
Sashi duduk santai sambil menemani putranya yang tengah belajar dengan bukunya, ada buku mewarnai dan juga buku cerita. Terlihat Max sangat antusias melayangkan pensil dan krayonnya di kertas gambar dan putih itu.
"Mommy." Panggil Max membuat Sashi menoleh ke arah putranya.
"Ya Sayang Mommy." Sashi menunduk mendekati putranya yang terlihat tangannya menunjuk buku gambar.
"Daddy!" Max berujar sambil menunjuk gambar yang terdiri dari tiga orang, di mana ada sepasang pria dan wanita dan ditengahnya mereka anak kecil yang merupakan sebuah keluarga.
"Daddy!" Max kembali berujar dan menunjuk gambar serta menunjuk bingkai foto Malik yang terpampang di dinding.
"Iya, itu Daddy. Ada Mommy, Daddy dan Max." Sashi memeluk putranya sambil meneteskan air matanya. Max yang seolah mengerti kesedihan Mommy nya langsung memeluk tubuh itu.
"Mommy don't cry" tangan lembut itu menyentuh pipi Sashi dan menghapus air matanya.
"Putraku tersayang." Sashi mendekap erat tubuh kecil putranya dan menciumi rambut hitam seperti Malik.
Adegan haru itu terhenti saat kedatangan sosok yang berlari dengan kencang sambil membawa tas di punggungnya. "Adik!" Sontak saja membuat Max langsung melepaskan pelukannya dan berlari dengan langkah kecilnya menuju sosok itu.
"Sayang hati-hati!" Sashi merasa gemas dengan putranya itu yang selalu saja begitu apalagi dengan kedatangan sosok itu.
__ADS_1
"Kakak Hans!" Max tersenyum bahagia melihat kedatangan Hans dengan senyumnya.
"Adik, lihat kakak bawa apa?" Max terlihat antusias sekali dengan ucapan Hans, dan tak lama terlihat Hans mengeluarkan sesuatu dari balik seragamnya.
"Wah! Velvet!" Max langsung mengambil dengan senang sepotong kue ya dibawa Hans.
"Enak?" tanya Hans dan Max hanya mengangguk dengan mulutnya yang penuh dengan kue. Sashi yang melihat tingkah keduanya tersenyum.
"Bilang apa sayang?" tanya Sashi pada putranya.
"Terima kasih Kaka!"
"Hans kemari dengan siapa? tanya Sashi membuat Hans menghentikan kegiatannya bersama Max.
"Dengan Ayah," balas Hans sambil menunjuk ke arah pintu, dan tak lama kemudian terlihat sosok pria dengan pakaian kantor dengan membawa ponselnya.
"Selamat siang Mbak." Sapa Hans.
"Selamat siang juga Hans."
__ADS_1
"Arman, tolong buatkan minuman ya." Sashi berujar kepada salah satu pelayannya
"Baik Nya." Tak lama pelayan itu langsung pergi menuju dapur.
"Alya tidak ikut?" tanya Sashi sambil memperhatikan putranya yang bermain dengan Hans.
"Ada keperluan Mbak, seperti biasa. Sebentar lagi akan pulang sebelum sore. Karena kejadian itu membuat dia menjadi lebih posesif dan ketakutan.
"Iya, aku rasa kita harus selalu hati-hati."
"Benar Mbak." Baik Sashi maupun Ari melihat ke arah Hans dan Max yang tengah bermain bersama, mata mereka melihat keduanya dengan kebahagiaan tapi pikiran mereka menerawang saat kejadian itu.
Bersambung....
Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️
Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author cerita nya seru lho!
__ADS_1
Seorang siswa SMA yang punya penyakit terbelakang mental bernama Soejono alias Jono hidup dengan kemiskinan yang terpaksa harus mencari nafkah untuk keluarganya dengan cara yang haram, sebagai pengedar narkoba untuk membeli obat untuk ibundanya yang sakit-sakitan, disamping itu ayahnya juga sudah lama wafat dan dia adalah anak pertama dari 4 bersaudara yang keseluruhannya juga terbelakang mental, Tak hanya itu dia juga harus dibully teman-temannya di sekolah, Alex Felixius si ketua geng di kelas XII Bahasa anak seorang pegawai Freeport yang kaya raya, dia selalu pamer dengan orang-orang di sekitarnya, dia musuh bebuyutan Jono dan dikenal sebagai trouble maker di setiap tempat, untungnya ada wanita cantik jelita bernama Salma yang tak tega melihat pengorbanannya, dan Salma pun akhirnya jatuh hati padanya