
Mata tajam itu tak berhenti menatap wanita hamil di hadapannya. Sedangkan Sashi tidak begitu memperdulikannya, ia lebih fokus pada dokumen dan presentasi kerja sama mereka.
"Jadi bagaimana Tuan Lucas?" tanya Ari pada pria berperawakan tinggi berkulit putih yang mempunyai mata tajam seperti elang.
"Saya setuju dan untuk presentasinya sangat mudah dimengerti."
"Menurut Nyonya Sashi sendiri bagaimana?" Sashi langsung membenarkan posisi duduknya karena merasa pegal.
"Saya tidak masalah dan setuju."
"Kalau begitu kerja sama kita dimulai, saya senang di sambut baik di sini." Lucas langsung berdiri dan menjabat tangan Sashi. Sashi yang profesional langsung mengulurkan tangannya.
'Lembut sekali'
Saat mereka sedang menahan yang lainnya, OB datang dengan membawakan minuman dan makanan untuk mereka.
"Silahkan dinikmati Tuan Lucas," ujar Ari dengan ramah.
"Terima kasih." Lucas mengambil sebuah kue coklat dan memakannya, sambil melirik Sashi yang sedang menikmati makanannya.
"Bagaimana Tuan Lucas?" tanya Ari
'Manis sekali, seperti dia'
"Tuan?"
"Ah, ya kuenya enak sekali."
"Oh ya, kalau Tuan Lucas tidak keberatan, boleh saya tanya sesuatu?" pertanyaan yang terlontar dari bibir kecil itu membuat Lucas tersenyum kecil sambil mengangguk.
"Tanyakan saja, supaya tidak ada keraguan nantinya."
"Dari yang saya lihat, perusahaan anda ini sangatlah besar dan terkenal. Kenapa tiba-tiba tertarik dengan perusahaan kami? Atau bisa terpikirkan ingin bekerjasama?" Lucas mengakui sepertinya wanita ini selain cantik juga pintar dan waspada terhadap semua kemungkinan.
"Kebetulan saya kemari setelah pulang dari perjalanan bisnis di perusahaan di negara Singapura. Dan karena mendengar negara ini juga memiliki keindahan, kenapa saya tidak mampir dan melihat perusahaan yang mungkin bisa diajak berkerja sama. Dan dari beberapa pilihan saya tertarik dengan perusahaan ini."
"Apa itu sudah menjawab pertanyaan Bu Sashi?"
"Iya, sudah. Saya hanya penasaran saja, dan ini merupakan salah satu kehormatan berkerja sama dan bertemu dengan Anda."
"Kalau begitu saya permisi, sampai jumpa di pertemuan berikutnya." Lucas berdiri dan mulai meningkat ruangan. Saat sampai di pintu, ia berbalik sebentar sambil melihat Sashi membuat wanita itu menatap balik.
"Dan terima kasih atas makanannya, selamat siang." Punggung tegap itu menghilang, namun Sashi terus memandanginya membuat Ari memanggilnya.
"Mbak!"
"Iya? Ada apa?"
"Apa ada masalah?" tanya Ari.
"Tidak, Memangnya kenapa?" tanya balik Sashi.
__ADS_1
"Tidak Mbak, hanya saja jika ada keraguan lagi. Kita bisa mencari tau."
"Tidak perlu, kita akan melihatnya nanti. Dan ya, sudah jam makan siang, mau makan dimana?"
"Kalau Mbak mau makan dimana?"
"Mbak sepertinya pulang saja, tidak adanya pekerjaan lain dulu kan?"
"Tidak Mbak, untuk hari ini sudah selesai. Kalau begitu aku antar ya Mbak."
"Boleh, Badan Mbak rasanya lelah."
"Ya sudah Mbak, mari." Ari mengerti keadaan Sashi, dalam keadaan hamil pastinya sering merasa lelah. Karena ia teringat istrinya Alya tengah hamil dulu dan melahirkan anak pertama mereka.
Dengan segera Ari mengantarkan Sashi pulang, sungguh ia merasa kasihan sekaligus takjub dengan sikap Sashi yang seharusnya dalam keadaan seperti ini ada sosok suami yang menemani dirinya, tapi sayangnya takdir sudah menentukan jalannya.
"Terima kasih Ari. Mau mampir dulu?"
"Tidak usah Mbak, masih ada urusan sedikit di kantor."
"Baiklah, hati-hati ya."
"Iya Mbak."
