Pendamping Hidup Mommy Sashi

Pendamping Hidup Mommy Sashi
Apa yang terjadi dengan Mbok Tin?


__ADS_3

Semuanya tampak terdiam sambil menunggu pemeriksaan dokter. Terlihat sosok wanita yang seperti ibunya itu terbaring dengan luka di kepalanya. "Bagaimana Dokter?" tanya Sashi pada wanita berjas putih itu.


"Luka di kepalanya akibat benturan dari batu yang ada di taman, dan untuk memar di tangannya seperti bekas tarikan dan beberapa pukulan dari seseorang."


"Tapi, semuanya tidak ada yang serius kan Dok?"


"Tidak ada, keadaan yang lainnya sangat baik." Sashi bernapas lega mendengarnya, wanita itu sangat cemas melihat keadaan Mbok Tin yang ditemukan pingsan.


"Mbak, dari laporan penjaga. Sepertinya ada yang sengaja melakukannya Mbak."


"Kau benar Ari. Aku rasa mereka sudah bertindak dan tidak akan berhenti sebelum mendapatkannya."


"Mbak. Apa Mbak berpikir seperti ...."


"Iya, katakan pada penjaga tutup gerbangnya dan minta semua pelayan jangan ada yang memasuki ruangan ini!" Sashi berkata pada salah satu Pelayan di belakangnya.


"Baik Nyonya." Setelah mengatakan itu, pelayan tadi langsung pergi dari sana.


"Ayah, apa nenek akan baik-baik saja?"


"Tentu saja, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan sayang."


"Hans, dengarkan Tante, jika ada yang datang dan memberikan sesuatu jangan diterima." Sontak saja hal itu membuat Hans kebingungan.


"Kenapa Tante?"


"Kemarilah, biar Tante bisikkan." Hans dengan patuh mendekat dan Sashi membisniskan sesuatu di telinga kecil itu.


Sore telah tiba, di kamar yang tenang itu tiba-tiba terdengar langkah kaki seseorang yang mendekat membuat Hans yang tadinya tertidur langsung terbangun.


"Ayah?" ujarnya dengan mengucek matanya beberapa kali.


"Ini saya Tuan kecil." Hans langsung melihat sosok yang bicara dengannya saat ini, dilihat dari pakaiannya menggunakan baju berwarna hitam dan putih persis seperti pakaian pelayan di kediaman Sashi.


"Ada apa?" tanya Hans.


"Ini, Nyonya Sashi memintaku untuk memberikan kue buah untukmu." Pelayan itu memberikan beberapa potongan kue yang sungguh sangat menarik dan ingin di makan dengan tampilannya.


"Ayo, makanlah." Hans yang sangat tertarik dengan kue itu langsung mengambilnya dari tangan pelayan itu.


"Apa benar?"


"Tidak percaya?"


"Tidak." Hans menggelengkan kepalanya dengan cepat dengan tangan yang memegang kue itu.


"Karena, Ayah dan Tante Sashi mengatakan kalau mereka pergi membawa adik dan tidak mungkin membelikan ku kue ini. Karena aku sedang sakit gigi." Hans meletakkan kembali kue itu di meja membuat pelayan tadi menatapnya dengan tatapan tak biasa.


"Tapi, ini gulanya sangat rendah dan tidak terlalu manis. Karena manisnya dari buah-buahan ini. Jadi tidak akan membuat gigi sakit." Pelayan itu menunjuk salah satu kue rasa strawberry.

__ADS_1


"Aku akan bilang pada Ayah dulu." Hans mengambil ponselnya dan akan menekan nomor ayahnya. Dan sebuah tangan mengentikan pergerakan Hans membuat anak kecil itu terhenti.


"Kenapa?"


"Apa Tuan kecil tidak percaya? Tidak perlu menghubungi Tuan Ari karena pasti mereka diperjalanan. Lagipula Bibi tidak mungkin berbuat jahat kan?" Hans mengamati wajah pelayan itu, memang ia sering bertemu dengan Pelayan ini. Terkadang ia membantu dirinya dan membantu Mbok Tin saat bekerja.


"Baiklah!" Hans langsung menjawab setelah beberapa saat berpikir dan hal itu membuat sang pelayan tersenyum penuh arti.


"Oh ya, bagaimana kalau Mbok Tin bibi saja yang jaga?" Ucapannya membuat Hans mengentikan suapan pertamanya.


"Tidak! Ayah dan Tante bilang aku yang menjaga dan menemani Nenek di sini."


