
Kedua orang itu sekarang berada di toko antik, di sana terlihat seorang wanita tua penjaga toko itu yang tersenyum ke arah mereka. "Selamat datang, mau cari apa?"
"Kami mau lihat dulu Bi," ujar Malik sedangkan Sashi hanya diam mengikuti sambil melihat barang yang dijual dan tertata di sana.
"Oh, kalau begitu silahkan. Aku memiliki barang-barang yang mungkin akan disukai pasangan muda seperti kalian." Jawabnya sambil terkekeh kecil.
"Iya Bi," Ujar Malik.
"Kalau begitu, aku ke belakang sebentar. Kebetulan sedang merebus air di belakang." Dan Malik hanya menganggukkan kepalanya melihat kepergian wanita itu.
"Sayang, kenapa kita ke sini?" Sashi akhirnya bersuara setelah beberapa lama terdiam.
"Kau akan tau sayang. Lihat ini, ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan." Malik membawa Sashi ke sebuah rak kaca yang di mana terpajang berbagai perhiasan kecil ya menarik dan unik. Sashi melihat semua itu dengan teliti. Ia akui semuanya sangatlah unik dan indah, pasti harganya juga mahal seperti benda dari abad pertengahan.
"Sepertinya ini tidak dijual. Karena letaknya dipisahkan sayang." Sashi berujar sambil menunjuk rak kaca itu.
"Benarkah? Padahal aku ingin membelikan itu untukmu." Malik bicara dengan nada kecewa sambil menunjuk benda yang indah berbentuk bulan dan bintang berwarna merah.
"Sudahlah, tak apa. Kita bisa ...."
"Bagaimana? Apa sudah menemukan yang kalian mau?" Tiba-tiba saja wanita itu datang dan berdiri di belakang keduanya membuat Sashi terkejut.
"Itu ... Kami ...." Malik tampak ragu mengatakannya dan sepertinya wanita itu paham dan tersenyum. Ia membuka sebuah rak kecil kayu dan mengambil kunci di sana, baik Sashi maupun Malik hanya diam memperhatikan saja. Hingga tak kaca itu terbuka dan wanita itu tersenyum melihat keduanya.
"Sekarang kalian bisa pilih, ini juga dijual. Hanya saja harganya lebih mahal sedikit. Tentu kalian tau." Malik senang mendengarnya dan ia segera mengambil benda yang ia cari dan segera memperlihatkannya.
__ADS_1
"Ini, aku ingin membeli ini." Wajah pria itu senang sekali sambil memperlihatkan benda itu kepada Sashi.
"Pilihan yang bagus sekali. Ayo, ke sana." Wanita itu mengajak Malik ke tempat pembayaran.
"Terima kasih sudah berkunjung dan belanja di sini. Tadinya aku berpikir, tidak ada yang pasangan muda yang akan datang dan membelinya karena sudah tua, tapi sepertinya kau punya pandangan lain anak muda yang tampan." Malik hanya tersenyum mendengarnya.
"Aku senang dengan sesuatu yang unik." Balas Malik sambil mengambil bingkisan itu.
"Aku berharap kalian berdua akan dilimpahkan kebahagiaan dan cinta yang tiada akhir hingga maut memisahkan." Terdengar sangat tulus, Sashi yang tadinya sedikit takut sekarang berani menatap wanita itu.
"Kau wanita yang cantik, semoga kalian bahagia selalu." Wanita itu memandangi Sashi dengan lekat dan Sashi membalasnya dengan senyuman.
"Terima kasih Bibi." Sashi akhirnya membalas ucapan wanita itu.
"Sama-sama. Sampai jumpa." Sashi dan Malik meninggalkan toko antik itu dan kembali ke penginapan. Saat beristirahat, terbesit di pikiran Sashi untuk membukanya.
"Iya, bukalah dan katakan bagaimana. Apa kau menyukainya?" Malik bicara dari dapur sambil membuat kopi karena cuacanya yang sedikit hujan. Dengan tidak sabaran Sashi membukanya dan mata itu terpukau dengan bentuk dan warna dari mainan kunci yang indah itu.
"Sangat indah, benar-benar indah." Puji Sashi membuat Malik yang datang dengan dua cangkir kopi di tangannya langsung duduk di samping kekasihnya itu.
"Persis seperti dirimu."
"Terima kasih. Ini indah sekali."
"Akan lebih indah lagi. Jika kau pakai di kunci rumah atau kamarmu atau kau memajangnya agar selalu terlihat dan akan ingat padaku."
__ADS_1
"Tentu saja, tapi ...."
"Ada apa?" tanya Malik.
"Cuma ada satu, lalu untukmu?" Sashi segera menyingkirkan bingkisan yang ia sobek dan saat akan mengangkat kotak terlihat sesuatu yang berkilau di sana.
"Ini ...."
"Sepertinya dia memberikan kita bonusnya." Malik memasangkan hiasan kunci itu di resleting tasnya dan juga Sashi.
"Nah, untuk sementara kita pasangkan di sini dulu. Nanti setelah kita punya rumah, maka akan aku letakkan di ruangan kamar kita." Sashi tersenyum hangat dan memeluk Malik dengan erat.
"Aku mencintaimu."
"Aku juga, selamat hari anniversary Sayang."
Air mata itu turun seiring dengan hujan yang turun dengan derasnya, Sashi merasakan pergerakan putranya yang mungkin terganggu atau sedang bermimpi.
"Daddy ...." Gumam Max di sela tidurnya.
"Aku harus mencari tau!" Sashi mencium kening dan mengelus rambut putranya yang tertidur pulas.
Bersambung....
Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️
__ADS_1
Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya author yang bergenre horor. Yuk mampir!