
Sashi tak melepaskan pandangannya dari sosok itu dengan jantung nya yang bergemuruh. Sedangkan sosok itu duduk dihadapan Sashi dengan pandangan yang sama, tapi ia menajamkan matanya.
"Edgar?" Panggil Sashi membuat Ari menajamkan pendengarannya.
'Mbak, mengenal dia?' Itulah yang ada dipikiran Ari saat ini.
"Bisa kita mulai?" Suara asisten daripada pria itu menyadarkan Sashi dan Ari. Dengan segera, ia menetralisir perasaannya dan segera bersikap seperti biasa.
"Iya, kita mulai." Suasana kembali kondusif dan mereka bicara mengenai kerja sama mereka. Dan beberapa kesepakatan antara kedua perusahaan nantinya.
"Jadi, kita sepakat." Ujar pria itu yang memberikan jabat tangan dan Sashi cukup lama terdiam sebelum akhirnya membalas.
"Sepakat." Balas Sashi dan keduanya saling berjabat.
"Jadi, kalau boleh saya tahu. Dari mana, anda mengetahui saya seorang desainer?" Sebelum menjawab pertanyaan Sashi, pria itu mengangkat tangannya sebagai permintaan keluar dan pria yang merupakan asistennya langsung paham dan matanya melirik Ari yang berada di sebelah Sashi.
"Bisa, ia keluar?"
"Ari." Sashi memberikan gerakan dan tak lama Ari keluar dan meninggalkan kedua orang itu.
"Jadi ...."
"Kenapa jadi formal? Bukankah tadi kau memanggil namaku Nyonya Sashitania?"
"Kau sungguh Edgar?"
"Iya, tapi dari mana kau tau?" Sashi merasa bimbang dengan ucapan dari pria dihadapannya.
"Jujur saja, aku tidak mengingat mu. Karena itu aku penasaran dari mana kau tau? Apakah kita saling mengenal?" Sashi masih saja bungkam, dan tanpa aba-aba, pria itu mendekatkan wajahnya membuat mata itu membola menatap wajah tampan itu.
'Apa dia tidak mengingat ku? Tunggu, bukankah itu sudah lama dan aku ...."
"Nyonya Sashi?"
"Maaf, karena aku melihat kemiripan wajahmu dengan temanku. Dan kebetulan kami sudah tidak bertemu lagi, jadi karena itu aku spontan memanggilmu dengan nama itu. Dan kebetulan namanya juga sama."
"Oh ya? Kalau boleh tau, siapa nama lengkapnya?"
"Edgar Dale!" Jawab Sashi cepat, berharap wajah itu sedikit menjauh karena sungguh detak jantungnya tidak berhenti.
__ADS_1
"Oh, ternyata memang beda. Lagipula ini pertama kalinya aku datang kemari, jadi aku merasa aneh jika orang lain mengenali ku."
"Baiklah, kau belum menjawab pertanyaan ku Tuan Ed ...."
"Allan!"
"Iya, Tuan Allan."
"Itu tidak sulit, kebetulan ada keluarga ku yang pernah mampir ke butik mu atau bertemu dengan mu. Mungkin itu sudah cukup lama dan saat aku ingin mencari seseorang untuk proyek ini, mereka menyarankan nya."
"Hmm, begitu rupanya. Mungkin aku boleh tau, siapa namanya? Mungkin saja aku ingat."
"Mungkin lain kali saja. Tidak masalah bukan Nyonya Sashi? Atau aku harus menjawabnya agar tidak menganggu pikiranmu?"
"Aku ...."
Sedangkan di luar, terlihat Ari merasa gelisah dengan apa yang terjadi di dalam. Pria itu kembali mengingat nama yang disebut oleh Sashi, ia tidak salah dengar. Dengan jelas, Sashi menyebut nama Edgar tadi.
'Edgar.' Aku yakin dengan jelas Mbak Sashi menyebut nama itu tadi.
Seketika ingatannya tertuju pada beberapa tahun yang lalu, tahun yang merupakan pertama kalinya ia bertemu dengan Malik dan menjadi bagian hidup pria itu. Saat itu, Ari yang menggunakan seragam putih biru melihat Malik yang terduduk di bangku rumah yang tepat dibawah pohon rindang. Niat hati ingin menyapa justru ia melihat keguratan di wajah tampan itu.
"Kau sudah pulang?"
"Iya, baru saja. Sepertinya mas ada masalah, apa ungkapan nya ditolak?" Pasalnya Malik mengatakan ia akan menyatakan perasaannya kepada gadis yang merupakan adik kelas di sekolah tetangganya.
"Tidak!" Jawab Malik cepat.
"Lalu? Apa masalahnya?"
"Kau tahu, tadi kami memang sempat bicara, tapi aku dengar dari beberapa temannya ia menyukai sesosok pria yang merupakan teman SMP-nya."
"Itu artinya, mas belum mengutarakannya?" Malik menggeleng cepat membuat Ari lemas karenanya.
"Apa karena sosok itu?"
"Iya, mas jadi ragu." Malik terlihat mengadahkan kepalanya keatas.
"Mas, ucapan itu berasal dari teman sekolahnya atau teman sekolah mas?"
__ADS_1
"Ok, ada dari teman sekolahnya dan juga masih. Tapi, mas melihat ada nama yang tertera di buku diary nya dan sebuah foto tertempel di sana."
"Memang siapa namanya? Apa ia sekolah di sana juga? Atau ada gambar hati yang tergembok di wajahnya?" Malik menggeleng cepat.
"Tidak, tapi fotonya cukup dekat."
"Hahahaha." Malik menatap tajam ke wajah pemilik seragam putih biru itu.
"Apanya yang lucu?'
"Mas, ada apa dengan mas? Bukankah selama ini tidak terlihat pria itu didekatnya? Lagipula saat mas mengajak ia pergi. Toh, dia mau-mau saja, kalau memang ada seseorang dihatinya, tidak mungkin ia seperti itu. Atau untuk lebih jelasnya ungkapan perasaan mas dan kita lihat reaksinya. Bagaimana?"
"Baiklah." Keesokan harinya, Ari langsung berlari cepat dan saat sampai di rumah terlihat wajah tampan itu berseri dan tersenyum tak karuan dengan foto ditangannya.
"Jadi ...."
"Berhasil! Kau benar, itu hanya temannya. Iya memang mengatakan sosok itu cukup spesial dihatinya, tapi aku berjanji akan membuat ia lupa dan hanya aku yang akan mengisi hatinya untuk selama-lamanya."
"Aku turut senang. Jadi katakan padaku siapa nama sosok yang mas curigai itu?"
"Edgar."
Bersambung.....
Maaf untuk tidak update kemarin, dan sebagai gantinya author panjangkan episode kali ini. Tunggu kelanjutannya ya.
Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️❤️❤️
Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author cerita nya seru lho!!!!!
Blurb:
Zidane telah bertunangan dengan Sonya. Namun, dia tak bisa menahan perasaan untuk mencintai orang lain yaitu Alana.
Dia pun menjalin hubungan gelap dengan Alana.
Padahal, Alana hanya menginginkan uang Zidane agar bisa mengubah penampilannya untuk balas dendam terhadap mantan suaminya.
__ADS_1
Bagaimana kisah cinta segitiga yang didasari dendam ini?