
Nyalang di mata pria itu begitu terlihat saat menyaksikan apa yang ada dihadapannya. "Sepertinya ada masalah, bukankah begitu?" Tanyanya membuat gigi itu bergemetuk.
"Masalah apa maksudnya? Dia adalah istriku. Jadi apa itu sebuah tindakan kriminal?" Balasnya sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh yang tak sadarkan diri itu.
"Istri?" Ulangnya sambil melirik wanita itu yang telah terpejam.
"Kau yakin Tuan? Karena yang aku ketahui suaminya bukan dirimu!" Seketika mata itu langsung memicing tajam dengan tangannya yang mengepal.
'Sial, bagaimana ia tahu? Bukankah ia baru saja datang? Atau aku yang terlalu meremehkan dirinya?'
"Kenapa diam? Apa aku benar?"
"Dengar Tuan, aku tidak mengenalmu atau kita saling mengenal. Omong kosong mu itu tidak berarti apapun bagiku, jadi sebaiknya kau minggir saja. Bukankah itu lebih baik?"
"Ya,.kau benar. Baiklah silahkan!" Sedikit bingung, tapi tak masalah pikirnya dengan segera ia tersenyum dan melangkahkan kakinya dengan cepat. Tapi tiba-tiba saja ia merasakan tendangan di punggungnya dan sosok yang ia genggam beralih tangan sekarang.
"Si*al! Kau!"
"Kau bodoh sekali!" Jawabnya sambil merengkuh tubuh ramping itu.
__ADS_1
"Kau yang memulai, maka rasakan ini!" Mahesh dengan segera melayangkan pukulannya pada pria bertopeng itu, sayangnya berhasil dihindari. Saat melihat pukulannya meleset, dengan cepat ia mencoba menendang, tapi dengan satu kaki pria bertopeng itu berhasil membuat ia tumbang dan dilanjutkan dengan tendangan yang satunya.
"Aghhhh! Si'al! Bagaimana bisa? Ilmu bela dirinya ...."
"Mau coba lagi?" Terlihat senyum di wajah bertopeng itu.
"Kau! Rasakan ini!" Mahesh yang tersulut emosi langsung melayangkan pukulan kembali tapi lagi-lagi gagal. Merasakan ketidak menangan, saat pria itu lengah melihat Sashi yang meringis ia melayangkan batu ke kepala pria itu dan benar saja ia sedikit kehilangan keseimbangan tapi tangannya tetap merengkuh erat tubuh itu.
"Aghhhh!" Melihat kesempatan, ia kembali melayangkan pukulan, tapi sayangnya saat itu terlihat beberapa sosok yang menghampiri yang dipastikan berasal dari pihak pria bertopeng itu.
"Bang*sat! Aku harus segera pergi!"
"Tangkap dia!" Terdengar suara tegas dari pria yang melihat ada luka di kepala Tuannya.
"Tidak apa! Aku ...." Ucapannya terhenti saat matanya mengunci wajah Sashi yang membuat jantungnya berdetak dengan kencang dan membuat ia meringis.
"Auww."
"Tuan, lepaskan dia. Biar saya saja." Dengan segera tubuh Sashi berpindah tangan tapi tiba-tiba sebuah panggilan membuat semuanya menoleh.
__ADS_1
"Tania!" Tampak wajah itu penuh dengan kecemasan, dan saat melihat sosok yang ia cari berada di hadapannya dengan sekumpulan orang. Ia dengan cepat mengambil Sashi dari sana.
"Kau bukannya?"
"Tania, apa yang terjadi dengannya?"
"Dia hampir saja dibawa oleh pria asing! Tidak bisa kau jaga dia? Jika tidak maka tinggalkan saja!" Semua orang tersentak saat melihat ucapan pria bertopeng itu yang terlihat marah sambil memegangi dadanya.
"Maaf, aku berterima kasih padamu. Tapi lebih baik kau tidak bicara yang aneh-aneh, jika kau tidak tau kejadiannya." Lucas tentu tidak terima dengan ucapan pria yang bahkan tidak ia ketahui rupanya itu.
"Hah, hah"
"Tuan, sebaiknya kita segera masuk. Sepertinya anda kambuh lagi. Sudah ada dia, sekarang tidak perlu dicemaskan." Dengan segera ia membantu kepergian Tuannya yang sudah terlihat memucat dengan sesak di dadanya. Sedangkan Lucas diam memandangi semuanya, ia menatap Sashi sejenak yang terlihat ada luka memar di keningnya.
"Maaf, aku hampir saja. Pantas saja Max menangis, ia merasakan Mommy nya dalam bahaya." Pada saat pencarian, ia mendapatkan panggilan dari Max dan saat itu ia memang tidak menemukan Sashi di toilet, dengan tenang ia mengatakan kepada Max kalau mereka akan segera pulang. Sehingga membuat tangisan itu perlahan mereda, setelah panggilan terputus ia mendengar teriakkan dan percakapan dari beberapa orang yang tengah berlari menuju pintu keluar belakang dan dengan segera ia mengikutinya meskipun kehilangan jejak karena sekolompok itu terlalu cepat. Dan benar saja ia menemukan Sashi di sana dengan tidak sadarkan diri di pelukan pria bertopeng itu.
Di tengah kesunyian tempat itu, ia segera membawa Sashi ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah. "Aku harap Max tidur, agar aku baru mengobati Sashi." Ujarnya sambil menyentuh kening Sashi.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️❤️
Terima kasih banyak