"Mas Malik aku akan menjaga Mbak Sashi seperti janjiku, dan aku juga akan segera mengungkap misteri dibalik kejadian itu.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Tuan, berapa lama kita akan di sini?"
"Apa maksudmu?"
"Maksudnya, jika Tuan tidak keberatan, saya bisa mengurus urusan di sini."
"Tidak! Aku akan di sini."
"Baik Tuan."
"Oh ya, kau sudah menyelesaikan apa yang ku minta bukan?" tanyanya setelah meminum anggur merah itu dalam tegukan kedua.
"Sudah Tuan, dan saya jamin tidak akan ada yang tau."
"Bagus!"
"Kalau begitu saya permisi Tuan." Pria itu menunduk sambil mundur.
"Hmmmm, ya pergilah!" Setelah pria itu pergi, ia langsung memutar kursinya dan melemparkan sebuah anak panah ke figuran di hadapannya.
"Kena! Aku tidak menyangka kau jauh menarik dari yang kubayangkan, dan tentunya sangat pintar."
"Kita akan sering bertemu dan aku akan selalu mengawasi mu Tania!"
__ADS_1
Sedangkan Sashi masih termenung sambil melihat beberapa dokumen yang ia periksa. Mbok Tin yang datang langsung memanggil lembut Sashi agar tersadar dari lamunannya.
"Nak?"
"Iya Mbok?"
"Ada masalah?"
"Tidak Mbok, hanya ada masalah sedikit saja."
"Kalau ada masalah cerita saja pada Mbok, meskipun Mbok tidak bisa menyelesaikannya setidaknya itu bisa mengurangi beban di pikiran mu."
"Terima kasih Mbok, tapi bukan hal besar."
"Oh ya, bagaimana pertemuannya?"
"Berhasil Mbok, meksipun aku sedikit banyak bertanya pada mereka."
"Baguslah kalau begitu, Mbok yakin Nak Sashi pasti bisa mengembangkan perusahaan."
"Iya Mbok, aku harus bisa, karena itu adalah hal berharga dari Mas Malik."
"Lalu bagaimana dengan desain mu?" Sashi merupakan seorang desainer dan ia sering membuat baju luar biasa dan menjualnya ke orang penting.
"Untuk sementara, aku berhenti dulu Mbok. Nanti kalau sudah memungkinkan aku lanjutkan kembali."
"Oh ya Mbok, kebetulan aku ingin mendesain baju untuk anakku nanti. Tapi terkadang aku merasa cepat lelah." Sashi sudah berpikir untuk mendesain baju bayinya sendiri yang sudah menjadi keinginannya.
"Kalau begitu tidak usah dipaksa dulu, perlahan saja. Lagipula masih ada beberapa bulan lagi."
"Iya Mbok, aku akan berangsur-angsur mengerjakannya."
"Mbok tinggal dulu ya, jika ada apa-apa panggil saja."
"Iya Mbok, terima kasih."
Mbok Tin pergi meninggalkan ruangan Sashi dan wanita hamil itu menghela napasnya sejenak sambil mengelus perutnya. "Mommy yakin akan ada banyak rintangan nanti, tapi kau adalah penguat Mommy. Sehat-sehat di sana ya sayang, dalam beberapa bulan lagi kita akan bertemu dan Mommy tidak sabar melihat dirimu." Diruangan itu Sashi duduk ditemani dengan dokumen terkait dengan perusahaan dan juga rancangan baju putranya.
"Mas Malik aku merindukanmu..."
Bersambung....
Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author cerita nya seru lho!
Roy Xavier, Seorang pria dewasa berusia 36 tahun, yang biasa di panggil sekertaris Roy, Seorang sekertaris sang tuan muda Sean Agipratama, pemilik perusahaan SA Group, dengan parasnya yang tampan dan gagah, Roy tak pernah kekurangan pujian dari para kaum wanita, memiliki sifat yang dingin dan kaku yang tak pernah tersentuh oleh siapapun.
Siapa sangka, jika pria dingin itu malah terpikat oleh wanita yang menjadi rivalnya, Yolanda Jackson. Tapi yang lebih menyakitkan saat ia telah mencintai wanita tomboy itu adalah, ketika wanita yang ia cintai sudah memiliki pria yang ia cintai.
Akankan sekertaris Roy bisa meluluhkan hati wanita yang ia cintai dan bisa mendapatkan wanita itu?
__ADS_1