
Karena kejadian itu membuat Hans mengalami bekas jahitan di paha kanannya, meskipun nanti akan memudar seiring dengan berjalannya waktu. "Kakak, lihat aku menemukan Daddy dan Mommy!" Max tampak senang memperlihatkan gambar keluarga bahagia itu.
"Wah, bagus sekali. Ini pasti adik kan?" Hans tak kalah antusiasnya dengan Max.
"Iya."
"Oh ya Mbak, ngomong-ngomong aku membawa beberapa dokumen yang harus Mbak tanda tangani." Ari menyerahkan beberapa dokumen yang ia bawa.
"Terima kasih, mulai minggu depan aku akan kembali ke perusahaan. Sudah lama rasanya, aku tidak mungkin terus seperti ini."
"Iya Mbak, itu benar sekali. Oh ya Mbak, aku ingin mengatakan sesuatu ...."
"Mengenai apa?" tanya Sashi sambil membaca dokumen itu. Ari terlihat diam beberapa saat, entah apa yang ia pikirkan.
'Apakah ini saatnya? Mbak Sashi perlu mengetahuinya bukan? Tapi ....'
"Ari?" Panggil Sashi membuat pria itu tersadar.
"Ah iya Mbak?"
"Kau ingin mengatakan apa tadi?"
"Aku ingin mengatakan jika beberapa investor akan datang dan kita bisa membuat pertemuannya."
"Bagus sekali, aku akan datang dan melihatnya."
"Baik Mbak, sayang ayo pulang." Ari mendekati putranya yang tampak bersama dengan Max.
"Kenapa pulang?" Suara imut itu membuat Ari tersenyum.
__ADS_1
"Karena kakak Hans harus belajar, besok ia akan ke sekolah." Tentu saja membuat Max menjadi murung. Mengerti akan pikiran Max membuat Hans mendekati si kecil tampan itu
"Tenang saja, kakak akan datang lagi besok. Kita akan main lagi." Benar saja Max yang awalnya murung langsung kembali ceria.
"Janji?" Max mengelus kelingkingnya dan Hans langsung menyambutnya.
"Janji!" Seketika keduanya tersenyum, dua orang dewasa itu hanya diam memperhatikan interaksi keduanya.
Tak lama Ayah dan anak itu pergi meninggalkan rumah besar itu, tampak Max melambaikan tangannya hingga mobil m
Hans menghilang dari pandangannya. "Dah Kakak!"
"Dah adik!" Sashi merasakan pelukan hangat dari putranya yang mendekap kedua lututnya.
"Ada apa sayang?" Tanya Sashi sambil mengelus rambut putranya.
"Aku sayang Mommy." Kata itu sungguh membuat hati Sashi bahagia mendengarnya.
Keesokan harinya, terlihat Max yang baru saja selesai mandi langsung berlari menuju dapur tempat Mommy nya berada. "Mommy!" Max langsung memeluk kedua lututnya.
"Kenapa berlari?" tanya Sashi sambil menciumi pipi chubby itu membuat sang empu tersenyum.
"Karena aku ingin melihat Mommy memasak."
"Jadi putra Mommy ingin ikut juga ya?" tanya Sashi yang langsung mendapatkan anggukan dari si kecil tampan itu.
"Baiklah, hari ini Mommy memasak sup ayam kesukaan putra Mommy." Sashi mendudukkan putranya di meja yang membuat mata bulat itu dapat melihat kegiatannya. Sesekali Sashi juga membiarkan putranya membantu dirinya, lagipula usia seperti ini merupakan keingintahuan yang begitu besar. Sashi tidak melarang putranya melakukan apapun, asal ada yang menemani si kecil itu.
Beberapa waktu keduanya tampak bercanda tawa sambil memasak sup itu, dari kejauhan terlihat Mbok Tin yang memperhatikan nya. dengan perasaan sendu ia terkadang teringat dengan Malik yang membuat Sashi tertawa seperti itu.
__ADS_1
"Yey, sudah jadi." Sashi bersorak gembira diikuti dengan putranya yang bertepuk tangan melihat hasil masakan mereka. Dengan segera Sashi menyajikan sup itu dibantu oleh Mbok Tin yang tiba-tiba datang dan menyiapkan yang lainnya. "Terima kasih Mbok."
"Terima kasih Nek."
"Sama-sama sayang." Sungguh Mbok Tin merasa gemas dengan kelakuan dan wajah tampan Max yang begitu menggemaskan, apalagi senyumannya.
"Ayo Mbok, kita makan bersama." Ajak Sashi dan mendapat anggukan dari wanita itu.
Ketiganya makan bersama, setelah selesai. Sashi langsung menuju ruangan dimana terlihat beberapa senjata dan alat latihan di sana. Mata itu langsung menangkap sebuah pistol dan dengan segera mengambilnya.
"Bagaimana?" tanyanya pada salah satu Pelayan pria.
"Aman Nyonya, sekarang Nyonya bisa latihan dengan tenang."
"Baguslah, aku tidak sabar melepaskan pelurunya. Kita lihat bagaimana hasilnya." Sashi langsung memfokuskan perhatiannya pada sasaran dihadapannya saat ini. Tangan lentik itu kapan saja akan melepaskan peluru dan mengenai sasaran.
Door! Door! Door!
Terdengar beberapa bunyi tembakan dari peluru yang ia layangkan. "Luar biasa Nyonya." Sahut pria di belakangnya membuat Sashi tersenyum.
"Ini semua berkatmu juga. Aku tidak akan bisa, tanpa bantuan mu."
"Anda terlalu memuji Nyonya. Ini merupakan hasil dari kerja keras anda selama ini."
"Aku akan melakukan apapun dan tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada putraku!" Sashi melakukan berbagai latihan beladiri dan senjata, mengingat nyawanya dan anaknya terancam bahkan siapapun yang dekat dengannya. Sashi sadar semuanya bisa terjadi kapan saja dan siapa yang akan ia mintai bantuan? Tidak mungkin ia selalu berganti dengan Ari dan Alya.
"Mas Malik, aku tidak akan membiarkan keluarga iblis itu menyentuh putra kita."
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️