Melawati nya hingga kehadiran putri tercinta mereka mampu melengkapi kebahagiaan keluarga kecil mereka.
Sayangnya lagi-lagi cobaan datang, menerpa rumah tangga mereka. Hingga Ferrell harus terjebak pernikahan siri dengan sahabat sekligus cinta masa kecilnya.
Hingga akhirnya Ferrell dan Ranty harus terpisah
karena tragedi yang sangat memilukan
__ADS_1
akankah Ferrell dan Ranty akan kembali bersama?