
Kedua orang itu saling terdiam satu sama lain. Tidak ada pembicaraan semuanya sibuk dengan pemikiran masing-masing. Sashi yang kebingungan dengan cerita putranya dan benda yang diberikan kepadanya. Sedangkan Ari yang galau untuk mengatakan rahasia itu atau tidak.
"Mbak ...."
"Ari ...." Keduanya ingin berbicara.
"Kau saja Ari." Sashi mengambil gelas yang berisi air disebelahnya untuk menghilangkan kegelisahan.
"Mbak, aku rasa mungkin hanya orang yang mirip saja. Lagipula Max masih kecil, ia mungkin hanya salah lihat."
"Lalu bagaimana dengan benda ini?" tanya Sashi membuat Ari terdiam sejenak.
"Mungkin itu hanya kebetulan Mbak, bukankah kalian membelinya di sebuah toko perhiasan. Siapa yang bisa memilikinya, itu tidak bisa dijadikan patokan, dan kita juga harus berhati-hati."
"Entahlah Ari, aku merasa bingung. Aku tidak ingin mematahkan semangat Max dalam bercerita mengenai sosok itu. Dan tidak mungkin juga perasaannya salah. Atau memang keinginannya yang membuat ia merasa itu adalah mas Malik."
"Tapi satu hal yang pasti, aku berharap jika mungkin. Sayangnya tidak, bukan begitu Ari?"
"Iya Mbak. Mbak mobil jemputan sudah tiba, ayo kita turun. Aku akan menggendong Max."
"Baiklah." Sashi mengikuti langkah Ari yang membawa Max di gendongannya. Si kecil tampan itu tertidur dengan pulas. Hingga saat diletakkan di dalam mobil, mata bulat itu tak terganggu sedikitpun.
__ADS_1
"Terima kasih Ari."
"Sama-sama Mbak, hati-hati."
"Kau juga." Setelah itu wanita cantik itu langsung masuk ke mobil dan kendaraan roda empat itu menghilang bersamaan dengan angin yang berhembus kencang.
"Seperti akan terjadi badai. Cuaca memang tidak bisa diprediksi. Ngomong-ngomong kapan aku harus mengatakannya?"
Sashi memeluk dan sesekali mencium kening putranya yang masih tertidur pulas di pelukannya. Cuaca terlihat mendung dan gelap dibalik kaca mobilnya. "Sepertinya akan ada badai."
"Iya Nyonya, karena itu kita harus pulang cepat." Jawab sang supir.
"Hmmm, benar. Akan sangat berbahaya sekali." Dan benar saja, tak lama rintikan air hujan mulai turun membasahi tanah dan beberapa orang yang berlalu lalang segera mencari tempat berteduh.
Hari itu, langit yang cerah secerah hati kedua insan itu. Tampak sang wanita sangat cantik dengan dress miliknya dan topi yang menghiasi kepalanya dari sinar matahari. Dan disebelahnya pria tampan dengan jeans dan kaos yang membuat penampilannya memukau. Pasangan itu menjadi perhatian beberapa orang dengan pesona mereka, di jalan yang dihiasi oleh pohon dan beberapa bunga yang berjatuhan menambah kesan romantis di sana.
"Hari ini, kita akan jalan-jalan di pasar tradisional."
"Aku tidak sabar rasanya, pasti menyenangkan."
"Tentu saja, aku sengaja mencari tempat ini untuk wanita cantik milikku." Sashi tersenyum senang sambil mengeratkan genggaman tangan pada Malik. Hari ini merupakan anniversary mereka yang ke empat, dan Malik mengajaknya pergi ke pasar tradisional yang buka di bulan tertentu.
__ADS_1
Setiap kedai mereka lewati dan mereka belanja beberapa barang di sana. Malik sangat senang dengan reaksi Sashi yang selalu menghargai apa yang ia lakukan dan ia berikan. Hingga saat makan siang, netra Malik menangkap sebuah toko yang antik dan unik dan langsung menyeret tangan wanita cantik itu membuatnya terkejut.
"Aaaaaa!"
Bersambung...
Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️😘
Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author cerita nya seru lho!
BLURB:
Kejadian tragis yang dialami Brian beberapa tahun lalu yang menyebabkan ia kehilangan istri, membuat pria itu menjadi bersikap lebih dingin pada setiap wanita.
Bagi Brian tidak ada wanita yang bisa menggantikan posisi mendiang istri dihatinya.
Hingga akhirnya Brian bertemu dengan Hana, gadis desa yang cantik dan mandiri.
Apakah Hana akhirnya dapat meluluhkan hati Brian?
__ADS_1
Mari ikuti kisahnya..