
Rasa penasaran semua orang kembali teruji saat wajah dari pria itu tertutupi oleh topeng di wajahnya, hanya setengah wajahnya saja yang dapat dilihat sedangkan bagian atas tertutupi selain manik coklat matanya. Sashi yang melihat itu pun hanya menggelengkan kepalanya. "Dasar, jika seperti ini. Untuk apa juga diperlihatkan." Ucapan Sashi membuat Lucas menoleh ke arahnya.
"Aku pikir kau tidak se excited itu ternyata sama saja dengan yang lain."
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya saja. Jika seperti itu sama saja bohong, kasihan sekali mereka yang terhempas karena topeng itu." Sebelum Lucas melanjutkan ucapannya, terdengar suara MC yang mengatakan akan ada pesta dansa sebagai pemeriah dari pesta ini.
"Mau berdansa denganku?" Sashi mengamati Lucas yang mengajak dirinya, sedangkan semua orang sudah mulai berdansa dengan pasangan mereka.
"Baiklah, anggap saja sebagai reunian dan tumpangan nya." Sashi memberikan tangannya pada Lucas, dan pria itu menyambutnya dengan baik.
'Mungkin dengan ini, aku bisa melihat semua orang dan mungkin bertemu dengannya.'
"Sebuah keberuntungan." Lucas mulai meletakkan tangannya di pinggang Sashi dan tangan wanita itu salah satunya berada di bahu Lucas. Mereka berdansa dengan anggun bersama tamu undangan yang lain. Sedangkan sorotan mata dari Mahesh tak lepas dari itu.
"Si*al!"
"Ayolah Mahesh. Ingat kataku tadi."
"Diam!" Mahesh mencengkram gelas wine di tangannya.
Lain lagi dengan sosok yang tengah duduk di atas melebihi tamu undangan, yang merupakan putra pewaris Strike Company yang misterius. Dengan didampingi oleh pria kepercayaannya ia melihat orang-orang yang merupakan tamu undangan di pestanya. Beberapa kali mata itu melirik hingga terhenti pada sebuah pasangan.
'Ada apa dengan jantungku? Kenapa berdetak kencang sekali?' Manik mata itu terus memperhatikan pasangan itu membuat pria kepercayaannya menyadari hal itu.
"Tuan Muda. Apa anda butuh sesuatu?'
"Siapa wanita itu? Dan pria disebelahnya!" Wanita itu bernama Sashitania Darmanendra berasal dari MDS company ia sudah menikah dan ...."
"Cukup! Itu saja."
"Baik Tuan." Meskipun bibirnya mengucapkan kata cukup tapi matanya seolah berkata lain. Seiring jantungnya yang berdetak kencang matanya tak berkedip melihat wajah cantik itu.
'Ada apa denganku?' Ia memalingkan wajahnya dan itu membuat degupan jantungnya tidak sekencang tadi.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, kapan ia akan sampai? Kau tahu kan? Aku tidak suka pesta seperti ini."
"Ia Tuan Muda. Sekitar lima belas menit lagi."
"Lama sekali. Aku benar-benar tidak suka!" tanpa disadari ia kembali mencari sosok Sashi yang sedang berdansa tapi matanya langsung mencari karena sosok itu menghilang dari sana.
'Kemana dia?' Ia terus celingak-celinguk mencari membuat pria kepercayaannya merasa tidak beres.
"Tuan Muda, anda butuh sesuatu?"
"Ia, aku ingin ke toilet!" Dengan segera ia bangkit dan melangkah meninggalkan tempat duduknya. Sedangkan Pria disampingnya mengiringi langkah kakinya.
"Kau mau apa?" Tanyanya saat melihat pria itu mengikuti dirinya.
"Maaf Tuan, saya ingin mendampingi Anda, apapun dan kemanapun."
"Kau ingin melihat ku buang air? Atau telanjang di dalam? Kau ikut juga? Lagipula aku tidak akan kenapa-kenapa! Aku baik-baik saja! Tidak perlu berpikir hal yang telah terjadi! Sekarang tunggu di sini!" Tanpa mendengarkan penjelasan dari pria itu ia segera melangkah pergi menuju toilet.