"Baiklah, kalau begitu Bibi tinggal dulu. Jika ada perlu panggil saja ya." Ucapnya membuat Hans mengangguk. Setelah pintu tertutup, wanita pelayan itu mulai menghitung mundur.


"3,2,1."


Prang!


"Tuan, misi berhasil!" ia bicara dengan alat komunikasi di telinganya.


"Bagus! Setidaknya merubuhkan anak kecil kau tentu bisa."


"Tentu Tuan."


"Sekarang, lakukan langkah selanjutnya dengan cepat sebelum Sashi dan pria itu kembali!"


"Baik Tuan." Setelah itu tidak ada lagi percakapan dan pelayan wanita itu langsung bertindak.


"Kalau begitu mulai acaranya! Aku ingin lihat apa reaksi dan rencananya kali ini."


"Baik Mbak!"


"Aku harap Hans melakukannya dengan baik."


"Putramu pasti bisa Ari."


"Iya Mbak."


Beberapa saat kemudian, terlihat sosok yang terikat tak sadarkan diri di ruang gelap. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali dan saat terbuka, ia langsung bingung dan mengumpulkan kesadarannya.


"Rasanya aku berada di kamar, lalu kenapa aku berada di sini?"


"Aaa, apa mungkin?" Matanya langsung terbelalak saat melihat sosok yang mendekat ke arahnya.


"Sudah sadar?" tanyanya.


"Aku rasa begitu." Sahut sosok disebelahnya.


"Bagaimana? Sudah ingat? Aku rasa ingatanmu tidak buruk di usia muda."

__ADS_1


"Kenapa? Tidak percaya ya? Apa perlu menghubungi Nya?"


"Nyonya...."


"Akhirnya kau memanggilku juga Laksmi, tadinya aku pikir kau lupa ingatan saat kepalamu ku pukul."


"Nyonya, kenapa saya diikat seperti ini?"


"Luar biasa, kau memang pemain film yang hebat! Saat ada aku, kau menjadi pelayan yang setia dan polos. Dan saat aku tidak ada, kau menghubungi Tuan mu dan melakukan rencana melukai dan menghabisi nyawa anakku."


"Ternyata benar yang dikatakan Tuan, anda tidak bodoh Nyonya. Aku pikir dengan sikap polos ku, kau akan tertipu selamanya."


"Akhirnya wajah aslimu keluar juga."


"Tuan Ari, bagaimana dengan putramu? Dia memakan kue yang akan membuatnya kenikmatan sampai lupa untuk bangun." Mata itu menatap Ari yang berada di sebelah Sashi.


"Aku di sini Bibi penyihir!" Suara itu membuat wajah Laksmi berubah seketika.


"Kau! Bagaimana bisa?"


"Tentu saja, karena aku sangat hebat! Benarkah Ibu?" Hans langsung memperagakan gaya karatenya yang membuat Alya tersenyum karena tingkah putranya.


"Tentu saja, karena putraku sangat hebat! Dan kau salah bermain dengan orang. Karena dalam diri putraku mengalir darah ibunya yang tidak kenal takut meskipun terlihat lemah."


"Lakukan tugas kalian!"


"Baik Nyonya!"


"Hahaha, meskipun kalian berhasil menangkap ku, bagaimana dengan Wanita tua itu? Tidakkah kalian penasaran?"


"Apa maksudmu?" Sashi langsung berbalik mendengar pernyataan wanita itu.


"Jangan dengarkan dia Mbak, mungkin dia hanya ingin mengerjai kita."


"Nyonya Sashi, tidakkah kau lihat bahwa Mbok Tin sejak tadi belum sadarkan diri juga. Karena kau tau kenapa? Karena aku telah ...."


Bersambung.....


Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️


Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author cerita nya seru lho!



Kirana Prameswari adalah seorang mahasiswa akhir, dia membutuhkan biaya untuk mengerjakan skripsinya yang selalu di tolak oleh dosen pembimbingnya. Seorang teman memberinya sebuah pekerjaan sebagai guru les privat dari anak seorang konglomerat.


Kirana pikir anak yang akan di les privat olehnya adalah usia sekolah dasar, tapi ternyata anak tiga tahun. Dan lebih kagetnya lagi ayah dari anak yang di les privatnya itu seorang duda tampan dan seksi.


Bagaimana Kirana menghadapi ayah dan anak itu? Apakah dia akan terjerat pesona sang duda?

__ADS_1


Yuk kita kepoin ceritanya..


__ADS_2