
Hening, tidak ada lagi percakapan apapun di ruangan itu. Terlihat mata itu menerawang ke atas dan sesekali ia menghela napasnya dengan panjang. "Jadi, seperti ada sesuatu yang disembunyikan di dalam kecelakaan suamiku."
"Iya Mbak, tapi anehnya tidak ada sesuatu yang dapat mendukung fakta itu. Seolah ada pihak yang menutupinya. Maaf Mbak, aku tidak mengatakannya saat itu karena aku tidak tega menambah beban pikiran untuk Mbak saat itu. Aku sudah mencoba mencari sesuatu di sana, tapi tetap saja tidak ada yang bisa kutemukan."
"Mas Malik tidak punya musuh, selain mereka. Apa kau memikirkan orang lain?" Ari terlihat diam sesaat sebelum menjawab pertanyaan itu.
"Tidak Mbak, selain ...." Ari menjeda perkataannya membuat Sashi bertanya.
"Selain apa? Apa ada masalah di sana? Ada orang yang aneh?"
'Aku tidak mungkin mengatakannya, itu bisa saja menambah masalah. Lagipula itu baru kemungkinan saja. Aku tidak pernah dapat menemukan dirinya lagi setelah itu, dia termasuk orang yang berkuasa.'
"Ari? Katakan saja, jangan sembunyikan apapun lagi!"
"Aku hanya berasumsi Mbak. Ada salah satu klien yang aku curigai. Mungkin mas Malik sudah mengatakannya."
"Maksudmu pria paruh baya itu?"
"Benar Mbak. Tapi masalahnya jika benar, apa motifnya? Dia juga tidak pernah aku lihat lagi setelah kejadian itu. Lagipula mereka baru bertemu, meskipun sikapnya cukup aneh saat bertemu dengan Mas Malik."
"Apa perusahaannya?"
"R. Company, mereka bergerak di berbagai bidang dan perusahaannya memiliki banyak cabang. Hanya itu yang ku ketahui, dia juga bilang memiliki seorang putra. Masalahnya adalah selain kerjasama tidak ada lagi yang dapat diketahui karena semuanya tertutup rapat Mbak."
"Apa kita masih berkerja sama dengan mereka?"
"Tidak Mbak, terakhir setelah kelahiran Max. Mereka tidak mengambil apapun atau menutut sesuatu dari perusahaan kita. Dan proyek yang waktu itu terhenti karena kematian Mas Malik."
__ADS_1
"Aneh sekali. R. Company?"
"Mbak, apa ...."
"Aku tidak sebodoh itu, aku akan mulai mencari tau dan membuka kembali apa yang terjadi sebenarnya. Kematian suamiku meninggalkan sejuta misteri di dalamnya, masalah begitu banyak. Aku baru saja belajar untuk melindungi diriku dan putraku, semakin besar umurnya semakin banyak kemungkinan yang akan terjadi nanti. Akan begitu banyak yang harus aku lakukan dan antisipasi. Perlahan semuanya akan terungkap, aku hanya perlu menemukan benang merahnya."
"Baik Mbak."
"Ari, lakukan kembali dengan perlahan. Cari orang yang bisa menemukan sesuatu di rumah sakit itu dan hal yang mencurigakan."
"Baik Mbak." Setelah kepergian Ari, netra coklat itu menatap putranya yang tengah tertidur pulas.
"Mommy akan mencari sesuatu dibalik kematian Daddy mu Sayang. Kita akan menghadapi banyak hal bersama dan akan sulit, tapi Mommy berjanji tidak akan mengijinkan apapun yang membuat mu terluka meskipun nyawa Mommy taruhannya."
Waktu terus berjalan dan musim berganti. Terlihat sosok tampan dengan lincahnya datang sambil berlari dengan semangatnya. Senyum itu bagaikan matahari di rumah besar itu dan tawanya seperti nada indah yang mengalun dan mengisi rumah itu.
"Mommy!" Senyuman manis itu terkembang dengan tangan yang membawa sesuatu yang berkilau.
"Senang sekali Mommy, begitu banyak teman. Mereka sangat baik dan guru di sana juga menyenangkan."
"Maaf ya, Mommy terlambat tapi sepertinya Paman Ari tidak lupa menjemput mu." Sashi menatap sosok dibelakang putranya.
"Tidak apa, aku tahu Mommy pasti lelah. Bukankah ada rapat besar hari ini?" Sashi mencubit kecil hidung mancung putranya membuat putranya itu terkekeh geli.
"Apa Paman Ari yang mengatakannya?" Wajah itu tersenyum membuat hati Sashi bahagia. Wajah itu sangat persis seperti suaminya.
"Iya, aku senang memiliki Mommy yang hebat dan dapat mengalahkan orang-orang yang tidak suka dengan Mommy ku ini."
__ADS_1
"Karena putra Mommy juga hebat!"
"Iya, lihat aku membawakan apa untuk Mommy. Tada!" Tangan itu memberikan gelang berhiaskan mutiara yang mengelilinginya
"Aku beli saat pulang di toko antik. Saat itu aku langsung meminta Paman berhenti dan pergi ke sana. Apa Mommy suka?"
"Suka, ini indah sekali. Mommy tidak ulang tahun dan tidak ada perayaan apapun, jadi apa ada sesuatu?"
"Tidak, tapi bagiku setiap hari adalah istimewa. Karena Mommy adalah segalanya untukku, apapun yang terjadi, itu merupakan hal yang istimewa apalagi bersama Mommy. Aku sayang Mommy." Max langsung memeluk tubuh Sashi dengan erat.
"Mommy sayang padamu. Sangat, kau adalah matahari Mommy dan penyemangat hidup Mommy." Sashi mencium rambut dan kening putranya dengan senang dan penuh kasih. Putranya sudah tumbuh dengan baik.
"Aku lapar Mommy."
"Mommy sudah memasak makanan kesukaan mu. Ayo kita makan, dan Ari ayo bergabung."
"Iya Mbak." Sepanjang makan Sashi melihat lahapnya putranya itu saat makan. Tiba-tiba gerakan tangannya saat mengambil nasi terhenti karena tangan putranya.
"Iya sayang?"
"Mommy, aku lupa memasangkannya. Sini, aku pasangkan. Saat aku besar nanti, aku akan berikan gelang berhiaskan mutiara dan khusus untuk Mommy. Aku akan membuat Mommy bahagia selalu dan bangga akan aku." Meskipun sedikit kesulitan, akhirnya Max berhasil memasangkannya di tangan putih Sashi.
"Iya, apapun yang Max berikan. Mommy sangat senang sekali. Tidak perlu mahal asal ...."
"Penuh cinta di dalamnya." Sashi tersenyum hangat mendengar nya. Itu seperti perkataan Malik saat menerima dan memberi sesuatu kepada dirinya.
"Perkataan, tingkah lakunya serta wajahnya persis seperti mu Mas." Sashi dengan mata berkaca-kaca melihat pigura suaminya yang terpajang rapi di dinding rumahnya.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️