Sedangkan tak jauh dari sana, wanita cantik itu terlihat kesal dan menggerutu karena gaunnya basah terkena minuman saat dansa tadi. "Astaga, inilah yang aku malaskan saat seperti ini! Semua orang tiba-tiba saling menabrak dan kehilangan penglihatan mereka!" Sashi berujar sambil berkaca serta tangannya membersikan gaunnya. Merasa sudah selesai, ia segera beranjak keluar dan baru saja ia membuka pintu itu, tangan kekar seseorang menariknya hingga ia terbentur di dinding.
"Apa kabar kakak ipar?" Mata Sashi langsing mendelik saat melihat sosok dihadapannya saat ini.
"Mahesh!"
"Iya, lama tidak bertemu. Kau semakin cantik dan seksi saja Kakak ipar. Bagaimana kalau kita menghabiskan waktu sejenak, aku yakin tubuhmu ini haus akan belaian." Ucapan itu disertai dengan tangan miliknya yang menyapu lengan Sashi dan saat mencapai wajah cantik itu. Sashi dengan segera melayangkan tinjunya membuat pria itu terdorong.
"Wah ilmu bela diri mu semakin bagus saja. Tapi sepertinya kau lupa sesuatu."
"Aghhhh!" Sashi merasakan pening di kepalanya saat merasakan ada pukulan di kepalanya.
"Yaitu, pastikan berapa musuh yang kau hadapi." Mahesh tersenyum saat melihat Sashi mulai kehilangan keseimbangan dan dengan cepat Mahesh menarik wanita itu kedalam pelukannya.
"Terima kasih brother!"
__ADS_1
"Cepatlah! Atau Lucas akan datang."
"Tentu, aku juga tidak sabar untuk ini." Mahesh mencengkram pinggang Sashi dengan erat dan menciumi rambut wangi wanita itu. Sashi yang masih memiliki kesadaran ia mencoba memukul pria itu tapi mungkin tidak sebanding dan beberapa kali melesat karena kepalanya yang dipukul.
"Bre*ngsek! Lepaskan aku!"
"Dia benar-benar macan!" Sahut pria dibelakang Mahesh.
"Iya dan aku akan segera menaklukannya!" Mahesh mulai membawa Sashi ke lorong di mana arah pintu keluar tanpa diketahui oleh siapapun.
Di pesta, wajah pria tampan itu mulai celingak-celinguk ke arah toilet untuk melihat Sashi yang berada di sana. "Kenapa lama sekali? Apa terjadi sesuatu?" Perasaan khawatir mulai merasuki pikiran nya dan dengan segera ia berlari menuju toilet.
"Simpan tenaga mu itu sayang. Karena akan lebih baik untuk pertempuran kita nanti." Mahesh terkekeh saat merasakan pukulan Sashi yang meleset.
"Lepaskan aku!!!" Dengan sekuat tenaga dan mengumpulkan kesadarannya Sashi mencoba memberontak dan kakinya tanpa sadar mengenai sesuatu.
Prang! Prang! Prang!
"Si*al! Kau benar-benar liar, maka jangan salahkan aku jika akan membuatmu tertidur!" Dalam sekali pukulan membuat Sashi tak sadarkan diri dan dengan cepat Mahesh menuju pintu keluar karena bunyi yang disebabkan Sashi terdengar dengan keras.
"Mommy!" Sosok kecil itu terbangun dari tidurnya dan membuat sang wanita tua di sebelahnya terbangun.
"Max, ada apa sayang?"
"Mommy sudah pulang?" Tanyanya dengan keringat membanjiri wajahnya.
"Sebentar lagi, bukankah Mommy sudah janji?"
"Aku mau Mommy! Ada orang jahat yang membawanya!" Suara itu mulai terdengar bergetar menahan tangis.
Bersambung ......
Kira-kira apa yang terjadi berikutnya?
__ADS_1
Terus ikuti ya, jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️
Terima kasih banyak